Pagi yang dingin dan redup menyambut Ari, Siti, dan Alia saat mereka melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan toko Indomaret yang sudah memberikan perlindungan semalam dan melanjutkan perjalanan di jalanan yang penuh dengan reruntuhan dan kehancuran.
Ketika mereka berjalan, Ari memegang erat tangannya Siti sementara Alia berjalan di sebelah mereka. Mereka telah menjadi seperti keluarga selama perjalanan ini, dan mereka tahu bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan saling mendukung.
Namun, saat mereka menjelajahi daerah yang semakin terpencil, mereka tiba-tiba mendengar suara aneh. Suara itu seperti kicauan anjing yang bercampur dengan teriakan burung. Mereka berhenti dan melihat-lihat, mencoba menentukan sumber suara tersebut.
Tiba-tiba, dari balik tumpukan reruntuhan di dekat mereka, muncullah makhluk yang sangat aneh. Itu adalah monster raksasa yang memiliki tubuh seperti anjing besar dengan bulu hitam dan mata merah menyala. Namun, dari tubuh monster itu juga tumbuh sayap besar yang menyerupai burung elang.
Monster itu berdiri tinggi dan menggeram dengan suara mengerikan. Ari, Siti, dan Alia terperangah oleh penampakan makhluk ini. Ini bukanlah zombie biasa; ini adalah sesuatu yang mereka belum pernah lihat sebelumnya.
Ari segera menyadari bahwa mereka harus bertindak cepat. Dia menatap Siti dan Alia dan memberi isyarat untuk tetap bersama. Dia merencanakan untuk menyerang monster itu dari belakang, berharap bisa memanfaatkan kejutan.
Dengan hati-hati, Ari merunduk dan memulai perjalanan menuju belakang monster itu, berusaha untuk tidak membuat suara apapun yang bisa memperingatkan makhluk tersebut. Namun, semakin dekat dia mendekati monster itu, semakin jelas bagaimana tubuh makhluk itu sangat keras dan kuat.
Ketika Ari hampir sampai pada jarak serangan, dia merasa bahwa sesuatu tidak beres. Monster itu mendengar langkah-langkahnya dan tiba-tiba berbalik, mata merah menyala yang penuh dengan kebencian menatap Ari. Makhluk itu meraung dengan suara yang menggetarkan hati.
Tanpa ragu, monster itu meluncurkan dirinya ke arah Ari dengan kecepatan yang menakutkan. Ari melompat mundur untuk menghindari serangan monster, tetapi makhluk itu terlalu cepat. Kepala monster itu mencoba menggigit Ari, tetapi Ari berhasil menghindar dengan bergerak ke samping.
Monster itu dengan cepat berputar dan kembali menyerang Ari, kali ini dengan cakar-cakar tajam yang panjang. Ari menggunakan senjata yang dia bawa dan mencoba menghentikan serangan monster tersebut, tetapi cakar-cakar itu sangat keras, dan Ari hampir saja terlempar oleh kekuatannya.
Sementara itu, Siti dan Alia menyaksikan aksi mereka dengan ketakutan. Mereka merasa takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Siti mencoba berteriak untuk memanggil bantuan, tetapi suaranya hilang di tengah teriakan monster dan suara pertarungan.
Ari terus berjuang dengan putaran serangan monster ini. Dia mencoba memanfaatkan setiap celah yang dia lihat untuk menghindari cedera serius, tetapi makhluk ini jelas memiliki keunggulan dalam hal kekuatan dan kecepatan. Meskipun dia berjuang keras, Ari tahu bahwa dia tidak akan bisa mengalahkan monster ini sendirian.
Siti dan Alia akhirnya mengumpulkan keberanian mereka dan mencoba mencari senjata yang bisa mereka gunakan untuk membantu Ari. Mereka meraih batu besar dari tumpukan reruntuhan di sekitar mereka dan berusaha melemparkannya ke arah monster.
Meskipun batu-batu itu mungkin tidak sekuat senjata yang Ari bawa, mereka berhasil membingungkan monster itu sebentar. Makhluk itu terkejut oleh serangan mendadak dari arah yang berbeda, memberi Ari kesempatan untuk melarikan diri dari serangan monster yang mematikan.
Siti dan Alia berlari menuju Ari, dan mereka memutuskan untuk melarikan diri dari monster tersebut. Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa mengalahkannya sendirian, dan mereka harus mencari tempat perlindungan atau sekutu yang bisa membantu mereka dalam menghadapi ancaman ini yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Dalam kegelapan yang semakin mendalam, mereka berlari menjauh dari monster yang masih merayakan serangan mereka.
Monster yang menyerupai gabungan anjing dan burung itu terus mengejar Ari, Siti, dan Alia ketika mereka berlari menjauh darinya. Makhluk itu tidak hanya cepat, tetapi juga memiliki daya tahan yang luar biasa. Mereka tahu bahwa mereka harus mencari tempat perlindungan secepat mungkin.
Mereka bergegas menuju gedung-gedung yang masih berdiri di sekitar mereka, berusaha mencari pintu atau jendela yang bisa mereka masuki untuk menyembunyikan diri. Namun, monster itu terus mendekati mereka dengan langkah-langkah besar dan menakutkan.
Dalam keputusasaan, Ari melihat sebuah gerobak sampah yang besar di tepi jalan. Dia menggerakkan gerobak itu dengan susah payah dan mendorongnya ke arah monster. Gerobak sampah itu menabrak monster tersebut, memberi mereka sedikit waktu untuk mencari tempat perlindungan.
Mereka melihat pintu masuk ke gedung kosong di dekat mereka dan langsung meluncur masuk. Mereka bersembunyi di dalam gedung itu, berharap monster itu tidak akan dapat menemukan mereka.
Mereka berdua berdiri diam, mendengarkan langkah-langkah berat monster yang mendekat. Monster itu merayap mendekati pintu masuk gedung, mengintai dengan mata merah menyala. Mereka berusaha menahan nafas mereka dan berharap monster itu akan pergi.
Namun, monster tersebut tiba-tiba mengeluarkan suara mengaum yang mengerikan dan mulai menggedor pintu masuk dengan keras. Pintu itu gemetar dan tergetar oleh serangan monster itu, dan tampaknya tidak akan bertahan lama.
Ari mencari-cari di sekitar mereka mencari apa pun yang bisa digunakan untuk bertahan. Dia melihat tangga darurat yang mengarah ke lantai atas dan memiliki ide. Dia memberi isyarat kepada Siti dan Alia untuk mengikuti dia, dan mereka berlari menuju tangga darurat tersebut.
Mereka naik ke lantai atas gedung itu dengan cepat, berharap bisa menemukan tempat yang lebih aman untuk bersembunyi. Namun, ketika mereka mencapai lantai atas, mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian.
Di sana, di lantai atas gedung yang gelap dan sunyi, mereka menemukan sekelompok orang yang tampaknya juga mencari tempat perlindungan. Orang-orang itu terkejut melihat kedatangan Ari, Siti, dan Alia, tetapi mereka dengan cepat menyadari bahwa mereka berada dalam bahaya yang sama.
Ari berbicara dengan pemimpin kelompok itu, seorang pria paruh baya yang tampaknya memiliki pengalaman dalam bertahan hidup di dunia yang telah berubah ini. Mereka segera merencanakan strategi untuk menghadapi monster yang terus mendekati.
Ketika monster itu akhirnya berhasil mencapai lantai atas gedung tersebut, mereka bersiap-siap untuk pertempuran. Mereka menggunakan senjata-senjata sederhana yang mereka temukan di sekitar mereka, seperti pipa besi dan potongan kayu.
Pertarungan yang sengit terjadi di lantai atas gedung tersebut. Monster yang kuat dan ganas itu tidak akan menyerah begitu saja, dan mereka harus bekerja sama dengan kelompok orang asing ini untuk mengalahkannya.
Dalam pertempuran yang panjang dan melelahkan, mereka akhirnya berhasil mengalahkan monster tersebut. Monster itu meraung dengan suara mengerikan sebelum akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan tak bernyawa.
Mereka semua merasa lega dan bersyukur karena berhasil bertahan hidup. Pertemuan mereka dengan kelompok orang asing ini, meskipun awalnya tidak direncanakan, telah membantu mereka dalam menghadapi ancaman yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
Dalam kegelapan yang menyelimuti gedung tersebut, mereka berbicara dengan orang-orang asing tersebut dan berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi dunia yang telah berubah menjadi tempat yang lebih mengerikan dari yang pernah mereka bayangkan. Meskipun mereka tahu bahwa tantangan yang akan datang mungkin lebih sulit, mereka juga merasa lebih kuat karena mereka telah menemukan sekutu yang dapat diandalkan dalam perjalanan mereka untuk bertahan hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments