Dibalik Topeng (13)
Makan malam tiba, Risa sudah bersiap untuk keluar kamar.
Sejak debaran jantungnya hanya karena tangannya yang di tarik Dhika siang tadi, Risa jadi tak tenang.
Padahal, berbagi kamar bahkan berbagi ranjang bukan pertama kali mereka lakukan. Namun , kini rasanya tak biasa.
" Tunggu aku, kita ke bawah bersama,"
Mendengar ucapan Dhika dengan nada memerintah, Risa urung pergi lebih dahulu. Ia menunggu suaminya selesai berpakaian. Tidak lupa topeng selalu ia kenakan. Hanya di kamar saja, Dhika melepaskan topengnya.
Setelah hampir dua Minggu menikah dengan Dhika, Risa sudah mulai terbiasa melihat wajah penuh luka itu. Lebih tepatnya bekas luka.
Keduanya berjalan menuruni tangga. Tak ada angin, tak ada hujan, Dhika bahkan menggenggam tangan Risa.
" Lihatlah pengantin baru, baru turun dari tadi. Pasti lelah ya?," seorang pemuda dengan tatapan menyelidiki melihat ke arah Dhika dan Risa. " Habis berapa ronde?," tanyanya frontal.
Plakkkk
Sebuah pukulan mendarat di bahu sang pemuda yang usianya sepertinya hampir sama dengan Risa.
" Jangan bicara sembarangan," pelototan menyertai ancaman itu.
Semenjak pulang, Dhika dan Risa memang hanya berdiam diri di kamar. Bahkan untuk makan siang pun minta di antarkan saja ke kamar.
Hal tersebut tentu saja membuat orang berpikir yang tidak-tidak. Apalagi keduanya adalah pengantin baru.
" Maaf, Dad," jawabnya dengan meringis karena masih merasakan sakit.
" Jangan hiraukan ucapan dia, Nak. Ayo duduklah." timpal Kakek Arya.
Makanan pun tersedia. Risa dengan telaten melayani suaminya. Setelah selesai dengan isi piring suaminya ia langsung melayani kakek Arya.
" Terimakasih," Kakek Arya terharu karena merasakan di perhatikan juga oleh cucu menantunya.
" Sama-sama, Kek,"
Risa sedikit melirik suaminya yang tak pernah sekalipun mengucapkan terimakasih. Seolah kita itu sangat mahal untuk di ucapkan.
" Kakak ipar, kakak tidak melayaniku juga?," tanya pemuda yang tadi sudah berbicara frontal terhadapnya.
" Itu .." Risa bingung sendiri. Ia baru sadar ternyata semua orang mengambil nasinya sendiri tanpa di layani para perempuan dewasa yang Risa tak tahu apakah mereka suami istri atau bukan.
Namun, melihat sekilas, seperti para pria paruh baya disana memang sudah menikah.
"Ckk. Menikahlah, dan minta di layani oleh istrimu sendiri. Jangan meminta di layani oleh istriku," Ketus Dhika.
" Makanlah. Jangan hiraukan perkataan Leo," semua orang ternganga karena Dhika bisa berbicara lembut.
" Sepertinya kiamat sudah dekat, sampai es kutub mencair. Aww," Leo terperanjat saat satu cubitan mendarat di pinggangnya.
" Diam dan makanlah dengan tenang, Leo!,"
" Baik, Daddy,"
Makan malam akhirnya berjalan dengan tenang saat Leo tak lagi bersuara dan membuat ulah.
" Kapan kamu masuk kantor?," tanya Robi paman Dhika.
" Besok aku langsung masuk kantor." jawab Dhika yang memang tidak berniat mengambil libur lebih banyak.
...******...
" Ini pelajarilah. Jangan sampai kamu salah berteman." Dhika meletakkan sebuah map tebal di hadapan Risa.
Risa yang penasaran langsung mengambil dan membukanya. Ternyata map itu berisi informasi keluarga Dhika.
" Ini?,"
Risa menganga tidak percaya. Bukan hanya foto keterangan tentang isi foto pun begitu terperinci.
Risa bulak-balik melihat ke arah Dhika lalu ke arah data yang ada di hadapannya.
" Aku merasa sedang belajar sejarah," cicit Risa pelan namun, masih bisa di dengar Dhika.
" Aku tak mau mereka memanfaatkanmu untuk kepentingan mereka. Karena itu kamu harus mempelajari tentang keluargaku. " tambahnya.
Risa mengangguk.
" Apa mereka tinggal disini?,"
" Ya, tapi sebagian lagi masih belum pulang karena urusannya masing-masing. Salah satunya perempuan yang pernah sedikit berbicara denganmu di pelaminan."
Risa mengangguk. Ia ingat sosok perempuan yang seperti menganggapnya musuh.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
sherly
wow smuanya disatu rumah ngk kebayang Segede apa tu rmh kakek arya
2024-03-11
1