Setelah peristiwa yang merenggut kesucian Dara, Bastian masih bersikap seperti biasa. Dia tetap memperlakukan Dara layaknya sepasang kekasih. Bastian berjanji kepada Dara, mereka tidak akan melakukan hal tersebut lagi sebelum mereka menikah. Pria tersebut juga berjanji untuk menikahi Dara setelah dia memberitahukan hubungan mereka kepada keluarganya.
Di tengah kesibukan Bastian yang sudah mulai bekerja di kantor milik keluarganya, dia selalu menyempakan untuk bertemu dengan Dara. Dara sendiri sedang mencari pekerjaan, namun dia menolak saat Bastian ingin merekomendasikan Dara untuk bekerja di kantor milik keluarganya. Seperti kali ini, mereka sedang menonton di suatu mall yang berada di kawasan Semanggi. Selesai menonton, Bastian mengajak Dara untuk makan malam terlebih dahulu.
"Bas, kamu di sini juga? Kenapa tidak bilang sama mama? Kita bisa makan malam bersama." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik menyapa Bastian. Di sapa seperti itu, Bastian menjadi sangat gugup. Di depannya berdiri Mamanya, orang yang sangat tidak ingin Bastian temui saat bersama dengan Dara.
"Eh, iya ya mam. Maaf, Bastian juga ga tau Mama mau ke mall ini untuk makan malam." Dengan canggung Bastian tersenyum menanggapi perkataan Mama Rissa.
"Ini siapa? Cantik sekali." Mama Rissa menyapa Dara sambil tersenyum. Dara yang melihat sikap ramah dari Mama Bastian tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah Mama Rissa.
"Dara, Tante." Mama Rissa menerima uluran tangan dari Dara, gadis manis itu tersenyum dan mencium tangan Mama Rissa. Wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu mengajak Bastian dan Dara untuk makan malam bersama. Setelah itu mereka mengobrol ringan sekaligus Mama Rissa menggali tentang Dara. Dia ingin mengetahui tentang gadis yang nampaknya menjadi kekasih anaknya. Akhirnya, Dara pulang bersama Bastian dan Mama Rissa juga pulang bersama dengan supir yang telah menunggunya.
Dalam perjalanan pulang Mama Rissa, dia menghubungi detektif kenalannya untuk mencari tahu tentang Dara. Dia ingin informasi yang lengkap tentang gadis muda itu. Saat berkenalan dengan gadis tersebut memang kesannya cukup baik namun Mama Rissa perlu memperhatikan latar belakang keluarga Dara.
"Aku ingin kau mencari tau tentang gadis ini. Informasinya harus lengkap, aku membutuhkannya secepatnya." Setelah mengatakan hal tersebut, Mama Rissa memutuskan komunikasi. Dia menatap nanar jalan yang dilaluinya melalu jendela mobil. Pikirannya terus memikirkan gadis yang jalan bersama anak semata wayangnya.
"Semoga apa yang menjadi ketakutanku tidak menjadi kenyataan," batin Mama Rissa sambil masih memikirkan gadis yang bersama anaknya. Ketakutan menjalar dalam dirinya, dia berdoa semoga hasil dari informasi yang dicari oleh detektif tersebut tidak sesuai dengan perkiraannya.
***
Dua bulan setelah pertemuan Dara dengan Mama Rissa, Dara masih berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi yang dia miliki. Ternyata sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan di zaman ini kecuali memiliki koneksi berupa orang dalam. Namun, di tengah dia mencari pekerjaan, pagi itu masih berjalan seperti biasa. Akan tetapi, saat dia ingin sarapan perutnya seperti diaduk-aduk. Dia segera berlari ke wastafel dan memuntahkan cairan berwarna kuning. Pahit sekali rasa mulutnya, kepalanya juga terasa sangat pening. Mencoba berjalan menuju meja, dia tertatih berjalan sambil menutup mulutnya. Dirinya terasa sangat mual.
"Apa yang terjadi pada diriku?" Dara mengerinyit heran sambil berpikir dan mengingat kembali tamu bulanan yang seharusnya sudah dia dapatkan. Dia memang belum mendapatkan tamu bulanannya sudah dua bulan ini. Dara melihat kalender pada ponselnya, dia selalu melingkari tanggal yang berada di kalendernya untuk mengingat hari terakhir dia menstruasi.
"Mungkinkah?" Matanya membulat dengan berbagai pikiran yang berputar dalam kepalanya, dia memahami tanda-tanda yang dialami olehnya ini juga dialami oleh wanita yang sudah menikah. Mendadak rasa pusing menderanya, akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat saja pagi itu. Dara berjalan perlahan menuju kamarnya dan membaringkan dirinya di tempat tidur, Dara berusaha memejamkan matanya. Namun, berbagai pikiran masih berkecamuk melanda hatinya.
"Semoga pikiranku tidak benar terjadi," batin Dara sambil masih berusaha memejamkan mata sambil tertidur miring memandangi jam dinding yang berdetak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Putri Dhamayanti
hamil, belum kerja, sebatang kara...mesak'e dara 🥺
2024-02-01
1
Rezha Walen
akibat kebodohan Duniaaaaaa
2023-10-31
1
Dewi @@@♥️♥️
Hamidun dech si dara
2023-10-19
0