Rani menyibakkan pakaianyang tersusun di dalam lemari. Terdengar suara gesekan hanger susunan baju yang bergeser. Tampak bekas lubang hitam dari dalam lemari.
"Kakak, jangan dekat ke arah lemari! ada sesuatu di dalam sana."
Anak kecil berbaju putih muncul dari depan pintu dan berlari bersama anak kecil lainnya.
Rani mengejar mereka, makhluk mirip sebangsa makhluk bunian. Dia terhenti di pinggir danau melewati pohon-pohon Pinus yang lebat.
"Tunggu! ada yang ingin aku tanyakan", ujarnya.
Salah satu anak kecil itu berhenti.
"Bagaimana menurut kalian tentang darah-darah yang berwarna hitam?"
Raut wajah mereka sangat ketakutan. Mereka hanya sebangsa jin yang mempunyai alam sendiri. Kebanyakan dari mereka tidak mengganggu manusia. Mereka bukan roh jahat hantu penasaran atau semacamnya.
"Kakak, pulanglah ke asal mu. Disana tidak aman!" pinta makhluk tersebut.
Adik kecil itu mendorong Rani sampai gadis bermata biru berjalan mundur.
"Saya harus menolong nenek dari makhluk itu!" kata Rani.
"Dia sangat kuat, kakak harus menyelamatkan diri atau penjaga kakak si kucing hitam akan menjadi korban jika kakak tidak mau kembali ke tempat asal kakak!" kata sang Makhluk anak kecil. Mencerminkan Melihat diri sendiri, Raut wajah mereka sangat sedih.
"Bawalah lampu kami ini!" ucap adik kecil berambut pirang.
"Terimakasih kalian sangat baik kepada ku!"
"Kami akan menemani mu hanya sampai di depan rumah saja kak!"
Mereka semua berjalan menggandeng tangan Rani.
Tangan mereka sangat dingin tapi Rani sudah terbiasa dengan kehadiran mereka di mana-mana. Saat mendekati pintu rumah nenek anak -anak kecil itu menghilang bersama lampu Rani.
Setelah nenek muncul kembali di rumah kebesaran. Rani dan Cika langsung mendekat dan mengusap tangannya sambil menebar sudut senyuman manis. Dua orang cucu yang begitu menghawatirkan namun mengunci pertanyaan, mereka takut jika nenek akan marah dan pergi lagi dari rumah.
"Nenek bagaimana jika Cika ikut nenek atau nenek yang ikut dengan kami?" ucap Cika membujuk nenek yang masih duduk di depan teras rumah.
Nenek langsung terdiam berjalan pergi meninggalkan Cika dan Rani. Rani melihat ada bayangan hitam tepat di belakang Cika. Tamsi memandangi makhluk dengan sepasang mata yang siap menerkam.
"Perasaan aku nggak enak, ayo kita ke kamar saja!" ujarnya.
Tinn Tiinn (Suara klakson mobil Tante).
Semua orang sudah terlelap. Tante berjalan ke arah kamar nenek .
"Bu..", panggil Tante.
Nenek berdiri di depan jendela sambil bercakap-cakap sendiri.
"Bu ayok tidur sudah malam!" kata Tante sambil membantu nenek ke kasur.
Kepala nenek mengarah seperti ada yang sedang berjalan di kamar. Sementara tante berdiri di depan nenek yang terduduk di kasur.
"Apakah ada sesuatu di bawah kasur ini?" tanya nenek.
"Tidak ada apa-apa bu ayolah bi, sudah larut malam dan waktunya ibu istirahat !" kata Tante.
"Bisakah kamu memeriksa nya?" pertanyaan nenek memasang wajah penuh curiga.
Tante membungkukkan badan ke bawah kasur nenek. Mencari-cari sumber suara yang di katakan nenek. Dia seperti melihat sesuatu di sana seperti bayangan hitam yang ingin mendekati. Nenek melempar kepala Tante terlempar sebuah bantal karena hampir saja dari sudut kasur ada tangan menjulur menarik.
"Aduh!" jerit Tante.
"Ibu kenapa melempar ku?" tanya Tante Ela.
"Apa maksudmu, aku tidak melakukan apapun!" Ekspresi wajah nenek seperti orang kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Abu dubai
ingin merasakan jadi indigo. maaf Thor boleh tanya lebih jauh mengenai indera keenam?
2024-12-27
0
Bunga lestari
mereka ada dimanapun
2025-03-13
0
Hijau Daun 🍃
rani
2025-03-10
0