DT 4 Surat Perjanjian

Dibalik Topeng (4)

" Apa yang ada dipikiranmu?," tanya Bu Liliana murka saat tamunya sudah undur diri.

" Kamu menjual anakmu dengan harga dua puluh milyar?," teriak Bu Liliana.

Tak ada lagi tutur kata lembut yang ada hanya caci maki. Pak Danu bahkan sampai terlonjak keget mendengar teriakan sang istri untuk pertama kalinya.

" Dia bukan anakku. Dia .."

" Dia anakku! Dia putriku sekalipun tidak lahir dari rahimku." bentak Bu Liliana.

Farisa yang mendengar ucapan ibunya merasa terharu. Matanya berkaca-kaca. Tak pernah terbayangkan olehnya akan mendapatkan pembelaan sedemikan oleh ibu angkatnya.

Sementara Pak Danu masih membeku tak percaya akan kemarahan istrinya. Begitu pula Indira yang hanya melongo tak percaya. Walau ia tahu ibunya sangat menyayangi kakak angkatnya, namun ini pertama kalinya ibunya bahkan membangkang pada sang ayah hanya karena sang kakak.

" Aku diam selama ini saat kamu membedakan kasih sayangmu dengan alasan dia bukan darah dagingmu.

Aku diam saat kamu memaksanya memilih jurusan kuliah yang kamu inginkan sementara Risa memiliki keinginannya sendiri. Aku juga diam saat kamu membedakannya dari segi finansial. Uang saku yang tak seberapa sehingga membuat putri pertamaku bekerja sampingan." Bu Liliana menarik nafas dalam-dalam.

" Namun, sekarang hanya demi uang kamu menjual anakmu. Kau dengan entengnya menandatangani perjanjian dari orang itu agar melepaskan tanggung jawabmu dan membuat Farisa menjadi milik keluarga itu?,"

Bu Liliana menggelengkan kepalanya tak percaya. Air matanya mengalir deras. "Aku tak percaya telah menikahi laki-laki gi_la harta sepertimu. Ingat! Jika kamu tidak bisa membatalkan perjanjian ini..."

Brakkk

Map berisi perjanjian di lemparkan ke atas meja.

" Aku lebih baik bercerai darimu. Kesabaran ku sudah habis,"

" Tapi, Bu ..."

Bu Liliana menarik Farisa pergi dari sana dan langsung menuju ke kamar Farisa.

" Bu ...."

" Maaf, maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu. Seharusnya ibu setuju saat ayahmu akan mengembalikanmu ke panti asuhan jika akhirnya kamu hanya menderita berada di keluarga ini," Bu Liliana langsung memeluk Farisa sesaat setelah masuk ke dalam kamar dan duduk di kasur.

Kamar tidak lupa di kunci karena tak ingin suaminya merangsek masuk.

Farisa membalas pelukan ibunya. Ikut menangis.

" Tidak. Ibu tidak perlu meminta maaf. Aku justru bersyukur masih ada di keluarga ini. Dengan begitu, aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Bagiku, selama ibu menyayangiku, itu sudah lebih dari cukup. Aku tak masalah tidak di sayang ayah ataupun Dira. Cukup ibu saja." tangis Fahira pecah.

Keduanya larut dalam tangis. Hingga mereka berhenti setelah merasa jauh lebih tenang.

" Bu, jangan sampai bercerai dengan ayah hanya karena aku." pinta Risa.

" Ayahmu sudah keterlaluan."

" Ibu lihat sendiri poin perjanjian itu. Jika ayah membatalkan sepihak setelah menandatanganinya, maka ayah harus membayar dua kali lipat dari uang yang di berikan. Aku rasa ayah tidak akan mau."

Mengingat seperti apa ayah angkatnya itu, tidak mungkin ia mau rugi.

" Berarti, kita memang akan bercerai."

Farisa menghela nafas berat. Ia yang awalnya tidur terlentang kini memiringkan tubuhnya ke arah ibunya.

" Jangan seperti ini, Bu. Kasihan Dira. Dengan bercerai pun, perjanjian itu tetap tidak bisa di batalkan. Aku akan tetap menjadi milik suami dan mertuaku."

Bu Liliana bungkam. Apa yang dikatakan Farisa ada benarnya.

******

Sarapan pagi ini diliputi keheningan. Tak ada senyum sang ibu saat melayani mereka di meja makan.

Ya, Bu Liliana tetap melakukan kewajibannya melayani suaminya namun, tanpa ada sapaan juga senyuman.

Hal itu membuat Pak Danu resah. Ini pertama kalinya sang istri bersikap seperti ini. Namun, ia pun tak mungkin membatalkan perjanjian yang sudah ia tanda tangani.

Akhirnya, Pak Danu memilih untuk membiarkan saja dengan anggapan bahwa lambat laun istrinya akan kembali seperti semula. Tak lagi marah.

Namun, alih-alih mereda. Bu Liliana malah tetap dalam kemarahannya bahkan sudah lebih dari empat hari mereka saling diam.

" Kak, kamu harus tanggung jawab. Aku tidak mau ayah dan ibu bercerai hanya karena kamu," sinis Dira yang sudah tidak tahan atas aksi diam sang ibu

" Aku juga tak mau ayah dan ibu sampai bercerai," jawab Risa.

" Kalau begitu bujuklah ibu. Awas saja kalau ayah dan ibu berpisah hanya karena anak angkat seperti mu." Indira langsung pergi ke kampus menggunakan mobilnya meninggalkan Farisa yang masih duduk di atas motor maticnya.

Farisa pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.

Sore hari, saat ia akan mulai melakukan pekerjaan sambilannya sebagai pelayan kafe, Pak Danu menghampiri Farisa ke tempat kerjanya.

" Bujuk ibumu. Aku sudah tidak tahan." tanpa basa-basi Pak Danu memaksa Farisa agar membujuk Bu Laila.

" Aku sudah berusaha, Yah. Tapi, ibu sulit di bujuk kali ini." Risa memberi alasan.

" Bujuk lebih keras lagi. Dia hanya mendengarkanmu!." Nada suara Pak Danu meninggi membuat beberapa orang melihat ke arah mereka.

" Baik," tak ingin membantah dan membuat sang ayah semakin murka, Farisa hanya bisa mengiyakan.

Lagipula dia pun tak ingin nasib rumah tangga orang tua angkatnya hancur karena dirinya.

Selepas kepergian Pak Danu, Farisa mulai melakukan tugasnya dengan lesu. Beban pikirannya begitu berat.

Menikah dengan laki-laki yang tak ia kenal. Lalu akan menjadi hak penuh suaminya. Juga kemarahan sang ibu yang mengancam akan bercerai jika ayahnya tidak membatalkan perjanjian yang terlanjur ditandatangani.

" Hufft," Farisa hanya mematung sambil melihat ke arah jalan yang mulai sepi.

" Ada apa?," tanya Gladis teman Farisa sesama pelayan sekaligus sahabat Farisa satu-satunya.

" Ayah akan menikahkan ku dengan laki-laki yang tak aku kenal. Bahkan demi uang dua puluh milyar ia rela melepaskan tanggung jawabnya atasku. Yanga artinya, setelah menikah nanti aku dan kedua orang tua angakatku sudah tak ada hubungan apapun,"

Farisa pun menceritakan seperti apa laki-laki yang akan ia nikahi. Juga bahwa ia mengenal kakek dari laki-laki yang melamarnya.

" Gi_la. Dia menjual_mu?" Gladis terpekik kaget.

" Bisa dibilang begitu. Dan ibuku marah bahkan mengancam akan bercerai dengan ayahku jika ayah tak membatalkan perjanjian itu,"

" Salut!! Ibu kamu memang keren," puji Gladis.

" Ck .. Kamu malah memuji,"

" Emang keren tahu. Membela kamu dengan mempertaruhkan pernikahannya."

Farisa diam dan membenarkan.

" Lalu aku harus bagaimana?,"

" Kenapa tidak coba menjalani saja. Mungkin ini jalan agar kamu keluar dari keluarga itu." diam sejenak. " Lagipula kamu kan bisa mempertanyakan maksud Kakek Arya membuat perjanjian itu. Aku yakin pasti ada alasan di balik itu semua," jelas Gladis kini serius.

Farisa mengangguk. Ia ingat kata-kata Kakek Arya yang akan membantunya.

" Temui ia dan tanyakan langsung alasannya. Semoga itu memang agar kamu benar-benar terlepas dari ayahmu yang hanya mencari keuntungan dari keberadaan mu saja."

" Tapi, aku tak ingin memutuskan hubungan dengan ibuku. Dia satu-satunya orang yang paling berharga di hidupku."

" Katakan saja keinginanmu pada kakek itu. Jika kakek itu orang baik, dia pasti mau mengerti dan memahami keinginanmu orang. Sehingga selain kamu bisa bebas, kamu tetap bisa berhubungan dengan ibumu. Dan jika ibumu tahu, mungkin pernikahannya pun akan baik-baik saja sekalipun kamu tetap menikah dan perjanjian itu tidak di batalkan."

TBC

Terpopuler

Comments

Muh Nur

Muh Nur

untung punya teman yang baik

2023-12-05

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!