Dara menaiki batas dari jembatan ini, kenangan bersama Bastian terus berputar dalam benaknya.
Kenangan itu seolah-olah mencemoohnya karena yang terjadi sekarang sangat bertolak belakang dengan janji dari Bastian. Bastian pernah menjadi pusat semesta dari dirinya, sulit sekali baginya menerima kenyataan bahwa pria tersebut hanya dapat menyesap manis madu dari dirinya.
"Aku berjanji akan menikahimu." Teringat Dara akan janji manis dari Bastian. Janji hanyalah janji, tidak akan pernah dapat ditepati oleh Bastian.
Hatinya sangat perih dan terluka menyadari tidak ada masa depan antara dia dan janin yang ada dikandungannya. Bahkan, ayah kandungnya saja tidak ingin mengakui keberadaannya. Air mata terus mengalir dipipi Dara. Dara menaiki jembatan itu, dia berpegang kepada besi yang berada di sana.
"Selamat tinggal kekasihku, Bastian. Aku akan pergi bersama anak kita dan akan melupakanmu." Dara bermonolog kepada dirinya sendiri.
Saat ini, Dara telah berpegangan di sisi sebaliknya dari jembatan. Dia melihat ke arah bawah, berharap hanya sebentar rasa sakit yang akan dideritanya. Sehingga, dia tidak kesakitan dan langsung menuju ke alam lain. Dirinya sebenarnya takut, dia masih memegang dengan erat besi yang sekarang berada di sisi belakang tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" Terdengar suara teriakan seorang pria.
Teriakan tersebut membuat Dara terkejut, dia melepaskan satu tangannya. Pria yang berteriak itu langsung memegang tangannya dan mencoba untuk membantu Dara.
"Lepaskan! Lepaskan diriku! Aku akan pergi dari dunia ini!" Dara yang tangannya masih dipegangi oleh pria di depannya meronta-ronta agar dilepaskan pegangan tangannya.
"Tidak, kamu tidak boleh bertindak sembarangan! Bunuh diri adalah dosa besar. Kamu tidak dapat kembali lagi. Setidaknya pikirkan satu hal yang dapat membuatmu harus tetap hidup!" Pria itu mengeluarkan kata-kata yang membuat bimbang Dara. Masih memegang tangan Dara, Pria itu mencoba mengangkat dan membantu tubuh Dara agar kembali ke sisi jembatan. Dengan susah payah akhirnya Dara berhasil selamat.
"Apa yang kamu lakukan? Tidak boleh berpikir untuk mengakhiri hidupmu walaupun dunia ini sangat kejam. Kamu harus tetap bertahan sampai titik darah penghabisan. Pikirkan orang yang kau sayangi." Pria tersebut mengguncang bahu Dara untuk menyadarkan Dara karena tindakannya sangat tidak boleh dilakukan. Seberat apa pun masalah yang kamu hadapi pasti hal itu akan terlewati. Semua masalah akan dapat diselesaikan bila dihadapi dengan baik dan bijak.
Dara hanya menangis mendengar kata-kata pria di depannya ini. Dia tidak dapat berpikir jernih ketika Bastian dan keluarganya menolaknya dan janin yang dia kandung. Dara tidak kuat dengan cemoohan yang mungkin akan didengar olehnya. Dia seolah dapat mendengar kata-kata sumbang dari orang lain.
"Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup lagi untuk hidup. Tidak ada yang menyayangiku dan bayiku." Dara merancau sambil terus menangis. Kemudian, wanita hamil itu berlari dan menaiki besi pembatas jembatan. Namun, pria itu lebih kuat sehingga bisa menariknya dan membawanya ke dalam dekapan pria itu.
"Biarkan! Lepaskan dan biarkan aku pergi! Aku tidak ingin lagi ada di dunia ini. Semuanya tidak menyayangiku. Dia hanya berjanji dan tidak menepatinya." Dara masih saja menangis dalam dekapan pria asing yang menolongnya. Pria itu seperti merasakan penderitaan wanita yang ada dalam dekapannya. Dia hanya menenangkan wanita itu. Namun, tiba-tiba Dara jatuh lunglai tidak berdaya. Dia pingsan, dengan tergopoh-gopoh pria itu menuruni tangga jembatan. Terlihat sebuah mobil dipinggir jalan dan seorang pria paruh baya yang merupakan supir pria itu. Supirnya hanya melihat majikannya itu sambil tercengang.
"Tuan, apa yang terjadi?" Dia menanyakan hal tersebut sambil membantu Tuannya meletakkan tubuh Dara di kursi yang terdapat di belakang kemudi. Pria itu duduk dan memangku kepala Dara di pahanya.
"Benar dugaanku, wanita ini ingin bunuh diri, Paman. Sekarang dia pingsan, mari kita bawa ke rumah sakit." Mendengar interuksi dari Tuannya, supir tersebut melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit. Laju mobil terasa sangat lambat baginya, padahal sang supir telah melakukan mobil di atas kecepatan rata-rata.
"Lebih cepat, Paman. Aku khawatir dengan kondisi wanita ini." Pria itu memerintahkan untuk mempercepat laju kendaraan. Sementara itu, pria yang tadinya belum bisa mengenali wanita yang nekat ingin mengakhiri hidupnya ini melihat dengan jelas wajah Dara. Pria itu terkejut, ternyata dia mengenal wanita yang berada dipangkuannya.
"Ya Tuhan, Dara. Apa yang menimpamu sampai kamu nekat berbuat hal seperti tadi? Apa masalah yang dihadapi begitu berat sampai kau ingin mengakhiri hidupmu?" Pria itu bermonolog sendiri memikirkan wanita yang berada dipangkuannya. Tanpa dia sadari, benang merah mengikat kembali takdir mereka. Kedua insan yang sempat terpisah karena suatu hal kini dipertemukan dengan kondisi yang berbeda dan cara yang sangat mengejutkan.
"Aku mohon bertahanlah, Dara. Aku sudah ada di sampingmu." ucap pria yang sedari tadi mengkhawatirkan keadaan Dara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Putri Dhamayanti
hahh...siapakah pria yg baik hati itu?? temannya Dara waktu sama2 di panti kah?
2024-02-01
1
Mamah Kekey
semoga pria itu jodohnya dara
2023-12-21
1
Rezha Walen
waaaaahhhhhh....
ternyata Dara ad pengemar jg eaaaaaa....semoga Dara jd jodoh peria it
2023-10-31
1