Setelah merasa pusing dan perutnya terasa diaduk-aduk pagi tadi. Siang hari ini, tubuhnya sudah tampak lebih membaik. Dara berusaha untuk berjalan dan memakan sarapan pagi yang tadi telah dibuat olehnya. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Dara menuju ke apotik terdekat. Dia harus memeriksa keadaannya, walau dengan takut dia berusaha untuk bersikap tenang.
"Mba, alat tes kehamilan 3 ya." Dara sebenarnya canggung untuk membeli alat test kehamilan, dia takut pandangan orang terhadapnya. Namun, itu hanya perasaannya saja, penjaga toko melayaninya dengan baik. Dara hanya overthinking karena pemikiran yang memenuhi otaknya sendiri.
"Ini ya mbak." Selesai membayar alat tes kehamilan tersebut, Dara menuju rumah kontrakannya. Dia merasa perasaannya tidak karuan. Penjaga apotik mengatakan kepada Dara tentang cara penggunaan alat tes kehamilan yang saat ini telah ada digenggamannya.
"Hasil lebih akurat jika dilakukan saat pagi hari setelah bangun tidur," Kata penjaga apotik memberitahukan hal tersebut kepada Dara. Dara hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari perempuan muda yang melayaninya.
Dara pulang menuju kontrakannya, sebelumnya dia membeli pecel ayam karena dia sangat tidak kuat bahkan untuk memasak. Sesampainya di kontrakan dia meletakkan alat test pack. Setelah menimbang dan berpikir sejenak, lebih baik dia menunggu esok hari sebelum memakai test pack tersebut.
Kali ini pikiran Dara beralih kepada Bastian, Dara mencoba menghubungi Bastian karena hampir dua Minggu ini dia tidak dapat menghubungi kekasihnya itu. Kekasihnya tidak bisa dihubungi, dia menghubungi lewat telepon namun selalu tidak diangkat. Awalnya masih tersambung namun saat ini ponsel kekasih yang telah menemaninya selama 3 tahun tersebut tidak aktif. Dara merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, namun Bastian seperti hilang ditelan bumi.
Dara khawatir akan keadaan Bastian, namun dia lebih memikirkan keadaan dirinya. Belum juga mendapatkan pekerjaan dan harus dibayangi dengan kehadiran janin yang memang belum pasti kebenarannya. Dara menghembuskan napas menatap nanar layar ponselnya. Entah mengapa hatinya tidak tenang.
***
Pagi ini, Dara kembali bangun dengan mual yang melanda. Perutnya serasa diaduk-aduk, Dara bangun dan segera menuju westafel lalu mengeluarkan semua isi yang ada di perutnya. Dara mengerinyit saat cairan kuning keluar dari mulutnya, pahit terasa di mulutnya. Setelah duduk dulu untuk mengurangi rasa mualnya, dia membuat teh manis.
Dengan tekad yang dikuatkan, Dara mengambil alat tes kehamilan dan melakukan sesuai petunjuk yang berada di bungkus alat tes kehamilan itu. Perasaan berdebar melanda dirinya, Dara memejamkan mata sambil berdoa semoga hasilnya negatif. Sekitar 2 menit berlalu, Dara membuka matanya lalu dia melihat benda ditangannya.
Terdapat dua garis merah yang terlihat dengan jelas di alat tes kehamilan yang berada di tangannya. Dengan bergetar, tubuh Dara jatuh lunglai, lemas tak berdaya. Dara menangis, hancur sudah semuanya. Namun, dia masih belum mempercayai hasil dari 1 alat tes kehamilan, dia mencoba memeriksa kembali keadaannya dengan 2 alat tes yang lain. Hasilnya sama, dua garis merah bermunculan setelah beberapa menit dia menunggu.
Dara masih mencoba menguasai dirinya, dia menangis setelah hingga tertidur di ruang tengah rumahnya. Dara bangun ketika matahari telah berada di atas kepala. Saat bangun dia teringat kembali hasil tes kehamilannya. Dengan segera dia menyambar ponselnya dan menghubungi Bastian. Menunggu lama tidak terdengar nada dering hanya operator yang menyahut.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silakan hubungi beberapa saat lagi.
Dara terus mencoba menghubungi nomor Bastian, namun lagi-lagibhanya operator yang menjawab teleponnya. Akhirnya dia meninggalkan pesan ke nomor Bastian.
Dara:
[Hubungi aku. Ada yang perlu kita bicarakan. Kamu baik-baik saja kan?]
Dara memandangi ponselnya terus menerus, perutnya berbunyi tanda meminta untuk diisi. Wanita yang tengah berbadan dua tersebut menuju dapur rumahnya dengan berjalan pelan, dia harus tetap bertahan. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, ada satu nyawa yang bergantung kepadanya. Dia tidak mungkin menambah dosa dengan menggugurkan janin yang tumbuh di rahimnya.
Dara termenung sambil memakan makanan yang di buatnya. Telor ceplok dengan kecap manis terasa sangat nikmat. Tiba-tiba dia merasa sangat sedih, dia merasa Bastian tidak menginginkannya lagi. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat tidak sengaja mereka bertemu dengan Mama Rissa, Mama dari Bastian.
Pikiran negatif memenuhi benaknya, mungkinkah Mama Rissa yang membuat Bastian tidak dapat dihubungi. Saat bertemu dengannya, Dara yakin Mama Rissa menyukai dirinya. Namun, dalamnya hati tidak bisa ditentukan dengan satu kali pertemuan. Terbukti setelah pertemuan itu, Bastian tidak pernah menghubungi Dara kembali. Walaupun, Dara bukan tipe kekasih yang harus dihubungi setiap waktu. Akan tetapi, ini sudah lebih dari batas kewajaran seorang Bastian. Tidak pernah sehari pun Bastian absen menghubunginya. Saat pikirannya dipenuhi oleh Bastian, terdapat pesan yang masuk melalui ponselnya.
Bastian
[Maaf, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita. Jangan pernah menghubungiku lagi]
Setelah membaca pesan dari Bastian, tangis Dara terjatuh. Tubuhnya kembali lunglai dan lemas. Dunianya seakan runtuh saat Bastian mengatakan untuk mengakhiri hubungan mereka. Bahkan, Bastian memutuskannya hanya lewat pesan singkat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Deliza Yuseva
kan sudah ku bil laki laki tdk bertanggungjawab.😡
2024-02-08
0
Putri Dhamayanti
eeh si brengs*k 😒 gampang amat lu tong maen putus2 ajah. enaknye dikutuk gak bs berdiri tegak lg tuh tiang
2024-02-01
0
Wanti Suswanti
tuhkan makanya jadi perempuan harus bisa mempertahankan kehormatan jangan mudah terhasut Sam bujuk rayu setan kalau udah gini siapa yg rugi..
2023-12-23
0