Dibalik Topeng (3)
"Jadi siapa yang berbohong sebenarnya?," Dhika naik pitam.
" Kak Risa jujurlah." pinta Indira berakting menjadi korban disana.
Farisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia tidak ingin di salahkan lagi.
" Aku memang Farisa Wiguna. Dan dia Indira Wiguna adikku." Ucap Farisa .
" Jadi, benar kamu menyuruhnya berpura-pura untuk menjadi kamu?,'
" Aku tidak pernah menyuruhnya. Dia berpura-pura karena keinginannya sendiri. Dia ingin hidup dengan harta dan gelar yang kalian miliki. Karena itu, dia membuat rencana ini."
" Risa!!,"
" Kak Risa!!,"
Pak Danu dan Indira terkejut akan keberanian Farisa. Farisa biasanya tidak seberani itu.
" Ayah, Dira. Kalian jangan melemparkan kesalahan kepadaku. Aku lelah selalu kalian kambing hitamkan."
" Jadi, Anda sendiri di balik rencana ini Pak Danu?!,"
Pak Danu susah payah menelan salivanya. Ia tidak percaya acara lamaran ini akan menjadi berantakan seperti ini.
Kalau sampai aku tidak mendapatkan sepuluh milyar itu, awas saja kau dasar anak tidak tahu balas budi. Geram Pak Danu di dalam hatinya .
Pak Danu menatap tajam Farisa dan itu tidak luput dari pandangan Dhika dan Kakek Arya.
" Maaf. Tapi, anda tidak perlu khawatir. Risa akan tetap menjadi pengantin wanitanya. Maksud saya, Farisa yang asli." Ralatnya.
Farisa mematung. Sang ayah benar-benar tidak ingin kehilangan kesempatan emas.
" Tapi, saya sudah tidak berminat. Kalian pikir saya orang yang berbaik hati memaafkan orang yang menipu saya begitu saja?," Sinis Dhika.
" Bukan begitu. Tapi..." Pak Danu bingung harus berkata apa lagi.
" Saya akan tetap melanjutkan lamaran ini jika Farisa yang asli mau." Kakek Arya yang diam dari tadi angkat bicara.
Dhika memandang kakeknya. Namun, tidak berani membantah.
" Bagaimana, Farisa apa kamu mau menikah dengan cucu saya ?,"
" Emm ... " Farisa melirik ke arah ayahnya yang memberi kode dengan mengedipkan matanya dan menganggukkan kepalanya, agar mau menerima lamaran ini.
Melihat Farisa yang malah melihat terus ke arah ayahnya, Dhika dan Kakek Arya melihat ke arah Pak Danu juga membuat Pak Danu gelagapan.
" Mata anda kenapa, Pak, Danu?," tanya Dhika
" Oh tidak. Hanya sedikit kelilipan. " Pak Danu kini mulai mengucek matanya. Agar kebohongannya tidak di ketahui yang lainnya.
Kamu harus melakukan apa perintahku karena kamu hanya anak angkat.
Kalau bukan karena keluarga ini, hidupmu pasti menderita.
Jadilah berguna di keluarga ini. Jangan hanya jadi benalu!
Semua kata-kata sang ayah terngiang-ngiang di telinga Farisa. Farisa menghela nafas.
Ia pun sebenarnya lelah. Hidup di tengah keluarga itu tidaklah membuatnya senang. Ia harus mematuhi apapun perintah ayah angkatnya.
Semua di atur bahkan ia hanya boleh kuliah di jurusan manajemen bisnis dan bukan di jurusan seni seperti hobinya.
Keterbatasan uang untuknya pun membuat Farisa akhirnya mencari pekerjaan sampingan.
Kemudian ia melihat ke arah Kakek Arya yang tersenyum padanya. Kakek yang beberapa bulan ini selalu ia temui di tepi danau saat ia sedang melukis.
Flashback on
" Lukisan yang bagus!," puji seorang kakek sambil duduk di samping Farisa.
" Terimakasih."
" Kamu suka melukis?"
" Hobi saya memang melukis, Kek." Farisa menjawab sambil tetap menggoreskan kuasnya di atas kanvas.
" Kamu bisa melukis objek yang lain? Manusia misalnya?,"
" Saya lebih suka melukis alam, kek. Atau bangunan dan lain sebagainya. Kecuali manusia dan hewan."
" Kenapa?,"
" Hanya sedikit menakutkan. Saya merasa lukisan saya hidup jika saya melukisnya." sang kakek pun menganggukkan kepalanya.
" Kakek sengaja datang kesini?,"
" Tempatnya menenangkan."
" Kakek benar. Danau ini memang membuat nyaman. Namun, sayang ini danau milik pribadi. Cepat atau lambat kita tidak bisa menikmatinya." Ada rasa sedih.
" Ah, iya. Ini memang di bangun di tanah pribadi. Kamu sendiri kenapa bisa masuk? Bukankah tidak sembarang orang bisa masuk."
" Saya menyelinap, kek." Farisa menggaruk tengkuknya merasa ketahuan diam-diam masuk kesana. " Oh ya, kakek sendiri?,"
" Kebetulan saya kenal pemilik tempat ini. Kalau kamu mau saya akan memintanya untuk mengizinkan kamu datang ke tempat ini tanpa harus menyelinap."
" Banarkah?,'
" Tentu saja"
" Terimakasih, Kek." Farisa tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja. Mungkin dengan begitu, ia bisa melukis dengan tenang sampai selesai.
Hari itu pun menjadi awal perkenalan bagi Farisa dan Kakek Arya. Mereka mulai sering bertemu di tepi danau dan menjadi akrab.
Farisa yang sudah mulai nyaman pun mulai terbuka tentang kehidupannya. Hingga membuat Kakek Arya merasa iba.
" Percayalah pada kakek. Suatu hari kakek akan membantumu meraih kebahagiaan yang kamu harapkan. Di saat itu tiba, apapun yang kakek lakukan, kamu hanya cukup percaya pada kakek."
Farisa hanya mengiyakan tanpa tahu apa rencana kakek Arya.
Flashback end
Ketika Farisa ingat apa yang pernah kakek Arya sampaikan, Farisa pun mulai yakin tentang keputusan yang harus ia ambil.
" Jadi, bagaimana Farisa?," tanya Kakek Arya penasaran.
Dalam hati, kakek Arya berharap Farisa ingat kata-katanya untuk mempercayai apapun yang akan ia lakukan. Namun, ia khawatir Farisa berubah pikiran saat tahu ia harus menikah dengan Dhika yang berwajah c@cat bahkan bersikeras tidak ingin melakukan operasi pada wajahnya.
Kakek Arya berharap Farisa bisa merubah pendirian sang cucu yang keras kepala itu. Juga bisa mencairkan hatinya yang mulai membeku.
" Baiklah aku setuju."
Jawaban Farisa membuat Kakek Arya lega. Begitupun Pak Danu karena akhirnya bisa mendapatkan uang dengan percuma.
Pada kenyataannya bukanlah percuma, melainkan dengan m3njual masa depan Farisa.
Sedang Indira akhirnya lega karena terbebas dari ancaman sang ayah.
Bu Liliana menggenggam tangan sang anak,merasa iba atas apa yang menimpanya. Namun, ia tak mampu berbuat banyak.
Farisa tersenyum dan membalas genggaman orang yang selama ini telah tulus menyayanginya sekalipun tidak ada hubungan darah di antara keduanya.
" Semua baik-baik,Bu. Ibu tidak perlu khawatir." Farisa menenangkan hati sang ibu.
Dhika sendiri malah termenung. Berpikir tentang alasan apa yang membuat Farisa mau menerimanya. Harta kah atau kedudukan?
" Saya juga punya penawaran menarik untuk anda Pak Danu." Kakek Arya memanggil asistennya yang dari tadi duduk terpisah dengannya.
Asisten Kakek Arya itu pun langsung menghadap dan memberikan sebuah map ke hadapan Kakek Arya.
" Jika kamu bersedia menandatangani ini, saya akan memberikanmu dua puluh milyar rupiah.
Pak Danu tercengang atas apa yang di tawarkan akhirnya, dengan semangat ia meraih map itu. Ternyata, map berisi surat perjanjian.
Pak Danu terdiam.
" Jika saya boleh tahu, kenapa anda sangat menginginkan Farisa?,"
" Saya mengetahui banyak hal tentangnya dan saya tertarik untuk menjadikannya menantuku." Jelas Kakek Arya. " Bagaimana tawaranku?,"
Pak Danu tanpa berpikir langsung menandatangani surat perjanjian itu.
Baginya, Farisa hanyalah alat. Jika dulu ia di jadikan alat untuk memancing kehamilan sang istri, kini ia menjadi alat untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Bu Liliana merasa penasaran. Mengapa suaminya tanpa pikir panjang menandatangani surat perjanjian yang di tawarkan Kakek Farisa.
Karena penasaran, Ia langsung mengambil paksa surat perjanjiannya. Hingga mata Bu Liliana membulat saat tahu poin-poin yang harus di patuhi suaminya jika setuju membubuhkan tanda tangannya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Muh Nur
ceŕitanya menarik
2023-12-05
1