"Hamil!!! Tidak, itu tidak mungkin anak Bastian!" Teriakan dari Mama Rissa kembali menggema. Bastian membulatkan matanya, dia tak menyangka kejadian malam itu langsung membuahkan hasil seperti ini.
Mama Rissa yang tidak percaya dengan hal yang dikatakan Dara. Wanita paruh baya itu memegang keningnya, dia mendadak pusing. Bastian menangkap tubuh Mama Rissa yang hampir tumbang. Dirinya begitu shock mengetahui anaknya telah menghamili Dara.
Beberapa saat setelah kekacauan yang terjadi disebabkan oleh perkataan Dara. Mama Rissa yang ternyata pingsan itu akhirnya membuka matanya perlahan. Di sekelilingnya ada Dara, Bastian, dan Papa Edrick yang khawatir dengan keadaan Mama Rissa.
Mama Rissa menatap tajam perempuan muda itu, dia tidak ingin mempunyai menantu seperti Dara yang sudah yatim piatu dan tidak jelas latar belakang keluarganya. Mama Rissa sudah membulatkan tekadnya untuk menolak Dara dan Bastian serta suaminya harus menyetujui perkataannya.
"Kamu, keluar dari sini sekarang juga! Saya tidak ingin bertemu denganmu! Saya tidak akan mengakui anak yang berada dalam kandunganmu itu!" Mama Rissa yang baru saja sadar dari pingsannya itu tidak dapat mengontrol perkataannya. Emosi dan ego telah menutupi hari nuraninya kali ini.
"Tetapi, anak ini adalah anak Bastian. Anak yang aku kandung adalah cucu, Mama." Dara tanpa sengaja memanggil wanita yang sedang dilanda emosi itu dengan panggilan Mama. Dia ingin diterima oleh keluarga ini, telah lama dia menantikan kehangatan keluarga. Bastian yang selama ini selalu menenangkannya dengan janji akan menikahinya tentu menghadirkan harapan yang besar pada dirinya.
"Mama? Jangan bermimpi kamu bisa memanggilku mama! Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui hubunganmu dengan anakku! Lagi pula siapa yang bisa menjamin bahwa anak yang ada di dalam kandunganmu adalah cucuku. Kamu itu seperti wanita murahan belum menikah tetapi dengan suka rela melempar tubuhmu ke pelukan anakku." Kata-kata tajam terus mengalir keluar dari mulut Mama Rissa. Bahkan, Papa Edrick yang berada di sampingnya tidak dapat berbuat banyak. Memang selama ini Mama Rissa lebih dominan di dalam rumah tangga mereka. Namun, sudah seharusnya Papa Edrick mampu memberikan solusi yang tepat dalam masalah ini. Bukan malah membiarkan Mama Rissa menghina gadis yang tidak bersalah ini.
"Saya bersumpah, Nyonya. Ini adalah anak dari Bastian, saya tidak pernah melakukan hal tersebut kepada laki-laki lain. Saya hanya mencintai Bastian." Dara berkata lirih sambil meremas ujung bajunya.
Dara menatap Bastian yang malah memalingkan wajahnya tidak berani membela Dara. Kemana Bastian yang berjanji untuk menikahinya? Di hadapannya ini hanyalah ada seorang pria pecundang yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dara tersenyum kaku memikirkan hal ini, dia benar-benar gadis bodoh yang dengan mudah terjebak rayuan pria seperti Bastian.
"Tidak, aku tetap pada pendirianku. Kamu pasti hanya ingin uang kami saja kan? Berapa? Katakan berapa harga dirimu? Aku akan membayarnya namun kau harus pergi dan menggugurkan kandunganmu. Tidak ada lagi yang harus tersisa dari dirimu." Mama Rissa tetap teguh pada pendiriannya, dia tidak ingin memiliki menantu yang mempunyai status sosial yang rendah dan tidak dapat dibanggakan.
"Bastian, kamu bilang akan bertanggung jawab kepadaku. Mana janjimu? Aku hanya ingin kamu menikahiku." Tidak mendapatkan dukungan dari Mama Rissa, Dara mengalihkan pandangannya ke arah Bastian.
"Tidak Dara, seperti yang mamaku bilang. Itu pasti bukan anakku. Kamu pasti tidak hanya berhubungan denganku." Bastian mengelak dari tanggung jawabnya. Dengan tega pria tersebut mengatakan bahwa yang berada dalam kandungan Dara bukanlah anaknya.
Air mata tanpa sadar telah mengalir deras di pipi Dara. Dia tidak menyangka nasibnya akan seperti ini. Dihina oleh pria yang selama ini selalu menemaninya dalam suka maupun duka. Dara tidak berdaya akan penolakan yang ada dalam keluarga Anggara ini. Dari dulu Dara selalu berusaha untuk menolak pernyataan cinta dari Bastian, namun dengan gigih Bastian mengatakan bahwa dia mencintai Dara. Namun, yang terjadi saat ini membuat diri Dara hancur sehancurnya.
Dara menoleh ke arah Papa Edrick. Dia masih ingin mencoba mendapatkan dukungan dari pemimpin keluarga Anggara. Mungkin Mama Rissa dan Bastian tidak ingin mengakui anak ini, tetapi paling tidak dia mencoba untuk mempertahankan anak ini.
"Tuan, saya mohon. Anak yang ada dalam kandungan saya adalah cucu Tuan. Anak kandung dari Bastian, dalam dirinya mengalir darah dari keluarga Tuan. Saya mohon untuk keadilan, saya tidak ingin menambah dosa saya dengan menggugurkan kandungan ini." Dara menangkupkan kedua tangannya seraya memohon kepada Papa Edrick untuk mendapatkan keadilan. Papa Edrick yang baru kali ini melihat kekasih anaknya itu terlihat iba dengan tangisan yang diperlihatkan oleh Dara.
"Diam kamu. Jangan berani-beraninya kamu mempengaruhi pikiran suami saya. Anak itu bukan cucu kami. Sekarang kamu harus pergi dari rumah ini. Pintu rumah ini tertutup untukmu." Papa Edrick tidak sempat untuk menjawab perkataan Dara. Mama Rissa telah mengusir Dara, dia benar-benar memperlakukan Dara dengan kejam.
Mama Rissa menarik tangan Dara seraya mengusir perempuan yang sedang hamil itu. Tanpa merasa kasihan dia mendorong Dara hingga terjatuh. Dara mengaduh karena sakit mendera kakinya, namun sakit di kakinya tidak sesakit hatinya. Penolakan, hinaan dan cacian juga masih dilontarkan oleh Mama Rissa.
"Pergi dari rumahku dasar wanita murahan. Perempuan j*lang. Kamu tidak pantas untuk menjadi menantuku. Kamu hanyalah wanita murahan yang menjual tubuhnya untuk uang! Dasar wanita miskin!" Cacian yang terdengar tidak membuat Bastian merasakan empati dan menolong kekasih yang diputuskan secara sepihak itu. Sikap Bastian benar-benar seperti pecundang yang tidak dapat berbuat apapun untuk membela Dara.
Dara yang terjatuh segera berdiri dan menghapus jejak air matanya. Dia tidak ingin meneteskan air matanya karena pria seperti Bastian. Sudah cukup penolakan keluarga Bastian. Tidak perlu dirinya dihina dan dicaci seperti ini. Selama menjalin hubungan dengan Bastian, Dara selalu menolak pemberian Bastian yang dia ketahui harganya pasti mahal. Dia merasa tidak pantas dengan berbagai kemewahan yang diberikan, bahkan dia hanya mengontrak di rumah kecil yang memang cocok untuk ditinggali sendirian. Dia tidak pernah memanfaatkan kekayaan Bastian untuk membiayai hidupnya, Dara memiliki perasaan tulis terhadap pria yang telah membuangnya ini.
"Apa lagi maumu? Kamu mau meminta uang kan? Ini aku punya uang untukmu." Mama Rissa menuju meja dan mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan segepok uang lalu melemparnya ke hadapan Dara. Dara merasa sangat terhina oleh perlakukan Mama Rissa, hatinya sakit. Namun, hatinya lebih sakit karena Bastian tidak melakukan tindakan apapun untuknya.
"Cukup. Aku akan pergi dari sini dan tidak akan kembali lagi. Tetapi dengarkan perkataanku ini. Anak yang ada di dalam kandunganku adalah anak dari Bastian dan cucu darimu. Anda tidak bisa mengelak dari hal tersebut." Dara mengatakan hal tersebut dengan lantang dan dipelototi oleh Mama Rissa, belum sempat Mama Rissa akan menjawab perkataannya, Dara kembali berbicara.
"Dan kamu Bastian. Kamu adalah ayah dari janin yang ada dikandunganku. Namun, kamu tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat kepadaku. Aku mengutukmu! Aku mengutukmu Bastian dengan seluruh darah yang mengalir dalam janin yang ada dikandunganku. Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal karena perbuatanmu kepada kami. Kamu tidak akan pernah merasakan surga dunia lagi! Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu!" Dara mengatakan hal tersebut sambil menunjuk ke arah Bastian.
Di luar terlihat suara petir menyambar secara tiba-tiba langit pun menggelap, padahal sedetik yang lalu langit sore masih terlihat cerah. Usai mengatakan hal tersebut Dara keluar dari rumah Bastian. Dia tidak akan melupakan hinaan, cacian, dan pengusiran keluarga Anggara. Bastian yang mendengar kutukan dari Dara merinding dia merasa Dara telah menyumpahinya dengan sedemikian rupa. Ada sedikit perasaan takut yang melanda dalam dirinya. Tidak hanya Bastian, Mama Rissa dan Papa Edrick yang mendengar perkataan Dara itu juga hanya dapat terpaku mendengar kutukan dari Dara. Kutukan yang nantinya akan menjadi masalah besar dalam kehidupan mereka dan tentunya juga bagi kehidupan Bastian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Indah Rohmiatun
kapok syukur koe Babas
2025-02-25
0
Priskha
kapokmu kapan jal....
2025-01-24
1
Deliza Yuseva
tidak apa dara kamu tidak jdi menantu nya , mertua sombong .
2024-02-08
0