Dibalik Topeng (5)
Hari Minggu, seperti biasa akan Farisa habiskan di tepi danau. Dengan peralatan lukisnya, ia duduk menghadap danau biru yang nampak tenang.
Kini, ia tak harus mengendap-endap jika ingin berada disana. Karena Kakek Arya sudah membantunya sehingga bisa keluar masuk kawasan itu dengan bebas.
" Terimakasih sudah percaya pada kakek," ucap kakek Arya yang sudah ada disana. Tidak jauh dari keduanya asisten yang selalu ada di manapun kakek Arya berada mengawasi keduanya. Asisten yang secara usia, masih seusia cucunya yaitu Dhika.
Farisa tersenyum. " Aku sendiri masih tidak mengerti maksud Kakek dengan memberikan perjanjian itu pada ayah."
" Itu hanya cara kakek agar kamu benar-benar lepas dari ayahmu. Melihatnya yang selalu memanfaatkanmu, kakek yakin jika esok lusa jika dia dalam kesusahan dia akan meminta tolong padamu dengan alasan balas Budi.
Karena itu, kakek membuat perjanjian agar ada hitam di atas putih. Sehingga ayahmu tidak bisa lagi memanfaatkanmu." jelas Kakek Arya panjang lebar.
" Soal memutus hubunganku dengan ayah..."
" Hanya dengan ayahmu. Tidak dengan ibumu. Kakek tahu, dia sangat tulus padamu." penjelasan kakek Arya membuat Farisa tersenyum. Keputusannya untuk mempercayai kakek Arya sepenuhnya tidak salah.
" Soal cucu Kakek, apa kakek yakin? Sepertinya dia tidak menginginkan pernikahan ini," Farisa berbicara dengan tetap menggoreskan kuasnya.
" Dia setuju karena permintaan Kakek. Apa kamu bisa menjaganya untuk kakek?,"
Farisa mengernyitkan keningnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kakek Arya. "Menjaga?,"
Kakek Arya mengangguk.
" Dulu, dia adalah laki-laki yang tampan dan baik hati. Sikapnya lembut begitu pula tutur katanya."
Berbanding terbalik dari yang aku lihat.
"Hingga ia jatuh cinta pada seorang wanita yang juga mencintainya. Hubungan keduanya baik.
Pada suatu hari, mereka terjebak di rumah sang perempuan yang sedang kebakaran. Dhika berusaha mengeluarkan kekasihnya namun, naas saat giliran dia yang berusaha keluar, dia tertimpa kayu yang terbakar hingga mengenai wajahnya."
Farisa hanya diam mendengarkan tanpa berani menyela.
" Dokter mengatakan lukanya serius dan harus melakukan operasi. Saat ia di rawat, kekasihnya selalu mengunjunginya. Namun, suatu hari ia lupa membawa ponselnya yang tergeletak di atas nakas begitu saja. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?,"
Farisa menggelengkan kepalanya.
" Seseorang dengan nama kontak " Honey" menelpon. Karena penasaran, Dhika mengangkatnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ternyata orang yang menelpon adalah selingkuhan dari kekasihnya.
Mereka membuat janji di hotel saat itu. Dhika terkejut karena kekasihnya izin pulang dengan alasan kurang enak badan. Namun, nyatanya dia ada janji dengan selingkuhannya.
Diliputi rasa penasaran, Dhika mulai membuka galeri foto yang menunjukkan banyak foto kebersamaan keduanya yang sangat intim.
Dhika pun membaca chat keduanya yang membicarakan Dhika. Ternyata,alasan perempuan itu mendekati Dhika hanya untuk menguras hartanya. Dia ternyata di suruh untuk menghancurkan Dhika dari dalam."
" Maksud Kakek, dia trauma untuk menjalin hubungan?,"
" Dia berfikir tidak ada wanita yang benar-benar tulus. Apalagi saat ia menguji dengan mengatakan wajahnya tidak bisa sembuh total sekalipun operasi, membuat wanita itu akhirnya menunjukkan sifat aslinya. Menolak dengan tegas dan tak mau menikahi laki-laki cac@t sepertinya."
" Jadi, benar-benar tidak bisa sembuh seperti sedia kala sekalipun dengan operasi?,"
Kakek Arya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya bisa. Dhika hanya menguji saja."
Farisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Bagaimana dengan perkataannya yang tak ingin melakukan operasi?,"
Farisa teringat syarat yang di ajukan Dhika jika bersedia menikahinya.
" Soal itu, benar. Bahkan Dhika menolak sekalipun kakek yang meminta. Ia bilang ia takkan melakukan operasi karena siapapun. Kecuali keinginannya sendiri. Dan Kakek yakin kamu bisa menggoyahkan anak itu yang kepala batu." jelas Kakek Arya.
" Bagaimana kakek bisa seyakin itu?," Farisa penasaran.
" Hanya kata hati." jawabnya singkat sambil tersenyum.
Mereka pun mulai kembali membahas rencana kedepannya.
...******...
" Bu, berbaikan lah dengan Ayah." pinta Farisa saat mereka akan tidur.
Ibu angkat Farisa itu masih tidak mau kembali tidur di kamarnya.
" Apa ibu harus menyerah dengan hidupmu sebagai taruhannya?," lirihnya.
Liliana tak pernah membayangkan akan seperti apa kehidupan Farisa kedepannya dengan orang-orang yang tak ia kenal.
Farisa duduk dan menghadap ke arah ibunya yang memang masih duduk di pinggir tempat tidur.
" Percayalah, Risa akan baik-baik saja, Bu. Sebenarnya Risa sudah mengenal kakek Arya sebelumnya." Farisa akhirnya memilih jujur.
Ia tak sanggup jika harus di tekan sang ayah agar membantunya berbaikan dengan ibunya. Jelas sudah membatalkan perjanjian tak pernah akan di lakukan oleh ayahnya itu. Tampak akan harta.
" Benarkah?" Liliana terkejut dan membalas genggaman tangan Farisa.
Farisa mengangguk. "Risa juga menceritakan keadaan Risa. Dan kemudian, kakek Arya berjanji akan membantu Risa."
" Dengan melamarmu untuk cucunya?"
" Iya."
" Lalu perjanjian itu?,"
Farisa pun menceritakan apa tujuan kakek Arya dan bagaimana keduanya bisa saling kenal dan kemudian dekat.
Liliana akhirnya tenang.
" Karena itu berbaikan lah,Bu. Ibu sudah bisa tenang sekarang." pinta Farisa memelas.
Sebenci apapun ia pada ayahnya, nyatanya ayahnya itu sangat mencintai ibunya.
" Baiklah. Tapi, jika kamu sudah menikah nanti jangan lupakan ibu."
Farisa memeluk ibunya. " Bagaimana bisa aku melupakan wanita hebat yang telah memberikan kasih sayangnya padahal aku tak ada hubungan darah dengannya."
Mata Liliana mengembun. Sebelah tangannya mengusap lengan Farisa yang memeluknya.
Keadaan pun kembali seperti biasa. Sudah beberapa hari ini Liliana kembali tidur bersama Danu.
Danu dan Indira merasa senang karena tak ada lagi kata cerai yang awalnya terlontar. Namun, sekalipun keadaan sudah kembali tak ada kata terima kasih dari keduanya. Seolah memang semua harusnya seperti itu. Lagi-lagi, bukti bahwa Farisa tahu diri.
" Ikut denganku!," Farisa tesentak saat seseorang menarik lengannya saat ia baru sampai di tempat parkir di kampusnya.
Farisa sudah siap berontak dan akan memukul orang yang menariknya begitu saja.
Namun, ia urung melakukannya saat ia sadar siapa orang yang melakukannya.
" Ini aku," ucap Dhika datar.
Farisa menghembuskan nafas lega.
" Ada apa kamu kesini?," tanya Farisa heran.
" Kakek ingin bertemu denganmu. Sekarang," tegasnya.
" Tapi, aku harus ke cafe. Aku belum izin kalau hari ini tidak akan masuk." Frisa menolak.
Sekalipun akan di persunting laki-laki kaya,ia tak mau melepaskan pekerjaannya itu. Ia sendiri masih tidak bisa membayangkan akan seperti apa kehidupannya dengan laki-laki dingin di hadapannya ini.
" Aku sudah melakukannya. Aku kenal dengan pemiliknya."
Farisa masih tak bergeming.
" Jangan membuat kakekku menunggu lama."
" Baiklah. Aku akan mengikuti mundari belakang dengan motorku."
"Kau ikut denganku naik mobil."
" Tapi, motorku?,"
" Akan di bawa supirku." tunjuk Dhika pada laki-laki paruh baya yang menganggukkan kepalanya kepada Farisa.
" Kuncinya, Non!"
Farisa pun memberikan kunci motornya.
Selama perjalanan, tidak ada obrolan sedikitpun. Keduanya diam.
" Ehemm... Sebenarnya kenapa kakek Arya mau bertemu denganku? . Hari Minggu kemarin kita sudah bertemu." Setelah berdehem, Farisa memberanikan diri untuk bertanya.
Dhika melirik sekilas pada Farisa lalu kembali fokus menyetir.
" Kakek ingin membicarakan sesuatu dengan kita. Katanya tentang pernikahan kita," jawab Dhika tanpa ekspresi.
" Membahas pernikahan?,"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Syamsiah
lanjutkan
2024-03-06
2
Syamsiah
lanjut
2024-03-06
0