"Rani ayo cepat sarapan", kata ibu dari dapur.
"Iya Bu sebentar lagi Rani akan segera turun."
Cepat-cepat Rani bergegas merapikan baju dan membawa ransel di pundak. Rani dengan singkat mengunyah sarapan hangat yang di suguhkan lalu bergegas berbenah, mengingat apa-apa yang ketinggalan.
"Bu boleh Rani minta ijin hari ini kuliah sampai sore ya Bu? ada kelas tambahan dari dosen."
Rani terburu-buru meraih buku-buku dan mencium punggung tangan ibu untuk pergi.
"Hati-hati di jalan ya jangan lupa telpon kak Alfa minta jemput kalau mau di jemput", pesan ibu ke Rani yang sudah lari kalang kabut.
"Baik Bu.."
SESAMPAINYA DI KAMPUS.
Hari itu hujan sangat deras dan lebat, Rani melambai-lambai tangan ke arah Mia. Mia adalah teman sekelas di kampus, dia adalah salah satu dari beberapa sahabat yang dekat dengannya. Rani adalah seseorang yang suka menyendiri, itulah sebab dia hanya punya beberapa sahabat dekat. Mereka adalah Mahasiswa Fakultas Biologi. Disana terlihat ruang kelas begitu sepi. Dari kejauhan Rani melihat seorang perempuan melambaikan tangan.
"Rani kesini lah. Ahahah, Hahahah!"
Sayup-sayup terdengar suara tawa mereka.
Posisi tempat orang-orang yang duduk di bawah pohon sangat jauh dari ruang kelas. Hujan yang begitu deras, dari kejauhan terlihat sekelompok perempuan duduk di bawah pohon dan salah satunya melambaikan tangan sambil terus saja memanggil. Pandangan mata Rani kabur karena lebatnya air hujan tersapu oleh angin yang kencang.
Aku rasa ini bukan nyata, iya aku yakin, gumamnya.
"Rani, ayok kita pulang aja ya seperti nya dosen nggak datang dan hujan semakin lebat", ujar Mia.
Namun pandangan Rani tetap menghadap lurus ke depan, di depan pintu kelas dia seperti patung manusia yang tidak memperdulikan air hujan yang menyiram sekujur tubuh.
"Rani, apakah kau dengar aku?"
Suasana hening tidak ada jawaban sepatah katapun yang terdengar oleh Rani saat Mia berbicara. Dia terus saja menatap dengan fokus dan serius ke arah Panggilan.
"Rani, kamu kesambet apa?"
Mia memperhatikan wajah pucat Rani dan berbicara lebih keras sambil mengguncangkan badannya.
"Ah tidak benar! ini mungkin hanya ilusi belaka. Tapi kalau ilusi kenapa diantara mereka terdengar suara makhluk yang sama saat ku temui waktu itu? Ah sudahlah, Sekarang ini adalah dunia ku yang sebenarnya kenapa aku menjadi bingung. Terkadang aku merasa letih karena aku berpijak menghadapi dua dunia yang berbeda. Terkadang pula ini sangat mengganggu ku. Menjalani dua kehidupan yang berbeda!" batin Rani untuk yang kesekian kalinya.
Warna cat lukisan Rani hampir basah menyelip di sela-sela ranselnya karena hari itu hujan seakan tumpah dan membanjiri seluruh kota. Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Rani. Mia adalah sahabat yang setia mengantarkannya pulang.
"Seharusnya Rani minta jemput kak Alfa aja Mi dari pada lu repot-repot gini", kata Rani.
Rani turun dari boncengan Mia sambil menyodorkan helm.
"Ah sudahlah aku pulang ya!" Rani menganggukkan kepala dan tersenyum lebar.
"Nanti malam aku telpon kamu, ya hal ini sangatlah penting", kata Mia menarik sudut manik netra sahabat indigo Tersebut.
Sahabatnya itu yang paling mengerti dan paham berbagai jenis tingkah laku Rani.
SESAMPAINYA DI RUMAH.
"Hikss, hiks. Ahihihh."
Begitu keras suara tangis dan ketawa itu sampai gendang telinga Rani di masukkan pecahan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
"Hentikan suara aneh itu. Aarghh, Bu!"
Rani berlari menuju ibunya dengan memeluk ibu sambil menangis. Setelah bercerita begitu lamanya sampai larut malam. Ibu adalah orang yang paling mengerti Rani di dunia ini. Satu hal yang selalu Rani ingat bahwa dia berkata Jangan lupa berdoa dan selalu ingat kepada sang pencipta, berbekal imam di hati dan banyak hal lagi nasehat yang selalu ibu pesankan pada anak gadisnya itu. Begitu lembut nasehat beliau bagai angin di surga. Ibu juga selalu berpesan ketika Rani mengalami dua dunia lagi maka Rani harus ingat jalan pulang dan jangan sampai tidak bisa pulang. Begitu khawatir dan rasa was-was dia lihat di raut wajah ibu.
Entah mengapa hanya aku saja, tidak seperti kakakku yang tidak pernah mengalami hal aneh seperti hidup ku ini, gumam Rani sambil mengusap wajah.
Biji bola mata Rani seakan semakin mengecil, lingkaran panda berbentuk hitam di tambah berat badannya yang semakin berkurang.bSampai detik ini dia tidak bisa terpejam. Dia mengisi rasa bosan yang belum bisa tertidur ini dengan mencoret-coret beberapa guratan kertas lukis. Setiap hari dia selalu menggambar semua kejadian demi kejadian aneh yang di alami di hidup.
Gubrak, Prang.
Jam dinding terjatuh tanpa ada angin disekitarnya dan tercium aroma aneh.
Dari kejauhan kali ini Rani mendengar suara aneh. Bunyi pintu belakang yang begitu berisik dan suara aneh lainnya membuatnya ingin menghampiri dengan membawa lampu senter. Rani melihat dari jendela belakang rumah. Rumah begitu sepi, nyanyian suara jangkrik terdengar menggema.
"Apakah ada maling yang masuk ke dalam rumah? Atau apakah mereka yang ku temui kemarin."
Rani berjalan perlahan mendekat memegang Gagang pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
sigma
Fix, Rani ini kayak udah setengah tinggal di dunia lain. Kayaknya ada sesuatu yang ngehubungin dia ke dimensi lain, entah itu karena indigo atau ada kejadian di masa lalu yang bikin dia jadi 'terjebak' di antara dua dunia. Aku paling nggak bisa kalau udah ada adegan suara tangisan dan ketawa bersamaan, itu vibes-nya udah kayak horror psikologis yang nggak cuma serem tapi juga bikin mental terguncang! Aku penasaran, sebenarnya siapa sosok yang selalu muncul di dunia 'satunya' Rani? Kenapa cuma dia yang ngalamin? Aku butuh jawaban!!!
2025-03-09
0
Libra ♎ Tetangga ujung
horornya pas baca bagian Rani ngeliat sekelompok perempuan di bawah pohon sambil ketawa-tawa di tengah hujan deras. Itu kayak adegan film horror yang kita semua tau bakal jadi awal dari sesuatu yang nggak enak. Terus pas dia pulang ke rumah, suara ketawa dan tangis yang super keras itu bener-bener bikin aku ikut merinding. Aku nggak kebayang gimana rasanya jadi Rani yang harus menghadapi ini sendirian. Pasti dia udah di tahap pasrah, antara takut sama udah kebiasa ngadepin yang begituan!
2025-03-08
0
Kaila 🧜♀️duyung
Dari awal aku pikir ini cuma kisah mahasiswa biasa, tapi makin ke sini makin terasa aura mistisnya. Bagian pas Rani diem terpaku kena hujan dan liat sosok-sosok di kejauhan itu bikin aku deg-degan! Apalagi dia sadar kalau dia kayak hidup di dua dunia yang berbeda + gila, itu pasti melelahkan banget secara mental! Aku ngerasa ini tuh kayak film horror yang slow burn, yang makin lama makin menusuk ke dalam jiwa. Fix, aku bakal terus baca karena ini terlalu menarik buat dilewatin!
2025-03-08
0