Kabar Gembira

Julian yang baru saja pulang dan memarkirkan mobilnya telah disambut dengan dua perempuan yang mengisi hidupnya dengan sempurna. Dara dan Alea tersenyum melihat kedatangan Julian. Dara mencium tangan Julian kemudian mengambil tas kerja yang ada di tangan Julian. Julian mengecup pipi Dara sekilas kemudian beralih ke putri kecilnya.

"Papa, sudah pulang." Alea menjulurkan tangannya ke arah Julian, dengan sigap Julian menyambut Alea dan menggendong putrinya.

"Hai, princess kamu seharian ini bermain apa sama Mama?" tanya Julian yang dijawab dengan celotehan lucu Alea. Saat ini, usia Alea sudah menginjak 4.5 tahun. Dia sudah dapat berbicara dengan lancar, namun masih terdapat ciri khas anak-anak dalam nada bicaranya.

"Mama katanya punya kejutan untuk Papa." Dara awalnya memelototi anaknya tetapi dia jadi tertawa melihat ekspresi Alea yang bersembunyi di dalam pelukan Julian. Sebenarnya, Dara ingin memberikan kejutan nanti saat mereka makan malam tetapi little princessnya sudah membocorkan kejutan yang akan diberikan padanya.

"Tadi kita sudah sepakat akan memberikannya saat makan malam kan, cantik." Dara menegur puterinya dengan lembut. Julian hanya tertawa melihat Alea yang menunduk dan menyembunyikan kepalanya di balik bahu bidang Papanya.

"Memangnya kejutan apa, sayang? Aku jadi penasaran dengan kejutan yang ingin kamu beritahukan." Dara menaruh tas kerja Julian terlebih dahulu, kemudian memberikan kotak kecil yang telah diberikan pita cantik.

Dara memberikan kotak kecil berwarna merah itu kepada Julian. Alea yang masih digendong merengek ingin turun dari gendongan Papanya. Dia ingin melihat ekspresi Papanya saat membuka kotak kecil yang telah disiapkan oleh Dara. Julian membuka kotak dan melihat benda pipih yang berada di dalamnya. Ternyata di dalamnya adalah hasil test pack yang menunjukkan dua garis merah. Ekspresi Julian sudah dapat ditebak, dia tersenyum gembira menggenggam test pack tersebut.

"Sayang, kamu hamil?" Julian masih belum percaya dengan hasil test pack yang berada digenggamannya.

"Iya, Mas." Dara menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Julian mengangkat tubuh isterinya dan memutar-mutarkannya. Dia sangat senang dengan kehamila Dara, ini merupakan penantian yang panjang dari keduanya.

Selama 4 tahun mereka berumah tangga memang Julian sangat menantikan kehadiran buah hati. Tentunya, dia juga sudah sangat bersyukur dengan kehadiran Alea walaupun bukan darah dagingnya dia tidak pernah sekalipun mengungkit tentang hal tersebut bahkan dengan Dara. Dia sangat menyayangi Alea sama besarnya dengan menyayangi Dara.

Awalnya, Julian pikir dirinya bermasalah sehingga Dara belum juga hamil bahkan pernah suatu kali dia berpikir bahwa Dara hanya menikahinya karena ingin membalaskan budinya kepada Julian. Sehingga, dia berpikir kalau Dara masih memikirkan mantan kekasihnya. Namun, Dara berhasil meyakinkan Julian kalau dia juga sangat mencintai Julian bukan hanya karena kebaikannya dan pertolongan dari Julian. Cinta dari Julian telah memenuhi dirinya sehingga tidak ada tempat lain untuk orang lain. Dara yakin mereka harus bersabar menantikan buah hati. Dia tahu kehadiran Alea bukan merupakan kesalahan, tetapi Tuhan mungkin ingin menegurnya dengan memberikan kehidupan kecil yang menjadi bukti dari kesalahan dia dan masa lalunya. Lain halnya, dengan Julian yang telah resmi menjadi suaminya dan halal baginya. Mereka harus bersabar menantikan buah hati yang menjadi tanda cinta keduanya.

"Papa, Lea juga mau digendong." Gadis kecil itu menggapai tangan Papanya. Julian dengan senyumnya menyambut uluran tangan Alea kemudian memutar-mutarkan badan puteri kecilnya.

"Aduh, mas aku jadi pusing sekali." Bibir Dara mengerucut, Julian menjadi panik mendengar keluhan Dara. Dia menurunkan Alea dengan perlahan kemudian bergerak mendekati isterinya.

"Maaf sayang, aku sangat senang dan jadi lupa dengan keadaanmu. Kita ke rumah sakit saja sekarang ya? Kamu masih pusing?" Dengan panik Julian bertanya dan memeriksa keadaan Dara. Dia menuntun Dara untuk duduk ke sofa.

"Tidak sayang aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing karena tadi kamu memutarkanku," ucap Dara dengan tenang. Dia tidak ingin Julian panik karena hal sepele seperti tadi.

Julian membelai perut Dara, dia sangat sedang dan mendambakan kehadiran anaknya. Dengan senyum terus terlihat di wajahnya, pria tersebut memeluk Dara yang sudah memenuhi hari-harinya.

"Papa, aku juga mau dong dipeluk." Julian memangku Alea lalu memeluk isteri dan anaknya pada saat bersamaan.

"Alea, kamu akan menjadi seorang kakak. Kamu senang kan?" Julian bertanya kepada Alea, dia akan tetap selalu menyayangi anak sambungnya. Julian tidak ingin kasih sayangnya berkurang, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu menyayangi Alea seperti anaknya sendiri.

"Kakak? Jadi, aku akan memiliki Adik? Adik bayi? Mana Adik Bayinya?" Alea melihat kanan kiri mencari adik bayinya.

"Adiknya belum lahir. Kita harus menunggu kira-kira 8 bulan lagi." Dara menjelaskan kepada Alea dengan pelan agar anaknya mengerti.

"Wah, lama sekali ya Ma," kata Alea dengan mimik lucu yang membuat Julian dan Dara tertawa.

"Aku juga mempunyai kabar untuk kalian semua, semoga ini menjadi kabar gembira juga bagi keluarga kecil kita." kata Julian sambil melihat Dara dengan intens. Ada rasa berdebar mengatakan kabar ini pada Dara, dia takut Dara tidak gembira dengan kabar yang dibawanya.

"Apa kabar yang ingin kamu sampaikan?" Dara penasaran dengan perkataan Julian, dia merasa Julian ingin memberitahukan kabar yang tidak begitu menggembirakan karena mimik wajah suaminya itu tidak begitu sumringah.

Terpopuler

Comments

Afternoon Honey

Afternoon Honey

💖

2023-10-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!