Dibalik Topeng (18)
Risa terbangun saat ia merasa Dhika tidur dengan gelisah.
Dengan sedikit mengantuk ia melihat ke arah suaminya. Merasakan ada yang tidak beres, Risa semakin mendekatkan tubuhnya.
Ternyata hawa tubuh Dhika sangat panas. Sampai membuat Dhika berkeringat. Risa memberanikan diri menyentuh kening suaminya dan benar-benar panas.
Dengan segera ia mengambil termometer untuk memastikan suhu tubuh Dhika.
Kotak P3K terlihat jelas tergantung di salah satu sudut ruangan. Sehingga ia tidak kesulitan menemukannya.
" 39 derajat Celcius," lirih Risa.
Risa berlari ke arah dapur dan mengambil wadah berisi air hangat dengan handuk kecil.
Perlahan ia mulai mengompres suaminya.
Berulang kali pula ia mengecek suhu tubuh suaminya hingga akhirnya Risa mulai kembali tidur di samping suaminya saat suhu tubuhnya tidak terlalu panas.
Menjelang pagi, Dhika terbangun namun, sudah tidak ada Risa di sisinya.
Sesuatu jatuh dari keningnya saat ia berusaha duduk
" Ini ?,"
Ceklek
" Mas sudah bangun?," Risa masuk dengan membawa nampan berisi sarapan untuk suaminya.
" Makanlah bibir ini lalu minum obat dulu," Risa menyentuh kening suaminya.
" Sudah tidak panas. Ayo dimakan, biar segera pulih,"
" Memangnya aku kenapa?," tanya Dhika heran.
" Semalam mas demam." jelas Risa singkat. "Bisa makan sendiri?,"
" Memangnya aku anak kecil," Dhika mendengus lalu mengambil alih mangkuk bubur di tangan Risa dan mulai sarapan.
Risa hanya menggelengkan kepalanya. Dalam situasi seperti ini pun, nada suaranya tetap saja tidak bisa lembut.
" Aku tak ingin menggurui. Tapi, sebaiknya bersikap lembut lah sedikit. Kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Sekalipun ada uang,tak selamanya uang itu ada dalam genggaman. Roda hidup setiap orang berputar ,"
Risa pergi meninggalkan Dhika di kamar itu seorang diri. Melihat suaminya yang terlihat membaik tidak membuatnya khawatir lagi.
Dhika hanya melihat kepergian Risa dengan diam. Ia memang tak pernah bisa berkata lembut pada orang kecuali sang kakek.
Semua orang membencinya selain kakek Arya tentunya. Semua orang baik saat melihatnya sukses mengembangkan perusahaan. Semakin maju dalam genggaman tangannya.
Dhika menatap wadah berisi air dan juga handuk kecil. Menyadari jika Risa lah yang menjaganya semalam. Bahkan tetap bangun pagi untuk membuat sarapan demi membuatnya segera pulih.
Di rumah utama, di adakan acara pengajian tanpa kehadiran Dhika. Kondisi Dhika yang memang sakit membuatnya tak bisa datang. Namun, ia sudah memerintahkan orang untuk membuat acaranya berjalan lancar.
" Dasar cucu durhaka. Dia tak datang dalam acara pengajian mendo'akan kakek." ketus salah seorang paman Ghika.
" Jangan berlebihan. Dia sakit, tentu tak bisa datang. Keadaan ini pasti sangat berat baginya. Bagaimana pun dialah orang terdekat kakek." jelas sepupu Dhika, Leo.
" Kamu yakin dia sakit? Aku tidak tahu kalau orang sepertinya bisa sakit,"
" Ckk,, paman Gilang, kamu pikir Dhika robot. Dia manusia tentu bisa sakit,"
" Kamu selalu saja membelanya. Padahal kalau kamu bisa menyingkirkannya. Tentu kamu yang di untungkan sebagai satu-satunya cucu Kakek Arya yang lain. Sementara yang lainnya perempuan,"
" Aku tidak berniat mengambil sesuatu yang bukan milikku,"
Leo meninggalkan Gilang seorang diri. Gilang hanya mendengus melihat kepergian anak dari kakaknya itu.
Kembali ke vila tepi danau, Risa memasuki sebuah ruangan yang menjadi studio lukisnya.
Seperti halnya Dhika, Risa pun merasakan kehilangan. Kakek Arya sangat berjasa atas hidupnya. Mengeluarkan ia dari belenggu sang ayah angkat yang selalu berusaha untuk memanfaatkan dirinya dengan dalih balas Budi.
" Aku berjanji akan selalu ada di sampingnya, kek."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Nurgusnawati Nunung
Kasihan mereka dikelilingi orang orang jahat.
2024-05-08
1
Muh Nur
semangat risa
2024-01-05
0