Dibalik Topeng (15)
Makan malam terasa berbeda bagi keluarga Wiguna. Tidak lain karena keberadaan Rosa di tengah-tengah mereka.
Jika Liliana sangat antusias, maka berbeda dengan ayah dan anak yang hanya melihat keakraban keduanya dengan datar.
Danu tak bisa menunjukkan kebenciannya karena tak ingin ada masalah dengan keluarga Ghiandra.
" Ayo Ris, makan yang banyak. Kapan lagi kamu makan masakan ibu," Liliana memasukkan cumi pedas kesukaan Risa ke piringnya.
" Terimakasih, Bi,"
Dira mendengus. Benci saat perhatian ibunya tercurahkan pada kakaknya. Padahal, dia hanya anak angkat.
Ingin protes, ia masih ingat ancaman ayahnya tentang siapa yang ada di belakang kakaknya saat ini.
Dhika sendiri tak berniat bergabung dan ikut makan malam bersama keluarga istrinya. Ia memilih menunggu sampai waktunya menjemput Risa di perusahaan. Padahal, tak ada pekerjaan lagi yang harus ia kerjakan.
" Semua sudah beres?," tanya Liliana yang datang ke kamar Risa.
" Sudah, Bu. Besok aku bawa mobil untuk angkut ini semua. " jelas Risa menunjukkan lukisan juga alat lukis miliknya. Tidak lupa barang-barang lain yang memang miliknya.
Semua ia beli dari uang miliknya. Sayang jika harus berakhir di gudang. Sekalipun ia bisa saja membeli dengan kartu pemberian suaminya, tetap saja ia tak bisa mengabaikan barang yang bernilai sejarah baginya itu.
" Kamu pulang sama siapa?,"
" Mas Dhika nanti jemput sekalian pulang kerja, Ma."
" Kenapa tidak ikut makan malam sekalian?,"
" Katanya masih ada urusan yang harus di selesaikan. Jadi, tidak sempat. Mungkin kapan-kapan."
" Ris, apa suamimu baik?," tanya Liliana.
Risa langsung duduk di samping ibunya di tas ranjang.
" Mas Dhika mungkin tampak dingin. Tapi, dia orangnya baik, Ma. Tidak pernah mwmbantak atau bersikap kasar. Hanya saja ia sekaku es batu," Risa terkekeh saat menjelaskan seperti apa suaminya.
" Itu suamimu loh. Malah tertawa,"
" Soalnya memang begitu, Ma. Tapi, mama tak perlu khawatir, Risa baik-baik saja. Risa tidak bohong."
Liliana bersyukur.
" Semoga kehidupanmu lebih baik. Kalian pun semoga cepat di berikan momongan,"
" Aamiin," Risa ikut mengaminkan walaupun ragu.
Bagaimana bisa hamil, mereka saja belum pernah melakukan hubungan suami istri.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah gedung yang menjulang tinggi, Dhika hanya menatap keluar gedung sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Dhika sebenarnya tak ada pekerjaan lagi. Namun, ia memang sengaja menghindar dari acara makan malam di rumah keluarga Wijaya.
Dhika tidak terlalu suka acara makan seperti itu. Kecuali di rumahnya bersama keluarganya, ia tak pernah makan bersama orang lain di luar.
Tak ingin membuat nafsu makan mereka berkurang dengan keberadaan dirinya.
" Pak Dhika kapan pulang?," tanya Cris yang merupakan asisten kepercayaan kakeknya yang mulai hari itu menjadi asisten pribadinya.
" Jam delapan aku baru pulang. Kamu pulang duluan saja," titah Dhika.
" Tidak, saya menunggu pak Dhika saja." Tolak Cris
" Oh ya, bagaimana dengan hasil pemeriksaan kesehatan Kakek?,'
" Masih sama seperti sebelumnya," jawab Cris
Dhika hanya menganggukkan kepalanya.
Pukul delapan, Dhika langsung keluar dari perusahaan dan melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
" Ma, aku tunggu Mas Dhika di depan saja," sebentar lagi katanya sampai.
" Biar mama temani,'
Liliana menemani Risa ke depan. Indira yang kebetulan akan ke dapur hanya menatapnya sinis.
Tak ingin dikatakan tidak sopan, Dhika menghampiri ibu mertuanya untuk menyapa sebelum mengajak Risa pulang.
" Semoga kamu bahagia, sayang." Liliana berdo'a untuk Risa saat melihat mobil yang ditumpangi oleh anak dan menantunya keluar dari gerbang.
Dhika melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Besok kuliah jam berapa?,' tanya Dhika.
" Besok aku kuliah siang. Ada apa?,'
" Kakek mengajak kita ke suatu tempat."
" Kemana?,'
" Katanya kejutan,"
Keesokan paginya, selepas sarapan, Risa dan Dhika di ajak Kakek Arya ke suatu tempat.
" Kita akan kemana, kek?,"
" Kita akan melihat hadiah dari kakek untukmu,"
" Hadiah lagi?,"
" Tidak boleh menolak," kakek Arya tersenyum karena tahu Risa akan menolaknya.
" Hmm. Baiklah."
Mobil pun berhenti di sebuah tempat yang Risa sering kunjungi.
" Maksud kakek, ini...."
" Mulai sekarang ini milikmu. Sudah atas namamu,"
Risa menutup mulutnya tak percaya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
arum
danau tempat risa melukis
2023-12-26
1
Muh Nur
sehat selalu thor biar bisa up lagi
2023-12-21
0
Greenindya
vila yg biasa dipakai Risa melukis diksh ke dia
2023-12-14
0