DT 20 Harus Sadar Diri

Dibalik Topeng (20)

Dhika kembali dengan mode diamnya saat semuanya mau mendengarkan penjelasan Pak Dirga.

" Saya sudah menjelaskan semua tanpa terkecuali. Saya bukanlah orang yang tamak akan harta. Saya hanya menjalankan amanah dari almarhum." tegas Pak Dirga yang mementalkan tuduhan yang di layangkan padanya.

" Ada lagi yang ingin di sampaikan, Pak?," tanya Dhika

" Tidak. Saya rasa semua sudah saya jelaskan."

Dhika manggut-manggut. " Baiklah, sekarang giliran saya," Dhika menegakkan posisi duduknya. Ia melihat sekelilingnya. Tidak lupa terlihat senyuman yang mengerikan yang Dhika perlihatkan.

Suasana terasa mencekam.

" Ok. Untuk paman Gilang dan Luna..."

Deg

Tubuh ayah dan anak yang di sebutkan namanya itu tiba-tiba menegang.

" Status paman di perusahaan sama seperti karyawan lainnya. Di upah setiap bulannya. Jadi, apa yang paman lakukan memang job yang harus paman kerjakan."

Ucapan Dhika membuat Leo menarik sudut bibirnya. Leo hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap tak sadar diri sang paman.

" Jadi, saya tidak merasa memiliki hutang Budi atas berkembangnya perusahaan hanya karena anda ada di dalamnya. Bukankah, semua karyawan pun ikut dalam perkembangan perusahaan.Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang saat ini datang dan merasa berhak atas perusahaan saat kakek meninggal,"

Skakmat

" Tolong sadar diri dan sadar posisi."

Jlebb

"Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit apapun. Tapi, karena paman dan Luna mengungkit masalah status, maka aku ingatkan bagaimana status kalian." Dhika diam sejenak untuk menarik nafas

Menjelaskan ini sebenarnya tidak ada dalam rencana Dhika. Namun, melihat sikap keluarga pamannya sudah keterlaluan, ia tak bisa tinggal diam.

" Apa paman lupa, kalau berbicara status, kita tak punya hubungan apapun. Kakek hanya memiliki satu anak, yaitu ayahku. Sedangkan, paman Gilang dan Paman Guntur adalah anak dari adik angkat kakek Arya, yang tidak lain Oma Ambar. Jadi, kita tak ada hubungan darah apapun.

Jika berbicara berhak ataupun tidak, paman tak punya hak apapun dari harta yang ada, selain karena asal usul harta, juga karena kita tak ada hubungan darah

Adapun pemberian dari tabungan Kakek Arya, yang merupakan wasiat itulah baru hak kalian.

Jadi, jika paman sadar diri, tolong jangan berusaha mengambil sesuatu yang bukan hak paman," Dhika berdiri karena merasa tak ada yang perlu ia lakukan lagi

" Jika masih tidak terima atas apa yang paman dapatkan, laporkan saja ke pengadilan. Kita lihat siapa yang akan menang dengan bukti yang ada," Dhika memberikan tantangan.

" Pak Dirga, saya undur diri kalau memang sudah tidak ada yang akan di bahas lagi,"

Dhika sedikit membungkukkan badannya, lalu berlalu begitu saja

Risa pun mau tak mau ikut mengikut langkah suaminya setelah memberikan salam kepada semua yang masih da di sana.

" Saya juga permisi. Seperti apa yang di sampaikan Pak Dhika, silahkan ajukan keberatan ke pengadilan."

Di ruangan itu tinggallah dua keluarga. Keluarga Gilang dan keluarga Guntur.

Gilang adalah anak pertama yang beristrikan Miranda dengan anak mereka Luna. Sebenarnya ada satu anak perempuan lagi namun, masih kuliah di luar negeri, namanya Lisa.

Guntur adalah anak kedua sekaligus anak bungsu, yang beristrikan Diana yang memiliki satu orang putra bernama Leo.

Keluarga Gilang lebih berambisi untuk memiliki harta yang dimiliki Dhika berbeda dengan keluarga Guntur yang tak pernah mau ambil pusing.

Walaupun Diana sang istri selalu mengomel karena merasa iri atas apa yang dimiliki Dhika,namun Guntur sebagai kepala keluarga masih bisa mengatasinya.

" Aku sudah mengingatkan kakak, tapi kakak tak mau dengar. Lebih baik bersyukur dengan apa yang kita dapatkan daripada sibuk mengejar yang bukan milik kita," Guntur pergi meninggalkan keluarga sang kakak yang hanya berdecak.

Diana sendiri sedikit bisa tenang karena tidak ikut bersuara tadi. Kalau tidak, ia pasti terkena semprotan Dhika juga.

Untung aku ikut perkataan Mas Guntur. Batin Diana

" Jangan tamak, paman. Ingat kata Dhika, SADAR DIRI," tekan Leo dengan mengeja kata terakhirnya. " Sadar diri itu penting,' tegasnya dengan gayanya yang tengil membuat sebuah bantal sofa melayang tepat ke wajahnya.

" Berisik, Leo," Luna yang berhasil menimpuk sepupunya itu mengepalkan tangannya.

Belum hilang rasa kesalnya pada Dhika, ia harus berhadapan dengan tingkah tengil Leo.

Leo tak marah ia malah tertawa sambil berlari meninggalkan keluarga itu.

" Apa yang harus kita lakukan?," tanya Miranda tak terima dengan bagiannya yang sedikit.

"Kita pikirkan nanti. Lagipula tak mungkin juga menggugat ke pengadilan, kita pasti kalah." De_sah Gilang.

" Kalau cara halus tak bisa, kita gunakan cara kasar," timpal Luna dengan seringai liciknya.

TBC

Terpopuler

Comments

Muh Nur

Muh Nur

hadeeeeeech keluarga gak tau diri

2024-01-07

1

Ai Sri Kurniatu Kurnia

Ai Sri Kurniatu Kurnia

dasar Gilang dan Luna tamak akan harta,,,

2024-01-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!