"Sayang kok belum berdiri?" Safira menatap dengan tercengang pusaka milik Bastian. Suaminya memerah mendengar perkataan dari Safira. Bastian merasa malu dengan hal yang dikatakan oleh Safira. Dia merasa sangat canggung saat Safira mengetahui hal itu.
"Ah, sudahlah. Memangnya kamu tahu apa?" Bastian segera memakai kembali pakaiannya. Hilang sudah keinginannya untuk menghabiskan malam dan bercengkrama dengan isterinya. Dia merasa malu dengan kejadian ini. Padahal ini adalah malam pertama yang harusnya dijalani dengan syahdu. Sedari tadi dia terus mengingat Dara dan perkataannya yang sangat mengganggu pikirannya.
"Apakah mungkin itu karena kutukan dari Dara? Mungkinkah kutukan tersebut menjadi kenyataan?" Berbagai pikiran dan pertanyaan muncul dalam benak Bastian, pria itu ingin bingung untuk membicarakan tentang privasinya ini kepada orang lain. Bila membicarakan dengan Mamanya pasti dia akan langsung marah karena tidak ingin mendengar kembali tentang mantan kekasihnya itu.
Bastian akhirnya tertidur dengan memunggungi Safira. Gagal sudah malam pertama yang dinanti-nantikan keduanya. Bastian saat ini hanya pura-pura marah kepada isterinya dan berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Apa suamiku impoten?" Safira bertanya-tanya dalam hati, dia tentunya pernah melihat film tentang hubungan suami isteri. Dia bukanlah wanita yang sangat lugu tidak tahu, bagaimana seharusnya pusaka seorang bila ingin melakukan hubungan suami isteri.
Wanita yang baru saja melepas masa lajangnya itu melihatnya suaminya yang terlihat marah lalu berbaring memunggunginya, Safira terlihat sedih. Dia hanya menatap nanar punggung yang membelakanginya tersebut. Safira merasa bersalah juga setelah mengatakan hal yang mungkin menyinggung suaminya.
"Aku yakin, tidak seperti itu pusaka seorang pria bila hendak berhubungan." Safira masih tidak menyangka dengan keadaan suaminya, dia penasaran dengan yang terjadi. Apakah perkiraannya benar atau memang pada saat pertama kali melakukannya sulit juga bagi laki-laki. Safira sering kali mendengar percakapan dari temannya bahwa tidak langsung pada malam pertama mereka berhasil melakukannya.
"Yah, aku berhasil saat malam kedua." Dia teringat saat ada salah satu teman kuliahnya yang sudah menikah membicarakan hal yang sebenarnya sangat pribadi itu. Safira saat ini masih dapat berpikiran positif dan menganggap itu merupakan kejadian biasa. Akan tetapi, berbagai pemikiran aneh muncul dalam hatinya. Benarkah ini hanya pikiranku saja atau memang suaminya tidak bisa melakukan hal tersebut.
Pikiran juga berkecamuk dalam benak Bastian, dia mengingat kejadian lima tahun silam saat dengan mudah melakukan hal tersebut dengan Dara. Bastian tidak mengalami kesulitan sama sekali karena memang dia sudah sangat ingin melakukannya dengan Dara. Dia hanya sulit saat menjebol pembatas yang ada dalam diri Dara. Pikirannya melayang, tidak mungkin kali ini dia tidak dapat melakukan dengan isterinya sedangkan dia dapat dengan mudah melakukan dengan mantan kekasihnya, Dara.
Akhirnya sepasang pengantin baru itu tertidur dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk dalam hati mereka.
🍃🍃🍃
Pagi menjelang, mentari menyinari bumi, sinarnya menembus jendela yang berada di balkon hotel tempat sepasang pengantin baru menginap. Masih dengan perasaan yang tidak menentu Bastian bangun terlebih dahulu dari tidurnya. Dia menatap wajah Safira yang terlihat cantik sedang terpejam.
"Maaf, maafkan aku Safira." Dia mengingat bagaimana perlakuannya semalam yang langsung marah dan kesal pada isterinya tersebut. Padahal Safira tidak melakukan kesalahan apa pun, ini merupakan murni kondisi tubuhnya yang bisa dikatakan tidak normal untuk ukuran pria.
"Kamu tidak boleh mengetahui masa laluku dengan Dara. Apa pun yang terjadi aku akan menjaga pernikahan kita agar tetap utuh." Bastian bergumam dengan masih menatap Safira. Dia membelai wajah Safira dengan lembut dan mengusap pelan kepala isterinya dengan penuh kasih sayang.
Merasakan gerakan tangan di atas kepalanya Safira terganggu dan terbangun dalam tidurnya. Wanita itu bangun dengan perasaan canggung karena teringat bagaimana mereka tertidur satu sama lain dengan perasaan yang gundah dan tindak menentu. Keheningan menyelimuti keduanya, belum ada yang memulai percakapan di antara keduanya.
"Maaf, aku terlalu emosi semalam. Aku tidak dapat mengendalikan diriku dan menyakiti hatimu." Bastian mengalah dengan mengucapkan meminta maaf terlebih dahulu kepada Safira. Dia mengecup tangan isterinya dan menatapnya dengan penuh harap untuk dimaafkan oleh isterinya.
Safira tersenyum melihat kesungguhan dari Bastian. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut, walaupun permasalahan yang mungkin dihadapi oleh keduanya bukanlah masalah yang dapat diatasi dengan mudah.
"Maukah kau memaafkanku? Aku sangat menyesal atas perbuatanmu semalam." Bastian mengungkapkan lagi rasa penyesalannya kepada Safira. Safira diam dengan berbagai pikiran yang menyeruak di dalamnya. Dia ingin membahas tentang kegiatan mereka semalam tetapi dia rasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.
Safira menganguk yang menandakan dia memaafkan Bastian. Wajah Bastian yang tadinya murung menjadi sumringah dan pria itu memeluk erat isterinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Putri Dhamayanti
jangan dikasih sembuh...😁
2024-02-01
0
Usmi Usmi
mampus tu cicak gak gerak LG🤣🤣
2023-12-04
1
Rezha Walen
Hahahaaaaaaaa...
Nikmatilah kutukan dari wanita teraniaya yg SDH menjadi yatim piatu it Bastian.😄😄😄😄
2023-10-31
0