Hujan deras mengguyur malam sunyi tanpa bintang. Hanya ada Rani, Tamsi, Tante Ela dan anaknya Cika. Perlahan mereka mengetuk pintu kamar nenek.
"Nenek tolong buka pintu Rani sudah datang."
Akan tetapi tidak ada jawaban sama sedikit pun.
Pintu kamar nenek di kunci. Sudah dua hari semenjak mereka tiba nenek tidak mau membuka pintu kamarnya, hanya ada tukang kebun yang menyampaikan pesan bahwa beliau berkata tidak ingin di ganggu. Kecurigaan Tante dari kemarin malam masih menjadi misteri.
"Bu bagaimana jika kita dobrak aja Bu, Cika khawatir sekali sama nenek", kata Cika.
"Benar kata Cika kita harus mengetahui keadaan nenek. Ayo Tante kita dobrak sama-sama", sahut Rani.
Tante Ela, Cika dan Rani membuka paksa pintu kamar nenek.
Dubraggh
"Bu!" teriak Tante Ela.
"Nenek, nek!" jerit Rani dan Cika.
mereka mencari di setiap sudut ruang atas dan bawah. Di rumah nenek terdapat seribu anak tangga yang berlatar segi empat, ada faviliun, pekarangan yang luas serta di kelilingi oleh pohon Pinus. Setelah berjam-jam mencari nenek.Tante berusaha meminta tolong mengabari Warga sekitar dan pihak yang berwajib. Hampir larut malam dan mereka memutuskan menghentikan pencarian esok lagi. Mereka pun semua tertidur di kamar masing-masing. Sementara itu Tante Ela menuju kamar nenek.
"Bu, ayo kita pergi, hiks."
Tante Ela berteriak menangis di tengah gelapnya hutan mencari nenek.
Seolah nyata namun mimpi belaka , itu seperti sebuah tanda sinyak atas kehilangan nenek dari rumah. Di kegelapan malam Tante Ela berlari menuju rumah bekas buyut nya. Rumahnya tidak begitu jauh dari rumah nenek. Dari luar jendela kaca rumah buyut, tante melihat nenek sedang duduk memandangi nya. Tante berjalan masuk keruangan dan melihat bayangan hitam dan ada bercak darah hitam di dekat tempat tidur.
...----------------...
KEESOKAN HARINYA.
Tante mengajak Rani sarapan bersama Cika. Tamsi juga ikut di gendong Rani untuk makan. Selesai makan bersama dan Rani sudah berjam-jam memandangi ruangan kamar neneknya dari balik pintu.
Krriinnggg
"Halo."
"Rani anakku bagaimana kabar nenek? sudah ketemu belum?" jawab ibu.
"Belum bu, Rani sangat ketakutan. Hiks", sahut Rani sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes ke pipi.
"Kak Alfa lagi di perjalanan ke kota bunga indah jadi jaga diri baik-baik disana ya salam ibu sama Tante dan Cika, sudah jangan nangis lagi harus kuat! " kata ibu.
"Baik Bu", Rani menutup telpon.
Sore itu Mia, Cika dan tamsi di faviliun .
Mia membaca buku-buku di rak perpus mini nenek dan Cika bermain bersama si kucing hitam. Tiba-tiba Rani melihat sesosok bayangan dari kejauhan sedang mengawasi mereka. Rak buku seketika tumbang tanpa ada angin yang menggesernya ,Rani begitu terkejut.
Dari arah dapur terdengar suara bunyi ceret listrik mendidih. Terdengar semakin keras terdengar. Tante Rani berjalan ke dapur dan bengong melihat nenek berdiri di dengan ceret dan menyeduh teh.
"Ibu dari mana saja?" kata Tante Mia.
Nenek berdiri sambil mengaduk tehnya . badannya sangat kotor dan tampak kakinya juga penuh lumpur. Namun nenek tidak menjawab pertanyaan Tante dengan wajah pucat nenek pergi ke kamarnya. Rani dan Cika menemui mengikuti nenek dari belakang.
"Nenek!" Rani dan Cika memeluk nenek mereka.
"Nenek dari mana?" tanya Cika.
Nenek hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Rani berjalan ke arah lemari baju nenek dan dia melihat sebuah pintu.
"Miaw, Gggrrrr."
Tamsi menggigit dan menarik baju Rani.
"Tidur lah bu, lihatlah hari mulai petang", kata Tante. Nenek langsung naik ke atas tempat tidur. Lalu Cika Merapi kan selimut lalu pergi meninggalkan nenek. Baju-baju nenek bergoyang sendiri seperti dan terdengar suara aneh dari dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
⛱️Anak Manis🏖
hampir tidak kasat mata. aku menyadarinya
2025-03-11
0
X MIPA 2
tidak ada yang sebaik dirimu rani
2025-03-16
0
upin
neneknya jadi setan?
2025-04-01
0