Malam berselubung suasana begitu mencekam, hujan yang tadinya membanjiri sekitar telah perlahan pun reda. Namun warna rembulan berubah menjadi merah darah. Disana tampak becek dan kelelawar beterbangan seperti jelmaan vampir pengisap darah. Mereka terus menyusuri pepohonan kering dan berharap secepatnya menemukan jalan keluar.
"Hiks, hiks", tangis Cika betapa sedih dia atas tragedi yang menimpa ibunya.
"Bersabarlah Cika, kita harus mencari pertolongan dan keluar dari sarang hantu ini terlebih dahulu."
Cika terjatuh dan hampir pingsan, seperti di sekeliling kepalanya ada kunang-kunang yang bertebaran. Rani berusaha menopang Cika dan membantunya berjalan sekuat tenaganya. Malam itu mereka sangat kelelahan, Tamsi berjalan di depan mereka seakan mencari jalan keluar. Sampailah mereka di atas bukit dan menoleh sudut kota yang terbentang luas di bawah rembulan.
"Cika, lihatlah kita telah selamat! Cika semangat lah!" kata Rani.
Rani menuntun Cika dengan menuruni perbukitan dan menemukan jalan lintas pertigaan yang terdapat sebuah toko minimarket tua.
"Permisi, bantulah kami. Siapapun yang ada di dalam", teriak Rani.
Seorang nenek tua membukakan pintu sambil menggerut dahi.
"Ini sudah larut malam dan telah terjadi gerhana bulan darah. Kenapa kalian berkeliaran di tengah malam begini?" kata seorang nenek tua.
Setelah Rani menceritakan kejadian yang di alami mereka. Nenek itu mempersilakan mereka masuk lalu menyuguhkan teh hangat untuk mereka dan memberikan selimut untuk mereka tidur.
"Di luar sedang ada bulan darah, para makhluk jadi-jadian merajalela dan aungan misteri serigala seperti sedang bergerombol mencari mangsa. Bermalam lah disini, di luar rawan sekali kondisinya", kata nenek.
"Terimakasih banyak nek", kata Cika dan Rani.
Tamsi tidur di bawah kaki Rani dan Rani tidur di sofa nenek di samping Cika.
Keesokan harinya.
"Miaw."
Suara Tamsi membangunkan Rani.
Aroma lezat menusuk hidung Rani dan Cika.
Bunyi cacing di perut mereka berkumandang seakan ingin memakan apa saja yang ada di hadapan mereka.
"Ayo anak-anak kemarilah, sarapan hangat sudah siap", kata nenek dari dapur.
Meja makan bulat itu penuh dengan makanan yang beraneka ragam. Nenek tersenyum hangat dan menjamu mereka.
"Ayo kita berkumpul di perapian! " ucap nenek.
Entah perasaan apa tetapi nenek seperti sangat begitu dekat dengan mereka. Beliau memperlakukan mereka sangat baik seperti cucu sendiri.
kring,kring.
"Halo kak Alfa, Kapan sampai kesini?" kata Rani.
"Kakak besok nanti sore akan sampai bersama ayah dan ibu", kata kak Alfa.
"Rani tunggu kak, sampai ketemu nanti"
...----------------...
"Minumlah air hangat ini agar demam kalian cepat sembuh", kata nenek.
"Terimakasih nek."
Sementara Cika sedang sibuk mengobati bekas luka-lukanya.
"Sini nenek bantu perbankan lagi , nenek turut prihatin atas musibah yang kalian alami."
Si kucing hitam mengamati wanita tua itu dan nenek membalas lirikan Tamsi.Sepertinya nenek tau bahwa Tamsi bukanlah kucing biasa.
"Aku hanya berniat baik kepada anak-anak ini" kata nenek sambil mengelus kepala Tamsi.
Beberapa saat berlalu terdengar suara ketawa yang mengerikan. Suara cekikikan anak kecil berlari keluar dari ruang itu di kejar Rani dan tamsi ikut mengejar mereka.
"Hei berhenti! siapa kau?" kata Rani.
Anak kecil itu terdiam membelakangi Rani dan memutarkan kepalanya 360 derajat ke arah Rani. Matanya tertutupi oleh rambut panjangnya dan dia menunjuk ke arah Tamsi.
Tamsi mendekati anak kecil itu dan Makhluk itupun menghilang tak berbekas. Hanya ada suara pot bunga yang terjatuh akibat angin yang di bawa.
"kenapa ada makhluk bunian disini?" gumam Rani.
Suara tiupan angin semilir merontokkan dedaunan yang masuk di teras rumah nenek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
ciki
teringat tamsi. disini pembaca halu baper ke penulisnya. xkxkxk
2024-12-26
0
Buk lin
jelmaan vampir
2025-04-01
0
V3
iiiiiii sereeeeemmm 😱😱😬😬
2022-06-04
0