" Cantika, dari mana kamu mendapatkan Liontin itu ? "
Dewangga menatap sebuah liontin yang tergantung di leher Cantika. Terasa familiar tapi dia lupa di mana pernah melihat benda yang serupa.
" Kenapa, Pa. Papa pernah melihat ini. " Tanya Cantika antusias. Cantika kehilangan hasrat untuk ke kamar mandi. Dia lebih tertarik mendengar jawaban dari ayah mertuanya.
" Papa rasanya familiar dengan liontin itu, tapi lupa dimana dan siapa yang memakainya. Bedanya mutiara nya berwarna hitam tapi tulisan unik itu... akh... nanti Papa ingat ingat lagi. " Dewangga memegang kepalanya sembari mengingat.
" Tidak apa apa, Pa. Pelan pelan saja. Tapi Cantika harap Papa bisa mengingatnya. Karena benda ini satu satunya yang tersisa dari asal usul ku. Petunjuk terakhir yang aku punya . " Cantika tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
" Jadi itu benda yang kamu bawa sejak kamu dititipkan di panti ? " Tanya Dewangga penasaran.
" Kata Ibu, orang yang menitipkan ku berkata kalau liontin inilah yang akan membawaku pada keluarga ku kelak. Jadi ini harapan satu satunya, Pa. " Terang Cantika.
" Papa akan membantu kamu, Nak tenang saja. Mudah mudahan Papa ingat siapa yang pernah memakai liontin yang serupa. "
Setidaknya Cantika masih punya harapan. Menunggu Dewangga mengingat pemilik liontin yang serupa dengannya. Entah kenapa Cantika merasa optimis sekarang setelah selama ini usahanya menemui jalan buntu. Sekarang seperti ada cahaya kecil yang mulai terlihat.
Setelah mengunjungi Papa mertuanya, Cantika kembali ke Apartemen. Seperti biasa Cantika akan memasak dan menyambut suaminya pulang dari kantor. Mood Cantika sedang bagus hari ini . selain bisa mengenal dewangga sebagai mertua Cantika juga memiliki harapan baru.
Seperti biasanya Yuda pulang tepat waktu. Cantika baru saja habis mandi dan berpakaian rapi ala rumahan. Dengan senyuman Cantika membuka pintu untuk suaminya. Tapi Cantika tersentak kaget saat Yuda mendorong pintu keras hingga Cantika terdorong beberapa langkah ke belakang.
" Mas... " Cantika terpekik karena kaget.
Tapi Yuda tidak mempedulikan Cantika apalagi menanyai keadaannya. Wajah dingin Yuda mengatakan jika suaminya sedang marah. Cantika berusaha untuk tidak mengambil hati tindakan Yuda barusan . Dengan cepat Cantika menyusul Yuda ke kamar mereka.
" Mas... ada apa ? Apa ada masalah ? " Tanya Cantika lembut. Rasa takut merasuki hatinya menatap punggung Yuda yang terlihat naik turun menahan emosi.
" Mas... " Cantika mendekat dengan langkah kecil.
Tiba-tiba Yuda berbalik menatap Cantika tajam. " Kamu pergi menemui pria itu ? " Pertanyaan Yuda terdengar seperti godam yang memukul dada Cantika. Cantika paham maksud pertanyaan itu.
" Maaf, Mas... Aku hanya mengunjungi Papa saja. " Cantika terlihat sangat gugup.
" Aku sudah pernah bilang, jangan menyebut tentang nya. Tapi kamu malah pergi padanya." Suara Yuda mulai meninggi.
" Tadi dia Papa ku, Mas. Orang tua kita satu satu nya...
" Tidak !! Aku tidak punya Papa, aku hanya punya Mama yang telah meninggal. Dan Pria yang kamu panggil Papa itu adalah pembunuhnya . Kamu mengerti ...!!! " Bentak Yuda.
" Tapi itu hanya salah paham, Mas. Cobalah membuka hati. Kadang kita butuh mendengarkan. " Cantika tetap berusaha tenang dan bicara lembut.
" Kenapa...?? Apa sekarang kamu sudah tahu kalau dia kaya raya. Apa kamu sekarang sedang menjadi penjilat. Hah... Apa kamu juga terbujuk oleh hartanya... " Yuda berjalan mendesak Cantika ke arah lemari. Amarah telah membutakan Yuda dan dia lupa Cantika sedang hamil anaknya.
Cantika terus berjalan mundur, hingga punggungnya terdesak ke lemari kaca. Air matanya telah tumpah sejak Yuda menghina karakternya. Tubuhnya gemetar ketakutan melihat api kemarahan dimata suaminya.
"Mas... maaf...
Hanya dua kata itu yang mampu Cantika ucapkan. Namun dua kata itu mampu menyadarkan Yuda meski tidak mampu meredam amarahnya. Dengan kemarahan yang tersisa Yuda berbalik dan melangkah keluar kamar menuju ruang kerjanya. Dia harus segera pergi jika tidak Cantika bisa remuk karenanya.
Cantika luruh ke lantai . Tubuhnya gemetar hebat karena menumpahkan tangisnya yang tertahan. Rasa tidak percaya jika Yuda bisa semarah itu. Terlihat jelas besarnya rasa benci yang Yuda miliki terhadap Papanya sendiri. Begitu hebat Tante Siah mempengaruhi seluruh pikiran Yuda hingga ke tulang tulang.
Sementara Yuda meremas kuat rambutnya. Rasa benci yang tertanam dalam hatinya begitu menyiksa jiwanya. Jika bisa ingin rasanya Yuda melenyapkan ayahnya sendiri. Agar tuntas rasa sesak yang selalu menghantuinya.
Sekarang orang yang paling Yuda percaya telah mulai mendekat pada sumber penderitaan nya selama ini. Yuda begitu marah saat tahu Cantika menuju rumah Papanya. Sengaja Yuda memasang GPS pada ponsel Cantika yang terhubung padanya. Dengan tujuan keselamatan saja.
Tapi siapa sangka jika Cantika yang izin hendak ke panti malah berada di rumah lamanya. Siapa lagi yang Cantika temui jika bukan Papanya. Sungguh munafik. Itulah yang tertanam di otak Yuda tentang Cantika.
Keduanya larut dalam laranya masing masing. Tidak ada yang menyentuh makanan malam ini . Dan tidak ada yang mencari satu sama lain. Mereka sama sama terpaku di tempatnya masing masing. Dan akhirnya terlelap di tempat yang berbeda.
*****
Seminggu berlalu setelah perdebatan antara suami istri itu. Cantika tetap melakukan tugasnya seperti biasanya. Tapi Yuda mengacuhkan nya. Sikap dingin Yuda tidak mampu Cantika cairkan. Cantika sudah melakukan berbagai cara tapi tidak membuahkan hasil.
Dengan masakan yang biasa Yuda suka pun sudah Cantika lakukan. Bahkan tadi malam Cantika sengaja memakai pakaian yang terbuka untuk meraih hati suaminya kembali . Mendatangi Yuda di ruang kerja tempat Yuda tidur selama satu minggu ini. Tapi sia sia saja, Yuda malah menyuruhnya keluar karena merasa terganggu dengan kehadiran Cantika.
Cantika hanya bisa keluar dengan derai air mata. Berkali kali Cantika minta maaf tapi Yuda tidak mendengarkan nya. Hati Yuda seperti batu yang sulit untuk ditembus . Hany itulah cara terakhir yang Cantika punya. Kini Cantika hanya bisa menunggu hingga Yuda seperti dulu lagi.
Malam ini Cantika termenung sendiri di meja makan. Di hadapan nya sudah terhidang berbagai menu makan malam. Sejak hari itu Yuda tidak pernah menyentuh makanan yang Cantika buat. Dan Yuda selalu pulang lewat dari pukul sepuluh malam.
Begitupun malam ini, sudah pukul sembilan lewat Yuda tak juga ada tanda tanda pulang. Perut Cantika sudah merasa lapar sejak tadi. Tapi dia masih berharap Yuda pulang dan makan bersama. Tapi harapan tinggal harapan, yang dinanti tak kunjung datang. Akhirnya Cantika memutuskan untuk makan seperti biasanya. Sendirian...
Dengan ditemani isakan Cantika menyuap makanan sesuap demi sesuap. Semua terasa hambar tapi Cantika harus makan demi bayi yang kini di kandungan nya. Bahkan satu minggu ini Cantika kesulitan untuk tidur karena jauh dari suaminya. Dengan terpaksa Cantika mencari pakaian bekas Yuda untuk dia peluk setiap malam.
Sungguh Cantika tidak menyangka niat baiknya menjadi bumerang untuk rumah tangganya. Dan Cantika sangat menyayangkan sikap tidak dewasa Yuda dalam menyikapi masalah. Cukup ingatkan saja , Cantika pasti tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya .
Sedari tadi malam sejak Yuda menolaknya, Cantika seperti hilang harapan. Meski dia tetap menguatkan hatinya tapi dalam alam bawah sadarnya Cantika seperti mempersiapkan diri menghadapi kehidupan rumah tangga nya kedepannya.
Setelah menghabiskan makanan nya Cantika kembali ke kamarnya. Tak terasa ternyata Cantika menghabiskan waktu dua jam untuk menghabiskan makanan nya. Sekarang tepat pukul sebelas malam, Yuda masih belum pulang. Dengan desah lelahnya Cantika memejamkan matanya agar lekas terlelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung (◍•ᴗ•◍)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sri Puryani
yuda umur udah tua tp pikirannya kyk abg labil...gk dewasa blas...
2024-10-10
0
⋆.˚mytha🦋
tunggu pemyesalanmu yudaaaaa...
ntar klu yuda udah sadar, tinggalin aja cantika, biar dia tau rasa... gedeg bat tau 😠
2024-04-26
1
Kartini Kartini
kok egois ya lelaki kan niat baik istri ingin menyatukan anak dan ayah gk ada niatan lain entah kalau suami nya ber pikir lain apalagi ada bumbu lainnya
2024-03-16
1