Tindakan Dara

Sepeninggalan kepergian Dara, Bastian dilanda kegelisahan. Dia tahu dirinya salah, membiarkan kekasihnya pergi begitu saja. Bastian sama sekali tidak membela Dara, padahal dia mengetahui janin yang berada dalam kandungan Dara adalah anaknya. Mama Rissa yang memperlakukan Dara secara tidak baik, dia mencaci dan menghina Dara. Saat Dara mengatakan hal tersebut, tubuh Mama Rissa menegang. Begitu pula dengan Papa Edrick, dia tercengang dengan hal yang dilakukan Dara. Dibenak ketiganya masih terngiang perkataan Dara.

[Aku mengutukmu! Aku mengutukmu Bastian dengan seluruh darah yang mengalir dalam janin yang ada dikandunganku. Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal karena perbuatanmu kepada kami. Kamu tidak akan pernah merasakan surga dunia lagi!]

Dengan penuh amarah Dara mengatakannya, kemudian wanita malang itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Anggara. Petir menyambar bersahut-sahutan diluar, kegelisahan menerpa diri Bastian. Dia masih sangat mencintai Dara tetapi dia tidak sanggup kalau harus hidup tanpa fasilitas dari orang tuanya. Dari kecil dia tidak dapat hidup susah, Mama Rissa sudah memperingatkannya bila dia masih menginginkan Dara maka dia harus melepaskan semua fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya. Tentu saja Bastian tidak ingin bersusah payah dari 0, dia membuang semua rasa cinta kepada Dara dan memutuskan wanita itu. Namun, dia tidak menyangka hasil perbuatannya yang hanya satu kali pada malam itu membuahkan benih di dalam rahim Dara. Bastian mengacak-acak rambutnya sendiri, dia kesal dengan kejadian tadi. Dirinya seperti pecundang yang tidak dapat berbuat apa pun.

"Bagaimana ini ma? Aku yakin ma, anak itu adalah anakku. Tidak mungkin dia berhubungan dengan pria lain. Aku sangat mengerti Dara." Perkataan Bastian membuat Mama Rissa murka. Dia sudah bersusah payah menghina dan mencaci wanita yang tidak bersalah itu, tetapi anaknya malah bersikap lemah.

"Lalu, apa yang kau inginkan? Kamu ingin menikahinya? Bagaimana dengan karirmu yang baru saja kau bangun? Kamu seharusnya berpikir sebelum bertindak. Mama tidak menyangka hubungan kalian telah begitu jauh." Mama Rissa mengatakan hal itu dengan berteriak-teriak. Hati nuraninya juga tercabik saat melakukan tindakan yang sangat tidak terpuji pada Dara. Kali ini air mata menggenangi wajahnya.

"Ma, sudah jangan emosi lagi. Nanti, darah tinggimu akan kambuh. Bastian sudah cukup! Kita tidak perlu membahas tentang wanita itu lagi. Dia telah pergi dari kehidupanmu, kamu tidak perlu mencarinya." Papa Edrick yang tadinya hanya diam tanpa melakukan dan berbicara akhirnya mengutarakan pendapatnya.

Papa Edrick mengetahui kalau bila perempuan muda yang bernama Dara itu adalah korban dari kebejatan anaknya sendiri. Namun, reputasi keluarga baginya juga nomor satu. Apa yang akan dikatakan oleh orang lain bila mengetahui menantunya berasal dari kalangan bawah? Lalu, bagaimana tanggapan orang lain bila mengetahui kalau pernikahan anaknya terjadi karena menantunya telah hamil terlebih dulu? Bisa hancur sudah reputasi yang telah dibina. Alasan Edrick Anggara menikahi Rissa Ticha Pratama adalah karena Rissa merupakan putri dari keluarga Pratama. Keluarga kalangan atas yang dapat menaikkan derajat keluarganya dan membantu perusahaannya. Tentunya dia juga ingin mempunyai menantu dari kalangan yang sama.

"Tapi, Pa aku --," ucap Bastian yang masih ingin membicarakan tentang Dara.

"Sudah cukup membicarakan gadis itu. Kamu tidak perlu lagi menambah masalah dalam keluarga ini. Cukup belajar dan kamu akan menggantikan Papa di perusahaan. Nanti, kami yang akan mencarikan isteri yang pantas untukmu." Papa Edrick memotong perkataan Bastian yang sepertinya masih ingin membahas tentang Dara. Dia membawa Mama Rissa ke kamar untuk beristirahat. Kepalanya berdenyut sangat sakit saat mengetahui anaknya telah menghamili Dara.

"Aku masih mencintainya, namun aku tidak dapat hidup dengannya." Bastian hanya dapat bergumam sendiri, dirinya dipenuhi oleh kegelisahan yang dia tidak tahu sebabnya. Bastian tidak tahu bahwa suatu saat kutukan yang dikatakan oleh Dara akan membayangi hidupnya selamanya.

***

Setelah melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Anggara, Dara menyusuri jalan dengan berjalan kaki. Hidupnya telah hancur, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kehidupannya benar-benar pelik, ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Dari kecil telah menjadi yatim piatu kemudian tinggal di panti asuhan. Dengan berbagai cara dia dapat melanjutkan sekolahnya bahkan sampai bangku kuliah dengan beasiswa. Namun, kehancuran ini terjadi karena hubungannya dengan Bastian. Dia menyesal mempercayai perkataan manis pria tersebut.

Menyusuri jalan sambil menangis, Dara menuju sebuah jembatan yang dibawahnya terdapat berbagai kendaraan sedang berlalu lalang. Hari telah malam saat ini, dia menangis sambil memandangi berbagai kendaraan yang lewat di bawahnya. Pikirannya tiba-tiba kosong, dia membayangkan bagaimana perlakuan masyarakat kepada wanita sepertinya.

"Dengan siapa gadis itu hamil? Siapa ayah dari gadis itu?"

"Dasar perempuan murahan, pantas saja dia hamil duluan. Bahkan tidak ada yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya!"

"Pergi kamu perempuan j*lang!

"Dasar anak haram!"

Dara dapat membayangkan label apa yang akan dikatakan oleh masyarakat, terutama untuk anaknya. Dia tidak ingin anaknya mengalami semua perundungan karena tidak memiliki ayah. Mengingat Bastian kembali menimbulkan luka dalam dirinya. Dia masih menangis meratapi nasibnya itu, sampai akhirnya terbersit kegiatan yang dapat mengakhiri semuanya.

"Apa aku akhiri saja hidupku ini?" Terbesit keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Dara sudah tidak memiliki apa pun. Janin dikandungannya juga tidak akan memiliki ayah. Dara masih menangis meratapi nasibnya yang sangat tragis.

Untuk kembali ke panti asuhan pun dia tidak ingin, karena dia tahu pandangan orang lain terhadapnya. Apa yang harus dia lakukan? Bila dia mengakhiri hidupnya tentu semuanya selesai. Dia tidak akan merasakan sakit dan anaknya juga akan terhindar dari berbagai cercaan masyarakat. Dara meyakinkan dirinya untuk mengakhiri hidupnya agar tidak lagi merasakan penderitaan yang dialaminya.

"Maafkan mama ya, Nak. Kita sebaiknya pergi saja dari dunia ini. Tidak ada yang menginginkan kehadiran kita. Mama juga tidak mampu merawatmu seorang diri. Mama takut akan omongan orang di luar sana." Dara memegangi perutnya sambil berbicara kepada janinnya, dia tahu perbuatannya ini salah. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain.

Dara menaiki jembatan itu, karena tidak ada orang yang lalu lalang tentunya tidak ada yang mencegahnya menaiki jembatan di depannya. Dia sudah pasrah karena menganggap tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh olehnya. Dia tidak tega menggugurkan dan membunuh janinnya sendiri, namun juga tidak sanggup untuk melahirkan anak ini seorang diri. Dara tahu berbagai rintangan akan mengiringi hidupnya bila mempertahankan janin dalam kandungannya

"Selamat tinggal Bastian. Aku akan membawa anak ini bersamaku. Dunia terlalu kejam untuk kami," gumam Dara yang kemudian memejamkan mata ingin terjun ke bawah dari jembatan.

"Apa yang kau lakukan?" Terdengar suara teriakan seorang pria.

Terpopuler

Comments

Amilia Indriyanti

Amilia Indriyanti

lulusan mahasiswa beasiswa kok pekok ke minta ampun. bodoh.
kelemahan penulis adalah suka membuat logika kontradiktif dan kebalik2.
katanya pinter tp nyatanya goblog

2024-02-10

0

Deliza Yuseva

Deliza Yuseva

alhamdullilah ada yg lewat...

2024-02-08

0

Putri Dhamayanti

Putri Dhamayanti

aseekk ada yg nolongin Dara

2024-02-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!