Bercak darah

 Wiratama mengusap lembut pipi Rose yang berada di bawah kungkungan tubuhnya.

Rose menatap sayu pria yang kini memperlakukannya dengan lembut. "Katakan jika kau menginginkan aku!" Wiratama berbisik lirih, bukti gairahnya benar benar sudah tegak berdiri.

 "Ini salah Tama! Kita tak boleh seperti ini, meskipun aku ingin." tubuh keduanya saking bersentuhan tanpa penghalang sama sekali, Wiratama menahan tubuhnya agar tak semakin menghimpit gadisnya.

Sempat sempatnya Rose berpikir salah dan benar di saat nafsu sudah menguasainya.

"Aku sangat menginginkanmu Rose! Lihat aku sebagai seorang pria!" Wiratama terus mengusap serta mengecupi wajah cantik gadisnya.

Wiratama di buat tak waras oleh keadaan, sebenarnya yang terpengaruh obat itu Rose atau dirinya?

"Aku menginginkanmu sayangku, aku ingin melakukannya untuk pertama kali dengamu, aku berjanji akan bertanggung jawab. Apapun syaratmu akan kupenuhi, tolong berikan aku pengalaman mengenai seorang wanita. Aku tau kau juga menginginkan hal serupa." Wiratama mencoba membujuk gadisnya, karna ia tau meski Rose hampir kehilangan kewarasan Rose masih mempertahankan kesadarannya.

"Aku tak menyangkal hal itu Tama, tapi sungguh aku takut Tuhanku marah." Jika sudah seperti itu Wiratama tak bisa berbuat apapun lagi, kekecewaan berusaha ia telan sendiri.

Wiratam hendak beranjak dari posisinya, tapi Rose justru memeluk pinggangnya dengan erat, mencoba mempertahankan Wiratama untuk tetap bersamanya.

"Tolong aku, Tama!"

"Bagaimana bisa kau menolongmu? Sedangkan kau melarangku untuk memilikimu."

"Lakukan apapun untuk menolongku. Tapi tolong jangan merusak kehormatanku."

Apa Rose sudah tidak waras? Menyuruhnya meredakan gairah pengaruh obat tanpa penyatuan bagaimana caranya.

"Tama kita sudah sama sama dewasa, aku ingin kau meredakan rasa sialan ini, sebagai gantinya aku akan melakukan apapun untuk membuatmu senang."

"Hanya dengan kau menjadi wanitaku aku akan senang." Wiratama melirih dalam hati.

Mungkin ini cara Tuhan untuk menyatukannya dan Rose, Tama masih berpikir sedangkan Rose justru malah menarik tengkuknya dan membenamkan ciuman di bibirnya. Siapa yang mampu mengabaikan ini?

Wiratama benar benar melakukan setiap yang ia inginkan, mulai dari mengecup, mencium, meng ulum juga menye sap beberapa tempat yang ia kehendaki.

Ini indah, ini mengagumkan. Ciptaan tuhan yang paling srksi ini biasanya hanya dapat Wiratama kagumi dalam diam, tapi sekarang tubuh itu benar benar ia nikmati meskipun tidak sepenuhnya.

Kedua gunung kembar yang sempat ia sentuh sebanyak dua kali, kini Wiratama dapat menikmatinya dengan leluasa.

"Boleh aku mencicipinya dengan mulutku?" Wiratama mendongak, seakan meminta ijin untuk melahap tempat yang membuatnya gemas tersebut.

Tangan Wiratama tak berhenti, menangkup, mere mas juga menimbang kedua benda itu bergantian.

"Hemm, ya lakukan aku menyukainya. Sssshhh." Desisan seperti ular itu berkali kali Rose keluarkan tanpa sadar.

Tak ingin membuang banyak waktu, Wiratama membenamkan mulutnya di antara kedua kelembutan gadisnya, besar, bulat, padat dan kenyal itu lah di rasakan Wiratama.

Tuhan sangat baik terhadapnya, membiarkan dirinya sendiri yang menikmati kelicikan Orion.

Rose tidak tau bagai mana lagi mengungkapkan rasa nikmat yang di berikan sang pengawal, hingga jemari tangan dan kuku lentiknya menancap di punggung Wiratama dan menggores punggung kekar itu.

Menurut Wiratama rasa sakit yang di buat Rose tidaklah seberapa, ia tengah menikmati suguhan nikmat. "Ah, rasanya aku tengah menikmati keberuntunganku seumur hidup."

Wiratama menghujani Rose dengan banyak kecupan, kecupan kecupan itu semakin turun ke perut juga ke milik Rose yang sudah lembab.

Di bukanya kedua kaki Rose lebar lebar sehingga Wiratama dapat melihat seindah apa tempat itu.

"Ouhh, seandainya aku mendaratkan milikku di tempat ini pasti akan sangat nikmat." Wiratama membelai tempat itu dengan gati hati sangat indah dan membuatnya menggila.

Di dekatkannya wajah Wiratama di tempat itu, ia hirup lambat lambat aroma memabukan tersebut.

Kemudian Wiratama mengecup tempat itu.

"Emmmhhhh ..." Ros melenguh,

Tapi saat Wiratama membenamkan wajahnya Rose terkesiap, bahkan Rose dapat merasakan sapuan kelembut lidah Wiratama menyapu miliknya.

"Ah, Tama. Apa yang kau lakukan?"

Rose bertopang dengan sikunya, ia tak bisa menahan perasaan yang terasa nikmat.

"Tama, jangan! Itu tak sopan!"

Bisa bisanya Rose berpikir kesopanan di saat hasratnya tengah mrletup letup.

Wiratama tak merespon, ia semakin bersemangat melakukan aktifitasnya apalagi saat mendengan rintihan kecil juga jeritan tertahan Rose.

"Tama sudah." Meski mulutnya berkata demikian justru tangan Rose malah semakin menekan kepala tama juga menjambak rambut Wiratama yang sudah tak beraturan.

"Tama,"

"Tamaaa," Wiratama menyukai saat Rose menyebutnya dengan hasrat seperti itu. Setidaknya gadisnya sadar jija ia tengah menikmati sentuhan darinya.

Semakin lama Wiratama mempercepat apa yang ia lakukan.

"Wiratamaaaa! Aaaaahhh." Rose menjerit dengan mata terpedam, cairan tubuh bukti kepuasannya keluar dan membasahi mulut Wiratama, tak ingin menyia nyiakan hal tersebut Wiratama melahap habis cairan itu tanpa rasa jijik sama sekali.

"Rasanya memikat. Aku menyukainya."

Wiratama tersenyum saat Rose terengah engah. "Ini gila, tapi aku menyukainya."

Tak lama dari itu nafas Tose mulai teratur, dan ternyata gadis itu terlelap.

"Kau ingin mengerjaiku Hem," Wiratama kini memposisikan pusat tubuhnya di pintu masuk milik gadisnya.

Demi Tuhan ia ingin merenggut kesucian Rose sekarang juga, tapi banyangan kemarahan Rose juga kekecewaannya menari nari begitu saja di benaknya.

Wiratama tak kuasa nelakukan hal itu, yang ia lakukan hanya menyusap tempat yang paling ia inginkam menggunakan jemarinya.

"Sangat sempit. Ouh, rasanya pasti sangat nikmat jika milikku terbenam di sini." Wiratama mendekatkan miliknya kemudian mengusap usapkan ujung senhatanya di pintu masuk milik gadisnya.

"Aku hanya menggesek di sini, aku tak akan masuk. Larang aku jika kau keberatan." Wiratama terus menempelkan serta menggesekkan miliknya di pintu masuk milik gadisnya.

"Ya Tuhan. Di luar saja seenak ini, bagai mana jika aku memasukan ujungnya sedikit? Sayang aku janji hanya ujungnya." Wiratama berdialog sendiri.

"Sempot sekali, meski sudah licin tapi tak masuk, aku takut jika mencoba lebih kuat aku akan ke bablasan." Wirata kembali menggesek gesekannya dari luar.

Cukup lama Wiratama melakukan hal gila itu hingga ledakannya hampir datang, Tama langsung menarik diri dan mengocok miliknya, sampai ledakan itu datang Wiratama menumpahkan semua benihnya di aras pert Rose,

"Arggghh ..."

Geraman kenikmatan itu menggema dengan jelas, tubuhnya bahkan sudah bermandi keringat.

"Maafkan ayah melepaskan kalian di tempat tak seharusnya. Ayah janji setelah ini kalian akan ayah tanamkan di tempat seharusnya."

Tubuh Rose di penuhi tanda merah, Wiratama cukup puas melihat hasil karyanya sendiri.

Cara licik Wiratama baru akan di mulai.

Wiratama menggigit telapak tangannya sampai mengeluarkan darah.

Dengan sengaja Wirata mengotori seprai kotor bekas pakainya dengan darahnya sendiri, tidak hanya itu Wiratama juga mengulaskan darahnya di pangkal paha Rose, juga di senjata miliknya, ia ingin merekayasa kejadiannya, seakan akan sudah merenggut kesucian gadisnya.

Cara licik ini sengaja ia lakukan hanya untuk membuat Rose menjadi miliknya. Jika Tuannya tau, pasti Rose akan segera di nikahkan dengannya.

Wiratama membawa Rose dalam dekapannya sama sama dalam keadaan polos.

"Kita akan menikah."

.

Rose mengerjap, saat ia sadar suasana kamar tampak temaram, tanpa cahaya lampu, hanya cahaya bulan yang terlihat dari balik jendela yang tidak tertutup sebagai penerangnya.

Baru Rose sadari jika posisinya tidur dalam dekapan seseorang.

Rose melepaskan diri dari dekapan pengawalnya.

"Wiratama."

Jantungnya berpacu dengan sangat cepat apa lagi saat mendapati ia dan Wiratama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang.

Rose segera menyalakan lampu, dan alangkah terkesiap diri saat menyibak selimut.

Bercak darah terdapat di seprai yang ia tiduri.

"Ini tak mungkin! Ini mimpi kan?" Rose panik.

Plak, ia menampar pipinya sendiri.

"Papa, Mama maafkan Rose, hiks,, Rose tak bisa menjaga harga diri Rose."

Tangisan memilikan itu terdengar dan membangunkan Wiratama.

"Ada apa?"

"Apa kita sudah tidur bersama?"

"Ya."

"Aku tak mau. Kembalikan keperawananku!"

Terpopuler

Comments

aira aira

aira aira

lanjut

2024-01-21

0

Rini Eni

Rini Eni

selicik itu kamu tama,,tpi q suka wkwk

2023-11-12

0

Winarti

Winarti

up lgi thor yg banyak

2023-10-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!