DT 16 Tinggal Rencana

Dibalik Topeng (16)

Kakek Arya tersenyum saat melihat wajah terkejut Risa.

" Tanah, beserta bangunannya sudah atas namamu, bahkan danau ini pun," jelas Kakek Arya.

(orang kaya mah bebas ya)

Ia awalnya membangun Vila dengan danau itu sebagai tempatnya untuk menenangkan diri nantinya.

Namun,saat ia bertemu Risa yang kini sudah menjadi cucu menantunya, ia ingin memberikan itu sebagai hadiah pernikahan keduanya.

" Apa ini tidak berlebihan, Kek?," tanya Risa tak enak hati.

Risa melihat ke arah Dhika yang hanya mengangguk sebagai kode agar Risa menerimanya.

" Tidak ada yang berlebihan untuk cucu menantu ku,"

" Terimakasih," Risa memeluk kakek Arya.

" Ayo kita berkeliling. Kamu pasti belum pernah melihat yang lainnya selain danau," Kakek Arya menarik Risa untuk mengikutinya menuju sebuah bangunan yang sangat indah.

Sebuah Vila dengan gaya klasik. Konsepnya unik. Dindingnya perpaduan antara batu dan bambu.

Bagian depannya di tanami aneka bunga bahkan ada ayunan yang terbuat dari pohon jati yang mengarah langsung ke taman bunga yang di tengahnya ada air mancur.

Klek

Kakek Arya mengajak Risa masuk ke dalam Villa. Disana sudah di pajang foto pernikahan mereka.

" Bagaimana, kamu suka?,"

" sangat,"

" Tapi, kenapa harus ada foto kita, kek?," tanya Dhika protes.

Dhika tidak suka memajang Fotonya, karena itu ia pun tak suka saat disana terpajang fotonya.

" Kamu tidak berhak mengatur ulang apapun yang ada disini. Ini milik Risa, dia yang berkuasa."

" Aku suka foto-fotonya," timpal Risa tak peduli Dhika yang berdecak kesal.

Kakek Arya pun menunjukkan satu persatu ruangan hingga akhirnya di lantai atas dimana kamar utama berada.

" Disini pemandangannya bagus," seru Risa saat berada di balkon yang langsung mengarah ke danau.

 " Ayo kita ke samping, disana ada gazebo yang berdampingan dengan kolam ikan."

Kakek Arya melanjutkan untuk mengelilingi vila.

Risa takjub melihat apa yang ada di sekitarnya. Benar-benar tempat yang nyaman untuk memenangkan diri.

" Oh iya, disana akan di bangun arena bermain anak. Tapi, saat anak kalian lahir," jelas Kakek Arya menunjuk ke arah yang di tanami pepohonan.

Risa hanya menggaruk alisnya. Tak bisa berkomentar.

" Malam ini, kita bermalam disini? Bagaimana?," ajak Kakek Arya yang ingin menghabiskan malam ini bersama keduanya dengan pesta barbeque.

" Hanya kita bertiga?,"

" Ya, kalau mengajak yang lain kakek tidak yakin Dhika mau bergabung,"

Risa mengangguk.

" Nanti kita akan di bantu pelayan yang sudah kakek tugaskan untuk membeli semua yang kita perlukan." Jelas Kakek Arya.

Mereka pun pergi untuk melakukan aktivitas masing-masing.

Dhika ke kantor, Risa ke kampus sementara Kakek Arya mengistirahatkan tubuhnya di salah satu kamar. Menunggu malam tiba.

...******...

" Bram, kamu atur ulang jadwalku, aku harus segera ke rumah sakit,"

Bram mengangguk. Tanpa banyak bertanya ia memerintahkan sekertaris yang saat ini ikut mereka agar pulang ke kantor sendiri.

Sementara ia akan menemani Dhika ke rumah sakit.

" Kamu hubungi Risa juga, suruh ia segera menyusul. Katakan Kakek di larikan ke rumah sakit," jelas Dhika singkat.

Bram langsung mengikuti perintah Dhika. Ia kini paham kenapa atasannya itu terlihat kacau.

Di kampus, Risa langsung berlari setelah meminta izin untuk tidak mengikuti kelas yang tersisa.

Perasaannya khawatir mengingat informasi apa yang baru ia dapatkan.

" Semoga kakek baik-baik saja,"

" Ris,bisa bicara sebentar," seorang teman laki-laki datang menghampirinya yang sedang berdiri di depan kampus.

" Maaf, aku sedang terburu-buru."

Hingga akhirnya sebuah mobil berwarna hitam berhenti di hadapannya.

" Aku duluan ya, permisi,"

Risa langsung masuk ke dalam mobil tanpa melihat lagi ke arah temannya.

Dari luar, sang laki-laki hanya menatap kepergian mobil itu dengan nanar. Kalau saja ia tidak cepat bertindak, mungkin ia tidak akan kehilangan Risa.

Kini, Risa bahkan sudah tak bisa ia gapai.

Di rumah sakit, semua tampak gelisah.

" Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun, kami tidak bisa menyelamatkannya...."

Jeduarrr

Dhika mematung dan tidak mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari dokter.

Ia bahkan menerobos masuk ke dalam ruangan untuk memastikan bahwa yang ia dengar adalah salah.

" Kek, ini tidak benar kan?,"

Air mata Dhika luruh. Risa yang ikut masuk ke dalam pun tak bisa menahan kesedihannya Baru sebentar ia merasakan kasih sayang seorang keluarga, kini semua tak bisa ia rasakan lagi.

" Kek, bukankah malam ini kita sudah punya rencana.." gumam Risa

TBC

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

baiknya kakek arya, sblm meninggal dah kasi warisan buat Risa danau beserta villa

2024-03-11

1

Muh Nur

Muh Nur

kakek arya sebelum meniggal sudah meniggalkan asetnya untuk cucu menantunya agat tdak di ganggu gugat sama anak² dan cucunya

2024-01-01

0

Wakhidah Isfahani

Wakhidah Isfahani

innalilahi wainailaihi rojiun, turut berduka cita atas berpulangnya kakek Arya.

2023-12-31

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!