DT 19 Perkara Harta

Dibalik Topeng (19)

Tujuh hari telah berlalu. Acara do'a bersama di hari ke tujuh itu baru saja selesai.

Semua anggota keluarga sudah berkumpul sesuai dengan perintah pengacara pribadi kakek Arya yang akan membacakan surat wasiat sekaligus menjelaskan perihal harta yang ia pegang.

Ya, harta itu sebenarnya bukanlah miliknya melainkan milik anak dan menantunya yang tidak lain adalah ayah dan ibu Dhika.

Ayah Dhika menikahi ibu Dhika yang seorang anak konglomerat. Anak satu-satunya sehingga semua harta kekayaan jatuh padanya termasuk perusahaan yang kemudian dikelola ayah Dhika.

Saat kedua orang tuanya meninggal, Kakek Arya lah yang mengelola perusahaan dengan dibantu orang kepercayaan yang tidak lain adalah ayah Bram ( Bram adalah asisten Dhika saat ini).

Dhika mengelola perusahaan setelah dirasa mampu untuk mengurus perusahaan.

" Baiklah, kita mulai saja.," seorang laki-laki yang terlihat berkharisma di usia tuanya membuka map dihadapan semua anggota keluarga.

" Tolong, jangan mencela sebelum saya selesai membaca surat wasiat almarhum dan menjelaskan perihal masalah harta kekayaan. Saya mohon, kerjasamanya. Jika ada keberatan atau ada yang ingin di tanyakan, bisa dilakukan setelah saya selesai membacakan semuanya.

Jika ada yang mencela, jangan salahkan saya yang akan mengeluarkan paksa dari ruangan ini. Karena itu juga salah satu wewenang yang diberikan almarhum pada saya. Yang artinya seandainya keributan dilakukan seseorang dari salah satu anggota keluarga,dia akan dikeluarkan dari ruangan ini bahkan tidak akan mendapatkan apapun. Bahkan jika ia mendapatkan harta dari almarhum, saya berhak mengugurkannya dan memberikan ke panti asuhan.

Itu sudah menjadi bagian dari wasiat almarhum. Jadi, jangan gegabah jika tak ingin rugi, "tegas sang pengacara.

Sebagai salah satu orang kepercayaan kakek Arya, ia pun tahu watak dan tabiat dari keluarga anggota kakek Arya yang pastinya akan merasa tak terima. Mereka tipikal orang yang gi_la harta. Tanpa sadar harta siapa yang mereka inginkan.

Pak Dirga pun membacakan semua wasiat sampai selesai. Tak ada yang berani mencela dan menginterupsi ucapan pengacara kondang itu karena tak ingin kehilangan bagian mereka.

Mulut mereka memang bungkam. Tapi, tangan sebagian besar dari mereka mengepal. Wajah mereka memerah karena marah.

Tak terima dengan apa yang Baru saja mereka dengar.

" Apa anda tidak salah, Pak Dirga?," tanya Gilang yang mulai berani bersuara saat ia tahu kini saatnya ia bisa mengeluarkan keberatannya.

" Tentang?," tanya Pak Dirga berpura-pura tak paham.

" Kenapa kami hanya mendapatkan uang yang tidak seberapa dibandingkan bocah ingusan itu?," Gilang menatap nyalang pada Dhika.

Dhika hanya diam dan menghiraukan pamannya itu.

" Iya, Pak. Kami pun cucunya kakek Arya merasa tidak terima. Bagian kami sangat sedikit," sela Luna sepupu Dhika.

" Kami?!," seru Leo dengan mata memicing. Dahinya mengernyit heran. " Hei, kamu yang tidak terima kenapa membawa-bawa nama cucu yang lain. Aku sih fine-fine saja. Tidak keberatan," jawab Leo dengan senyuman sinis melihat Luna melotot ke arahnya.

" Leo, bagaimana bisa kamu menerima begitu saja saat bagianmu tak ada apa-apanya dibandingkan bagian dari Dhika. Apalagi bagian kita itu pemberian kakek Arya dari tabungannya. Itu artinya, kita tak mendapatkan apapun dari aset yang ada," Miranda berteriak pada keponakannya.

Risa hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Tanah kubur saja masih basah, mereka malah sibuk memperebutkan harta yang ditinggalkan.

Risa melirik sang suami yang duduk di sebelahnya. Terlihat tak ingin bicara apapun seolah membiarkan Pak Dirga yang mengurusnya.

" Begini,biar saya jelaskan," Pak Dirga berdehem terlebih dahulu.

" Semua aset yang almarhum pegang, bukanlah miliknya. Melainkan milik Pak Dhika yang sementara di pegang oleh almarhum.

Asal dari semua aset yang ada adalah murni milik dari kedua orang tua pak Dhika yang tidak lain juga merupakan peninggalan orang tua dari almarhumah ibunda pak Dhika..."

" Tapi, tetap saja saya tidak terima. Selama ini saya juga ikut mengembangkan perusahaan," sela Gilang

" Iya, betul kata ayah saya," Luna membenarkan.

" Bisa dengarkan penjelasan saya dulu," Pak Dirga mencoba menahan emosinya.

Menghadapi keluarga yang tamak akan harta yang bahkan bukan miliknya benar-benar membuatnya geram.

" Pak, jangan-jangan kamu merubah isi wasiat itu. Tidak mungkin kakek kejam pada cucunya..." Luna semakin emosi.

Pyarrrrrrr

Semua terkejut menatap ke arah vas bunga yang sudah tak berbentuk di atas lantai.

"APA KALIAN TIDAK PAHAM BAHASA MANUSIA!!!!," sebuah teriakan menggema membuat semuanya bungkam. Hening, tidak ada yang berani bicara lagi.

" Jika kalian tidak bisa diam, aku akan membuat kalian diam dengan paksa," suara Dhika yang tidak setinggi sebelumnya membuat mereka tak punya nyali.

Dhika bukanlah sosok penyabar. Ancamannya pun bukanlah isapan jempol belaka.

" Silahkan lanjutkan, Pak Dirga,"

" Terimakasih Pak Dhika," Pak Dirga yang masih terkejut berusaha tenang. Untung jantungnya masih aman.

TBC

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

kalo dah Masalah bagi2 harta yg pintarpun jd pura2 begooo...

2024-03-11

1

Muh Nur

Muh Nur

ini kerabat dhika tidak tahu malu harta ibu dhika mereka ributkan👿

2024-01-05

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!