Teman Lama

Pria yang panik itu membopong Dara memasuki rumah sakit. Sejak perjalanan ke rumah sakit Dara belum juga tersadar, suhu tubuhnya sangat panas. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Dara, pria tersebut tergesa-gesa datang memasuki rumah sakit. Saat ini, dia teriak memecahkan keheningan malam di ruang IGD rumah sakit.

"Tolong, tolong bantu saya dokter!" ucap pria yang masih sangat panik.

Petugas di ruang IGD segera bangkit dan mengarahkan agar Dara diletakkan di brankar rumah sakit. Dokter dengan sigap memeriksa Dada yang masih tampak pucat. Suhu tubuh Dara juga sangat tinggi sehingga dokter harus dengan segera menindak Dara.

"Maaf, apa pasien sedang hamil? Saya menduga pasien sedang dalam keadaan hamil." Pria itu terkejut mendengar perkataan dokter, dia tidak tahu Dara sudah menikah. Komunikasi antara mereka sudah terputus bertahun-tahun lamanya sejak terakhir dia di panti asuhan.

"Saya tidak tahu dok, saya adalah orang yang membantu pasien saat dia ingin mengakhiri hidupnya." Dengan jujur pria itu menjawab perkataan dokter. Dokter yang memeriksa Dara mengerutkan dahinya.

"Sementara saya hanya akan menginfusnya terlebih dahulu dan menunggu pasien sadar. Sebaiknya pasien di rawat inap karena kondisinya sangat lemah. Rekan saya nanti akan memeriksa lebih lanjut tentang dugaan saya tentang kehamilan pasien." Pria yang masih terpaku oleh perkataan dokter itu hanya menganggukan kepalanya, sambil memperhatikan teman lamanya yang sedang terbaring tidak berdaya.

Setelah mengatakan itu, Dokter yang memeriksa bermitan untuk dapat melakukan pekerjaannya yang lain. Pria itu segera mengurus administrasi agar Dara segera mendapatkan kamar untuk rawat inap. Setelah proses administrasi itu selesai, segera perawat memindahkan Dara ke ruang rawat. Selama proses tersebut, Dara masih memejamkan matanya.

"Apa yang terjadi padamu Dara? Mengapa kau sampai ingin melakukan hal yang sangat berdosa?" Pria itu mengelus tangan Dara kemudian menggenggamnya.

Pria itu adalah Julian Prima Herlambang, anak angkat dari keluarga Herlambang yang terkemuka di daerah Bandung. Dia merupakan anak dari panti asuhan yang sama dengan Dara. Setelah dia diadopsi, dia tidak pernah berkomunikasi kembali dengan Dara. Dara adalah teman lamanya, sahabatnya yang paling dekat dengannya. Saat Julian di adopsi, Dara adalah orang yang paling bersedih. Julian berjanji pada Dara akan sering menjenguknya, namun keluarga Herlambang saat itu pindah ke Amerika hingga Julian selesai kuliah. Saat ini, Julian sudah kembali ke Bandung untuk memimpin perusahaan keluarganya karena orang tuanya sudah lama meninggal dan mewariskan perusahaan Herlambang kepadanya.

"Uh, sakit..." Dara melihat ke arah samping dan melihat Julian sedang menggenggam tangannya. Dia melihat pria itu dengan seksama, rasanya sangat familiar bagi dirinya.

"Apa yang sakit Dara? Kau jangan langsung bangun dulu, tidurlah terlebih dahulu." Julian meminta Dara untuk merebahkan tubuhnya saja.

"Haus." Dara yang kehausan hanya dapat mengucapkan beberapa patah kata. Julian segera mengambilkan segelas air dan meminumkannya kepada Dara dengan dibantu oleh sedotan. Dara meminum air putih itu hingga tandas.

"Dara, kamu masih sakit? yang mana yang sakit? Aku akan memanggilkan suster terlebih dahulu." Julian segera memencet tombol darurat untuk memanggil suster. Suster yang datang menanyakan kondisi Dara terlebih dahulu.

"Ada apa, Pak? Ada yang perlu saya bantu?" tanya suster tersebut kepada Julian. Julian segera bangkit karena suster ingin memeriksa kondisi Dara.

"Tadi dia mengeluh sakit Sus, hanya saja saya tidak tahu bagian mana yang sakit." Julian berkata kepada Suster.

Suster memeriksa kondisi Dara, demam yang melanda Dara sudah mulai mereda. Suster juga memeriksa tensi darah dari Dara yang ternyata menunjukkan angka normal.

"Kondisi Pasien sudah tidak apa-apa. Namun, besok hari telah dijadwalkan untuk USG karena dokter menduga pasien sedang hamil. Nanti akan diperiksa lebih lanjut oleh Dokter Obgyn tentang kondisi pasien karena kemungkinan sakitnya pasien saat ini berkaitan dengan kandungannya." Suster memberitahukan keadaan pasien dengan Julian, setelah berterima kasih suster berpamitan kepada Julian.

Hening tak lama melanda keduanya, Julian tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Dia hanya menatap Dara khawatir dan menanyakan tentang hal yang dirasakan oleh perempuan itu.

"Bagaimana? Apa bagian yang masih sakit?" Julian berkata pada Dara dengan lembut. Dara tidak memerhatikan pertanyaan Julian, netranya fokus melihat pria tampan yang sedang duduk di brankar samping dia berbaring.

"Apa aku mengenalmu?" Dara menanyakan itu sambil terus mengamati wajah Julian, dia seperti sangat mengenali wajah tersebut. Namun, Dara yang berusaha mengingat wajah pria itu, belum bisa mengingatnya dengan baik..

"Kau sudah lupa denganku?" Julian masih menggunakan nada suara yang sangat lembut kepada Dara. Wanita yang ditanyai itu hanya menatap Julian dengan penuh penasaran.

"Aku Julian." Saat mengatakan hal itu, netra Dara menjadi teduh lalu tanpa terasa air mata jatuh di pipinya, Dara tentu mengingat pria di depannya. Mengapa takdir baru mempertemukan mereka sekarang? Saat dirinya sudah tidak pantas bahkan untuk siapa pun di dunia ini.

Terpopuler

Comments

Putri Dhamayanti

Putri Dhamayanti

aiiihh benar tebakan aku, klo pria baik hati itu temannya Dara saat di panti...😯 okey Julian yaa namanya...eumm, semoga kalian berjodoh yaa

2024-02-01

0

Ida Miswanti

Ida Miswanti

🤔 Julian Cinta pertama Dara kah???

2023-12-22

0

Mamah Kekey

Mamah Kekey

semoga Julian lelaki baik...

2023-12-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!