Ari dan Siti berjalan menuju toko perlengkapan rumah tangga, tetapi mereka tidak tahu bahwa bahaya sedang menanti di sudut jalan. Saat mereka berbelok ke sebuah gang sempit, mereka mendengar teriakan dan suara tembakan. Ari segera menarik adiknya ke belakang tembok untuk bersembunyi. Mereka bertiga berlutut di sana, berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Di ujung gang, mereka melihat sekelompok polisi yang berjuang untuk melawan sekelompok zombie. Tetapi tidak seperti zombie biasa, beberapa di antaranya tampak lebih kuat dan lebih cepat, dengan luka yang lebih serius. Mereka adalah zombie level 2, yang dikenal sebagai varian yang lebih berbahaya.
Salah satu polisi yang bertahan di tengah pertarungan itu adalah seorang perwira wanita berkepala plontos. Dia mengarahkan tembakannya dengan presisi, mencoba menembak kepalan zombie untuk menonaktifkannya. Polisi lainnya berjuang dengan gagang senjata yang mereka temukan, tetapi terlihat terdesak.
Ari berbisik kepada Siti, "Kita harus mencoba membantu mereka, Siti. Mereka adalah peluang terbaik kita untuk mendapatkan perlindungan dan senjata."
Siti mengangguk, tetapi dia terlihat sangat takut. Ari memegang tangan adiknya dan berkata, "Aku akan melindungimu, Siti. Tapi kita harus bertindak cepat."
Mereka berdua keluar dari persembunyian mereka dengan hati-hati dan berlari menuju polisi yang berjuang. Saat mereka mendekat, perwira wanita itu melihat mereka dan memberikan isyarat agar mereka tetap berada di belakangnya. Tapi Ari tahu bahwa mereka tidak bisa hanya berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa.
Ari melihat sepotong pipa besi yang tergeletak di tanah. Dia segera mengambilnya dan mendekati salah satu zombie level 2 yang mendekat. Dengan pukulan keras, dia berhasil menghantam kepala zombie tersebut, membuatnya terjatuh.
Siti juga berusaha membantu dengan mencari batu dan melemparkannya ke arah zombie. Meskipun mereka hanya memiliki senjata sederhana, usaha mereka berhasil membuat beberapa zombie terluka.
Polisi yang lain, yang sudah hampir terdesak, melihat bantuan dari Ari dan Siti. Mereka mulai berkolaborasi, bekerja sama untuk mengalahkan zombie-zombie itu. Perwira wanita itu memberikan instruksi kepada mereka tentang cara menembak dengan lebih efisien.
Bersama-sama, mereka berhasil membersihkan gang itu dari zombie-zombie level 2. Polisi yang tersisa nafasnya tersengal-sengal, tetapi mereka terlihat lega.
Perwira wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Ari dan Siti. "Terima kasih atas bantuannya. Kami hampir kewalahan tadi. Siapa kalian?"
Ari menjawab, "Aku Ari, dan ini adikku, Siti. Kami mencoba bertahan hidup di kota ini."
Salah satu polisi yang tersisa memberikan senjata cadangan kepada Ari. "Ini pistol. Aku harap kalian tahu cara menggunakannya."
Ari mengangguk dengan serius. "Kami akan belajar, terima kasih."
Polisi-polisi itu kemudian membantu Ari dan Siti untuk mengumpulkan barang-barang yang diperlukan dari toko perlengkapan rumah tangga, termasuk beberapa perlengkapan medis dan alat pertahanan diri tambahan. Mereka juga memberikan petunjuk tentang daerah-daerah yang sebaiknya dihindari dan tempat-tempat yang mungkin lebih aman untuk berlindung.
Dalam beberapa jam berikutnya, mereka bertiga berkumpul di tempat yang relatif aman, sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan. Mereka menyusun rencana yang lebih matang untuk bertahan hidup dan mencari tempat yang lebih aman di kota ini.
Perwira wanita itu, yang mengenalkan dirinya sebagai Kapten Rina, memberikan mereka beberapa saran berharga tentang cara menghadapi zombie dan kelompok manusia yang mungkin mencari keuntungan dalam situasi ini.
"Ari, Siti, kalian harus tetap berhati-hati," kata Kapten Rina dengan serius. "Ini adalah dunia yang berbahaya sekarang, tetapi kalian tidak sendiri. Kami akan mencoba membantu kalian dan yang lainnya yang masih hidup."
Ari dan Siti merasa terharu oleh bantuan yang mereka terima dari polisi ini. Mereka tahu bahwa perjuangan mereka belum berakhir, tetapi setidaknya sekarang mereka memiliki teman dan perlindungan. Dalam dunia yang telah berubah menjadi mimpi buruk, mereka merasa ada harapan untuk bertahan hidup.
Ari, Siti, dan Kapten Rina telah menjadikan rumah kosong itu sebagai tempat sementara untuk beristirahat. Mereka berbagi informasi dan merencanakan langkah selanjutnya. Kapten Rina menjelaskan bahwa di kota ini terdapat beberapa tempat yang dijaga oleh kelompok yang berusaha bertahan hidup, dan mereka bisa mencari perlindungan di sana.
Namun, ketenangan mereka tiba-tiba terputus ketika mereka mendengar suara gemuruh yang mendekat dari luar. Mereka melihat keluar jendela dan melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada zombie level 2 yang mereka hadapi sebelumnya.
Muncul di sudut jalan adalah monster raksasa berpostur manusia, tetapi tubuhnya hancur dan membusuk. Itu adalah zombie level 4, makhluk yang sangat langka dan sangat berbahaya. Zombie ini memiliki kekuatan dan ketahanan yang luar biasa, serta kemampuan untuk merasakan mangsa mereka dari jarak jauh.
Ari, Siti, dan Kapten Rina merasa ngeri saat mereka menyaksikan kehadiran zombie level 4 itu. Mereka segera menyadari bahwa bertahan melawan monster itu adalah ide yang mustahil. Kapten Rina dengan tenang berbicara kepada mereka, "Kita harus segera melarikan diri. Tidak ada cara kita bisa melawan monster seperti itu."
Mereka keluar dari rumah kosong itu dengan cepat, berlari secepat mungkin sambil mencari tempat persembunyian lain. Suara langkah berat zombie level 4 semakin mendekat, dan itu adalah suara yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Mereka melintasi jalan-jalan kota yang hancur dan menjauhi monster yang mendekati. Ari memandu mereka ke arah tempat yang lebih terpencil, berharap bisa menemukan tempat yang aman.
Namun, monster itu tidak akan menyerah begitu saja. Dalam kejaran, zombie level 4 tersebut terus mendekati mereka, dengan setiap langkah yang semakin dekat. Kapten Rina menarik Ari dan Siti ke sebuah gang sempit yang menuju ke belakang bangunan-bangunan kumuh.
Mereka berlari melewati gang itu, tetapi monster itu tetap mengejar mereka. Ketakutan mendalam memenuhi mata Ari dan Siti, tetapi mereka tahu mereka harus terus berlari untuk hidup mereka.
Saat mereka tiba di ujung gang, mereka mendapati diri mereka di depan lorong mati yang hanya memiliki satu jalan keluar. Mereka terperangkap. Monster zombie level 4 terus mendekati, dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Kapten Rina dengan cepat mengambil keputusan. Dia mengarahkan mereka masuk ke sebuah pintu belakang yang tampaknya menuju ke dalam bangunan. Mereka melompat masuk, dan Kapten Rina menutup pintu dengan cepat.
Mereka berada di dalam bangunan yang gelap dan penuh dengan debu. Mereka terengah-engah dan mencoba menahan napas mereka agar tidak terdengar oleh monster di luar.
Ari dan Siti duduk bersandar di dinding, ketakutan. Mereka bisa mendengar monster itu di luar, mengaum dan merusak pintu yang mencoba mereka jebol. Tetapi pintu itu cukup kuat untuk menahan serangan monster sejenak.
Kapten Rina berlutut di depan mereka dan berbicara dengan cepat, "Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama. Monster itu akan mencari cara masuk. Kita perlu mencari jalan keluar dari bangunan ini."
Mereka berdua mengangguk setuju. Dalam kegelapan yang menyelimuti mereka, mereka merasa ketakutan dan terjebak, tetapi mereka juga merasa perlu untuk bertahan hidup. Dengan hati-hati, mereka mulai menjelajahi bangunan itu, mencari jalan keluar yang aman, sementara monster zombie level 4 tetap mengancam dari luar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yurma Art
cerita nya bagus!
2023-10-02
1
Rakko_
Ceritanya bikin merinding. 👻
2023-09-30
1