Dara yang membaca pesan dari Bastian berulang kali. Dia tidak mempercayai kekasihnya itu memutuskan hubungan mereka begitu saja. Bahkan, Dara telah kehilangan kesuciannya karena Bastian. Tidak! Dia harus meminta pertanggung jawaban dari Bastian. Dengan tekad tersebut dia mencari tahu perusahaan tempat Bastian bekerja, Dara akan mendatangi perusahaan terlebih dahulu.
Pagi ini, Dara telah bersiap datang ke tempat Bastian bekerja lebih tepatnya dia merupakan anak dari pemilik perusahaan. Dengan gugup dia mendatangi resepsionis untuk bertanya keberadaan Bastian.
"Maaf mbak, Pak Bastiannya ada?" Tanya Dara kepada resepsionis cantik yang berada di depannya.
"Bastian? Bastian siapa maksudnya mba?" Resepsionis cantik itu malah bertanya kembali kepada Dara.
"Bastian Revando Anggara," Jawab Dara singkat. Mendengar jawaban Dara, resepsionis itu sedikit terkejut namun dapat menetralkan wajahnya kembali.
"Sudah punya janji mbak?" Tanya resepsionis cantik itu yang penasaran dengan gadis muda di depannya ini. Dia menatap Dara seolah dengan pandangan bertanya, punya hubungan apa dia dengan Bastian.
"Maaf, belum mbak. Namun, mbak bisa bilang saja kalau saya Dara ingin bertemu dengannya," Jawab Dara yang matanya tidak fokus karena masih terpikirkan hubungannya dengan Bastian yang diujung tanduk.
"Baik, bisa tunggu sebentar ya mbak." Dara mengangukkan kepalanya, resepsionis yang terlihat masih berumur dua puluhan itu menelepon seseorang. Setelah mendapatkan jawaban, dia menutup telepon dan memutuskan komunikasinya.
"Mbak, maaf. Pak Bastian hari ini ada meeting di luar sehingga dia tidak akan datang ke kantor." Dara yang mendengar perkataan resepsionis itu mengangguk pasrah. Dia mengucapkan terima kasih kepada wanita yang telah membantunya itu, kemudian berjalan dengan wajah tertunduk keluar dari perusahaan.
Tanpa dia ketahui, sepasang mata menatapnya dengan sendu. Dia menyaksikan seluruh interaksi Dara dan resepsionis yang berada di depan. Rasa rindu juga memenuhi benaknya, namun perkataan mamanya terngiang diingatannya.
Jika kamu masih berhubungan dengan gadis itu, jangan salahkan mama jika semua fasilitas yang kamu punya akan dicabut dan kamu akan menjadi gembel yang luntang lantung dijalanan.
Ya, pria yang menyaksikan interaksi Dara itu adalah Bastian. Laki-laki yang telah mengecap manisnya madu dari sebuah bunga lalu memutuskan begitu saja hubungan mereka. Dia tidak ingin kehilangan semua kemewahan yang diberikan oleh keluarganya sehingga dia hanya bisa menatap Dara dari jauh tanpa tahu dia telah menyiayiakan darah dagingnya sendiri.
***
Dara tidak menyerah dengan berbekal nomor di kontak ponselnya dia menghubungi semua teman Bastian. Dia mencari tahu alamat rumah Bastian karena memang Dara belum pernah diajak untuk mengunjungi rumah Bastian sehingga dia harus menanyakan alamat tersebut ke teman-teman Bastian. Untungnya salah seorang dari teman Bastian memberitahukan alamat rumah Bastian.
Hari ini, Dara berniat untuk mengunjungi rumah kekasih yang telah mencampakkannya. Perempuan itu bertekad bahwa anaknya harus mendapatkan keadilan, dia harus memiliki ayah. Dara sudah sebatang kara, dia sudah tahu betapa sulitnya hidup sendiri. Dia masih meyakini janji Bastian saat itu.
Aku janji aku akan menikahimu.
Menyesali kebodohannya juga tidak dapat mengembalikan hal yang sudah direnggut, karena itulah Dara hanya bisa mencoba memperbaiki masa depannya dan masa depan janin yang berada di dalam rahimnya.
Dara telah sampai di rumah yang terletak di kawasan elit itu. Dia dengan berani berkata bahwa telah memiliki janji dengan Bastian dan Mama Rissa. Melihat perempuan cantik di depannya, Pak Satpam yang menjaga rumah Bastian percaya bahwa Dara merupakan teman Bastian, sehingga dia mempersilakan gadis muda itu untuk masuk ke rumah. Dara masuk lalu dipersilakan untuk menunggu di ruang tamu.
Tidak lama kemudian muncul Mama Rissa dengan wajah yang tidak bersahabat. Berbeda dengan raut wajahnya ketika bertemu dengan Dara pertama kali. Mama Rissa menampilkan raut wajah yang masam.
"Sore Tante. Apa kabar?" Dara tetap bersika olehnya sehingga Mama Rissa menampilkan wajah yang kurang bersahabat.
"Sore. Apa maumu sampai datang ke rumah kami?" Pertanyaan tajam dilontarkan oleh Mama Rissa. Dara tersentak dengan pertanyaan tersebut.
"Maaf mengganggu, Tante. Saya ingin bertemu dengan Bastian. Saya sudah mendatangi Bastian di perusahaan namun Bastian tidak ada. Jadi, saya datang ke rumah ini." Jelas Dara panjang lebar untuk memberikan penjelasan kepada Mama Rissa.
"Kalau Bastian tidak bisa ditemui berarti dia memang tidak ingin bertemu denganmu. Bukankah Bastian telah memutuskan hubungan kalian. Jadi, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan oleh kalian berdua." Dara terkejut Mama Rissa mengetahui bahwa hubungannya dengan Bastian telah berakhir. Pikiran negatif tentang Mama Rissa tidak dapat dibendung lagi. Dia sekarang yakin bahwa perubahan sikap Bastian kepadanya dikarenakan Mama Rissa tidak menyetujui hubungan mereka.
Tiba-tiba dari pintu depan datanglah Bastian dan Papanya, Papa Edrick. Kedua pria tersebut melangkah menuju ruang tamu ingin melihat dengan siapa Mama Rissa berbicara. Suara Mama Rissa memang meninggi saat berkata bahwa Bastian memang tidak ingin menemui Dara. Bastian yang melihat Dara di ruang tamu rumahnya terlihat kaget.
"Dara." Suara Bastian terdengar lirih, tersimpan penyesalan karena memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Papa Edrick yang melihat Dara pertama kali mengakui bahwa kekasih anaknya ini memang cantik pantas saja Bastian awalnya bersikeras untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Bastian, mengapa kau sangat sulit untuk dihubungi?" Dara memberanikan diri untuk menanyakan tentang kegelisahannya selama ini.
"Maaf Dara, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita. Bukankah, aku sudah mengirimkan pesan kepadamu," Jawab Bastian yang melihat Dara dengan tatapan penuh kerinduan. Dara bisa melihat itu, namun perkataan Bastian berbanding terbalik dengan tatapan matanya.
"Sudah jelas bukan? Kalau begitu kau bisa pergi dari rumah ini. Aku melarangmu untuk menginjakkan kakimu di rumahku." Mama Rissa mengatakan itu dengan nada yang tinggi.
Papa Edrick hanya menjadi penonton saat ini, dia sebenarnya tidak ingin ikut campur pada kisah percintaan anaknya. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan isterinya. Saat dia mengetahui kekasih Bastian adalah seorang yatim piatu yang bahkan mengandalkan beasiswa untuk dapat berkuliah. Mama Rissa marah dan melarang Bastian untuk berhubungan dengan Dara.
"Anda tidak bisa melakukan hal ini kepadaku. Anak Anda harus mempertanggung jawabkan perbuarannya kepadaku." Dara tidak perduli dengan larangan yang dilontarkan oleh Mama Rissa. Saat ini yang terpenting baginya adalah nasib janjin yang ada dikandungannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Mama Rissa tajam. Bastian menatap wajah Dara, dia melihat ekspresi Dara yang penuh tekad. Keringat dingin keluar dari dahinya, kegugupan melanda Bastian.
"Aku hamil. Anak dalam kandunganku adalah anak Bastian. Aku datang kemari untuk meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya." Dara menatap lurus mata Bastian, dia ingin mengetahui ekspresi dari pria yang telah membuatnya terpuruk saat ini.
"Tidak!!!" Teriakan dari Mama Rissa terdengar seolah menyangkal semua perbuatan anaknya yang telah merenggut kesucian seorang gadis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Putri Dhamayanti
lakik koq pengecut...situ punya ijazah loh, melamar kerja dimana keq..BUMN noh buka lowongan, cukup lah gaji bwt hidup dg anak istri
2024-02-01
0
Rezha Walen
hanya karna harta,seorg pria lari dari tanggung jwb
2023-10-31
2