DT 17 Tetap Hidup

Dibalik Topeng (17)

Dhika masih belum beranjak dari gundukan tanah yang masih merah. Wangi aneka macam bunga yang di taburkan masih tercium dengan jelas.

" Kek, kenapa kakek pergi meninggalkan ku secepat ini?," lirih Dhika sambil mengusap foto Kakek Arya yang di letakkan di dekat batu nisan.

Wajah yang tersenyum dengan rambut yang memutih itu baru saja di kebumikan. Bahkan Dhika sendiri yang menggotong keranda juga turun ke dalam liang lahat untuk mambantu menurunkan jenazah.

Kakek Arya dinyatakan meninggal karena sakit. Tidak ada tanda kekerasan atau apapun. Apalagi dari CCTV jelas terlihat jika kakek Arya tiba-tiba memegang jantungnya dan jatuh tak sadarkan diri.

Namun, sampai detik ini Dhika belum mencari tahu lebih jauh tentang siapa yang menghubungi kakek Arya dan informasi apa yang Kakek Arya dengar sehingga mendadak terkena serangan jantung.

" Mas, ayo pulang. Sepertinya mau hujan," ajak Risa. Kini hanya tinggal mereka berdua di area pemakaman yang tampak mulai gelap karena awan yang menghitam.

Angin pun terasa sangat dingin menusuk ke tulang.

" Kamu pulang duluan saja. Aku bisa pulang sendiri,"

Risa tentu saja ragu. Mana mungkin ia membiarkan suaminya sendirian disana.

Namun, ia kemudian melangkah meninggalkan area pemakaman.

Dhika bisa merasakan kepergian Risa namun, tak berniat sedikit pun untuk ikut pergi.

" Kek, apa yang bisa aku lakukan tanpamu? Aku tak punya tujuan untuk hidup lagi. Aku seorang diri sekarang," lirihnya.

Dhika mungkin terlihat sangat menakutkan bagi bawahannya. Karena ketegasannya membuat orang bahkan berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan sedikit pun.

Namun, di balik sikapnya, Dhika hanyalah seorang cucu yang sangat menyayangi kakeknya. Apalagi hanya Kakek Arya yang ia miliki. Semua saudaranya tidak terlalu menerima keberadaan Dhika.

Tetes demi tetes hujan mulai membasahi tanah, hanya hitungan detik berubah menjadi deras.

Dhika menengadahkan kepalanya karena heran tubuhnya tidak terkena hujan. Pandangan matanya bersiborok dengan Risa yang kini sedang memayunginya.

Risa memang pergi meninggalkan Dhika menuju mobil yang masih terparkir. Namun, bukan untuk pulang melainkan hanya sekedar mengambilkan payung.

Ia tak bisa memaksakan suaminya pulang, dan tak kuasa meninggalkannya seorang di sana. Akhirnya, ia memutuskan menemani sampai Dhika puas berada di atas pusara Kakek Arya.

" Ayo pulang," Dhika berdiri setelah hampir satu jam Risa memayunginya.

Risa mematuhi tanpa berbicara apapun. Payung pun langsung di ambil alih oleh Dhika. Mereka berjalan di bawah payung yang sama. Dengan tubuh yang saling berdempetan.

Meskipun sudah biasa berada pada jarak Seperti ini, namun tak bisa di pungkiri detak jantung keduanya sama-sama bergerak cepat.

" Pak, ke vila tepi danau," Dhika menyebutkan tujuan mereka.

" Baik, tuan,"

" Kita akan tinggal disana mulai hari ini," putus Dhika tanpa meminta pendapat bahkan meminta izin pada pemiliknya.

Bagaimanapun, Vila itu milik Risa. Namun, Risa tidak protes. Ia hanya mengangguk.

Suaminya butuh ketenangan untuk beberapa saat. Kepergian kakek Arya yang mendadak sudah pasti membuat Dhika sangat kehilangan.

Keduanya langsung masuk ke kamar utama, kamar mereka bersama. Dhika bahkan langsung mandi terlebih dahulu Sementara Risa membuat air jahe hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.

Setelah selesai, ia membawa dua gelas teh jahe ke kamar dan meletakkannya di atas nakas.

Risa masuk ke kamar mandi setelah Dhika selesai.

Ada perasaan hampa yang Dhika rasakan sekaligus rasa hangat di dalam hatinya.

Sekalipun ia kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya, ia pun mendapatkan seseorang yang mulai mengisi kekosongan hatinya.

Kakek mungkin telah tiada, tapi ia tetap hidup dalam hati kita. Aku akan tetap di sampingmu apapun yang terjadi. Ja gn pernah merasa sendiri lagi.

Dhika teringat ucapan istrinya. Walaupun ia masih tidak bisa meraba tentang bagaimana posisi sang istri saat ini, namun ia pun tak ingin kehilangannya.

Hingga Dhika teringat akan ponsel kakeknya. Ia pun langsung mengecek siapa yang terakhir menghubungi kakeknya itu.

" Hah? Mati,"

Di tempat lain, seseorang merasa khawatir atas apa yang menimpa kakek Arya.

" Seharusnya aku tak memberitahunya. Seandainya aku tahu dia punya penyakit jantung," gumamnya merasa bersalah

TBC

Terpopuler

Comments

Ai Sri Kurniatu Kurnia

Ai Sri Kurniatu Kurnia

siapa kira-kira 🤔🤔🤔yang nelpon kakek Arya ya sampai meninggal lagi

2024-01-02

1

Muh Nur

Muh Nur

tambah penasaraaaaan
semangat dan bahagia selalu thor

2024-01-02

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!