Tiga hari setelah peristiwa pengusiran Dara, Bastian mencari keberadaan dari Dara namun wanita itu hilang bagaikan debu. Pria yang tidak ingin bertanggung jawab kepada Dara itu mencari di kontrakan Dara tepat tiga hari setelah kejadian Dara diusir dari rumahnya. Dia sebenarnya tidak tahu harus mengatakan hal apa kepada Dara, ingin meminta maaf pun rasanya terlalu malu. Dengan tega dia tidak menghiraukan Dara yang meminta pertanggung jawaban pada hari itu. Bila mengingatnya, Bastian selalu merasa miris ada darah dagingnya dalam diri Dara namun dia mengelaknya.
"Dara, sayang ini aku. Tolong buka pintunya." Bastian mengetuk-ngetuk pintu kontrakan Dara tetapi tidak ada yang menyahuti atau membukakan pintu, Bastian mengintip dari celah jendela tetapi rumah kontrakan tersebut tampak kosong. Bastian belum menyerah dan tetap mengetuk pintu rumah itu.
"Dara, buka pintunya sayang. Maafkan aku." Bastian kembali mengetuk pintu sambil berteriak dengan kencang kali ini. Sampai tetangga yang berada di samping rumah kontrakan Dara keluar dari rumahnya.
"Mas, cari Dara ya?" Tetangga Dara yang memang biasa melihat Bastian ke kontrakan kekasihnya menegur Bastian yang sedari tadi hanya mondar mandir di depan kontrakan Dara. Dia bingung karena dari tadi mengetuk pintu tidak ada yang menyahuti apa lagi membuka pintu untuknya.
"Iya Mbak, Daranya kemana ya?" Bastian bertanya dengan perasaan yang resah dia takut telah sangat terlambat. Dia nekat mendatangi kontrakan Dara tanpa sepengetahuan dari Mama Rissa. Entah seperti apa reaksi mamanya bila mengetahui Bastian datang ke sini.
"Sepertinya Dara sudah pindah sepertinya, Mas. Semalam ada beberapa orang yang mengangkut beberapa barang dari kontrakan Dara." wanita berumur sekitar 35-an itu menatap Bastian dengan rasa penasaran. Bastian memang kerap kali mampir ke kontrakan Dara, dia dapat membuat kesimpulan bahwa Bastian merupakan kekasih dari Dara. Namun, mana mungkin kekasih tetangganya ini tidak mengetahui kepergian dari Dara.
"Baiklah, kalau begitu Bu. Saya permisi ya Bu." Putus asa mendengar perkataan dari tetangga Dara, Bastian segera pergi dari kontrakan Dara. Dia tidak tahu harus mencari Dara ke mana. Namun, dia saat ini menuju ke panti asuhan tempat mantan kekasihnya dibesarkan.
"Maaf, sudah cukup lama Dara tidak mengunjungi panti asuhan ini. Saya juga sudah lama tidak berkomunikasi dengan Dara." Perkataan Kepala Panti itu sekali lagi memupuskan harapan Bastian untuk bertemu dengan Dara. Dia ingin meminta maaf atas segala perkataan, hinaan, dan cacian Mama Rissa. Terlebih lagi dia tidak membela kekasihnya itu di hadapan keluarga dan memilih tidak bertanggung jawab. Dengan lesu dia meninggalkan panti asuhan dan pulang ke rumahnya.
🍃🍃🍃
Sesampainya di rumah Bastian menghadapi Mama Rissa yang tengah menunggunya di ruang tengah. Mama Rissa menampilkan wajah yang marah dan kecewa terhadap anaknya tersebut. Dia mengetahui tindak tanduk anaknya yang masih saja mencari Dara.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengunjungi rumah kontrakan wanita murahan itu?" Mama Rissa ternyata memata-matai anaknya, dia yakin Bastian tidak semudah itu akan menurut dengan perkataannya untuk menjauhi Dara setelah tahu wanita itu mengandung benihnya.
"Maaf ma, aku hanya... hanya..." Bastian menggaruk kepalanya kebingungan menjawab pertanyaan Mama Rissa.
"Mama tidak ingin lagi mendapatkan laporan kalau kamu masih mencari wanita pembawa sial itu. Kalau kamu masih tidak mendengarkan kata-kata Mama bersiaplah untuk menjadi gelandangan." Mama Rissa mengancam Bastian dengan mengusirnya, Bastian tahu ancaman dari Mamanya tidak main-main.
"Aku hanya ingin bertemu terakhir kalinya dengan Dara karena memang dia mengandung anakku." Bastian berkata lirih, pupus sudah cinta pertamanya akibat kelalaiannya sendiri. Seharusnya dia dapat bersabar dan membawa Dara untuk dapat bersanding dengannya. Bukannya membuang begitu saja setelah menyesap manisnya madu dari Dara.
🍃🍃🍃
Sementara itu, seorang wanita yang sudah mengetahui dirinya hamil sedang meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang dibuatnya telah tepat. Dia akan meninggalkan kota ini bersama sahabat lamanya, Julian. Dia akan memulai hidup baru bersama dengan anak yang ada dalam kandungannya.
Malam itu, setelah berhasil diselamatkan oleh Julian, hidupnya malah terasa hampa dan bernar Dia hampir mengiris nadinya lagi, namun Bastian menggagalkan usaha untuk mengakhiri hidupnya kembali.
"Lepaskan, aku sudah tidak berguna lagi, aku tidak suci. Tidak ada lagi yang menginginkanku." Dara memberontak dari dekapan Julian. Dengan segera petugas kesehatan datang dan memberikan obat penenang untuk Dara.
"Kondisi Nyonya Dara tampaknya sangat mengkhawatirkan. Dia tampaknya memiliki trauma yang mendalam kondisinya ini sangat berbahaya bagi janinnya. Saya memberikan saran Anda dapat terus menemaninya agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan," kata dokter yang memberikan obat penenang untuk Dara. Dokter itu kemudian permisi setelah berdiskusi beberapa hal dengan Julian.
Julian dengan sabar menanti Dara untuk bangun, dia harus memberikan pengertian kepada wanita itu untuk tidak lagi mencoba mengakhiri hidupnya.
"Uhhh... Haus..." Dara yang telah bangun melenguh , rupanya wanita itu kehausan. Julian dengan sabar memberikan air minum kepada Dara. Dengan perlahan Julian mencoba untuk berbicara kepada Dara untuk dapat meyakinkannya bahwa hidupnya sangat berharga.
"Dara, aku tidak tahu hal yang sudah kamu lalui seberat apa. Namun, aku ingin kamu lebih menghargai hidupmu. Apalagi saat ini ada janin dalam tubuhmu. Ada kehidupan baru yang semua dimulai dari dirimu sendiri." Dara hanya terdiam dan menatap Julian dengan tatapan kosong.
"Kamu bisa bersandar kepadaku. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak berjanji. Saat ini juga kita bisa bersama kembali." Telah lama Julian mencari Dara namun dia tidak dapat menemukannya, sehingg saat inilah yang tepat untuk menggapai cintanya pada Dara.
"Aku tidak pantas untukmu. Pergi saja dari hidupku. Aku ingin pergi dari dunia ini." Dara terus merancau aneh dan berusaha mencabut selang infusnya. Julian mendekapnya dan mencegah perbuatan bodoh Dara.
"Kamu pantas untukku. Ayo kita pergi dari sini, pergi ke kotaku. Kita akan membuka lembaran baru yang indah berdua. Lupakan semua hal yang menyakitimu. Kita mulai semuanya dari awal." Julian memang tidak menjanjikan apa pun. Namun, dia ingin membuktikan pada Dara bahwa dia dapat menerima wanita itu dengan tulus.
"Aku merasa tidak pantas. Aku lelah dengan hidup ini. Aku ingin mengakhirinya saja." Masih dengan pendapatnya Dara tetap berpendirian bahwa dia tidak pantas untuk siapa pun apalagi pada Julian yang merupakan teman kecilnya yang disayangi. Dia tidak ingin Julian menanggung semua tanggung jawab apalagi sampai menerima hinaan dari masyarakat karena Dara.
"Aku saat ini sedang hamil dan orang yang mestinya bertanggung jawab terhadapku tidak menginginkan anak ini!" Dara sedikit emosi ketika mengatakan hal itu.
"Aku.. Aku akan bertanggung jawab, anak ini akan menjadi anakku." Perkataan Julian meluluhkan hati Dara. Dia akhirnya mengangguk dan setuju untuk pergi bersama Julian membuka lembaran baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Putri Dhamayanti
Baik banget sih kamu Julian...mba Dara, klo msh galu2 gt mending ke psikolog. Siapa tau dg curhat2 bs legaa dan ikhlas hatiny
2024-02-01
1
Rezha Walen
Sgt mulia bget hati Pria it,semoga Julian & Dara langeng ea
2023-10-31
2
Afternoon Honey
terus menyimak membaca...
2023-10-03
1