Mengambil ciuman pertama

"Aku akan-"

"Kakak kau-"

"Sedang apa kau di sini Gland?" Wiratama berdiri dari duduknya, tatapannya menelisik pada pria 30 tahun itu, pemuda yang baru saja datang dengan satu buket bunga dii tangannya.

"Aku. Tentu saja aku ingin menemui calon istriku," Pangeran Gland berujar penuh percaya diri, meskipun Rose sudah menunjukan penolakannya secara terang terangan.

"Papa, dan mama calon mertua." Gland menunjukan penghormatannya dengan membungkukan badannya dengan satu kaki dan satu tasngan yang ia letakan di belang tubuhnya.

 "Dimana calon istriku?"

 "Gland. Kau boleh mendekati gadis manapun termasuk putri kedua dan ketiga Tuan Arjuna. Tapi untuk putri sulungnya jangan coba coba kau mengusiknya, dia milikku. Selamanya akan seperti itu! Kau tak akan mampu bersaing denganku!" Wiratama berujar dengan penuh ketegasan.

"Aku tak segan melayangkan nyawa siapapun yang menentangku. Sekalipun saudaraku sendiri." Wiratama tak sedang bercanda dalam masalah kepemilikan.

Pangeran Gland bungkam untuk sesaat, setelah ini ia akan mengamuk kepada raja yang mana sudah menunjukan seorang gadis untuk menjadi istrinya, ternyata gadis itu justru sudah menjadi incaran kakak tertuanya yang merupakan pangeran mahkota.

Apakah kali ini Gland juga akan kalah, sama seperti beberapa hal yang selalu di menangkan oleh pangeran Steven. Inikah nasibnya yang terlahir dari rahim salah satu selir ayahnya. Kehadirannya seakan menjadi bayangan dan tak terlihat oleh para rakyat mereka, maupun oleh ayahnya sendiri.

"Untuk kali ini aku tak ingin mengalah kak. Baik kau dan aku sama sama pangeran dan menyembunyikan identitas. Untuk itu aku menantangmu untuk bersaing secara sehat untuk mendapatkan hati gadis bernama Rose itu. Tidak hanya aku saja yang menjadi sainganmu, adik kita Orion juga menginginkan gadis itu." Gland tak terpengaruh, sekali ini saja Gland ingin memberontak dari perintah raja juga pangeran mahkota. Biarlah nasibnya akan berlabuh di mana.

"Terserah. Baik kau maupun Orion tak akan mampu bersaing denganku!" setelah mengatakan itu Wiratama pergi meninggalkan pangeran Gland juga kedua calon mertuanya.

Wiratama harus gercep untuk segera memiliki gadis itu, atau kesempatannya akan semakin tipis, mengingat makin dewasa Rose maka semakin banyak pula para kumbang yang mendekat dan menghampiri gadis itu. Bukan hal yang mustahil jika beberapa waktu kedepan para pangeran atau mungkin raja lainnya mengajukan lamaran kepada Rose.

Wiratama segera menghubungi Rose untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Sayangnya beberapa kali Wiratama mencoba menmmanggil nomor gadis itu Rose selalu menolak panggilannya, dan puncaknya Rose menonaktifkan nomor ponselnya.

Tak kehabisan akal, Wiratama segera melacak posisi gadis yang sudah ia lamar secara resmi meskipun belum mendapat kejelasan tentang lamarannya, Wiratama akan tetap memperjuangkan Rose untuk menjadibmiliknya.

Jika jalan sehat tak bisa memiliki wanita perparas bidadari itu, Wiratama sudah menyiapkan 1001 cara untuk memerangkap gadis itu supaya menjadi miliknya yang sah.

Wiratama mengecek posisi Rose melalu chips yang ia tanamkan di tubuh Rose tanpa di sadari gadis itu.

"Pantai kapuk." gunamnya pelan.

Gegas Wiratama melajukan mobilnya menuju tempat lokasi yang di tunjukan di ponselnya. Layaknya orang kesetanan Wiratama melajukan kecepatan mobilnya dengan sangat tinggi, bayangan tentang Rose hanya mengenakan bikini di pantai itu membuat darah Wiratama terasa seakan tengah mendidih.

"Awas saja Rose, jika ada seorang saja yang menatap tubuh indahmu aku akan mencongkel satu biji bola matanya dan ku geletakkan di atas remahan pasir." Ucap Wiratama sembari mencengkram stir kemudinya.

"Sial mengapa rasanya tak nyaman. Inikah yang di sebut cemburu?"

Wiratama segera mencari Rose dan Jasmine, di titik yang di tunjukan ponselnya.

Pantai di hari minggu harusnya rame kan? Tapi hari ini pantai itu tetlihat lenggang. Wiratama menebak salah satu dari teman Jasmine yang kaya raya sudah menyewa tempat itu.

Bayangan tentang bagaimana Rose bercanda atau justru bermesraan dengan teman pria Jasmine membuat amarahnya tak terkendali.

Dari kejauhan Wiratama dapat melihat siluit seorang gadis, yang memiliki aroma khas dan unik. Sekalipun Wiratama memejamkan mata dirinya dapat mengenali aroma wanita yang tanpa sengaja ia hirup.

Bersyukur Rose tak mengenakan bikini, gadis itu hanya mengenakan kaus kebesaran dengan di padukan dengan sebuah hot pants hitam yang menutupi sebagian pahanya, pakain Rose terlihat basah mungkin gadis itu srmpat bermain air.

Rose, Jasmine, dan beberapa teman temannya sedari tadi tengah bermain bola pantai, namun karna kencangnya angin pantai yang berhembus membuat sesuatu memasuki mata Rose, entah itu pasir kecil atau butiran debu sungguh Rose tidak tau, yang di rasa Rose hanya perih saja di bagian matanya.

"Aww. Sakit, mataku kelilipan." Rose mengaduh sembari menutup sebelah matanya menggunakan jemari lentiknya.

Sehingga dengan segera salah satu teman Jasmine yang bernama Ryan menghampiri dan melihat serta meniup mata Rose yang kelilipan.

Hal itu tidak menguntungkan, saat secara kebetulan Wiratama tiba di sana, dan dari arah Wiratama terlihat seorang pria tengah menangkup dan mencium wajah Rose.

"Sialan. Baru beberapa saat saja ada yang coba coba denganku." Wiratama mengayunkan kakinya dengan lebar dan segera menerjang tubuh pria itu kemudian melayangkan beberapa tinjunya di wajah pria bernama Ryan itu.

"Beraninya kau menyentuh nonaku!"

Bugh ...

Bugh ...

Wiratama menghajar pemuda itu hingga tersungkur ke atas pasir pantai.

"Tama hentikan! Apa yang kau lakukan?" Rose menjerit ia masih terkejut. Sedangkan beberapa orang mencoba melerai keduanya.

"Om Wira, ada apa? Mengapa kau tiba tiba menyerang Temanku?" Jasmine yang hanya mengenajan bikini kini meninggikan suarana.

Sulit sekali mengendalikan Wiratama yang kini di landa api cemburu, meski pemuda bernama Ryan itu sudah terkapar Wiratama terus menghajarnya.

Rose yang merasa malu akan kelakuan Wiratama segera mennarik tangan pria itu menuju mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.

Rose membuka pintu dan mendorong Wiratama memasuki mobil miliknya.

"Apa yang kau lakukan sialan? Kau berniat mempermalukan aku?" Rose marah, karna Wiratama bertindak berutal tanpa berpikir ataupun bertanya lebih dulu.

Lagi pula siapa yang akan bertanya di saat emosinya tengah memuncak.

"Aku tak suda ada pria lain yang dekat ataupun menyentuhmu."

"Kau tak memiliki hak untuk melarang dan membatasiku Tama!" Rose terlihat marah akan pengawal yang kini terlihat mengekangnya.

"Aku memiliki hak penuh atas keutuhan dirimu Nona."

"Kau hanya pengawal Tama! Akupun tak pernah melarangmu dekat dengan wanita manapun."

"Jika kau merasa tak adil, mulai sekarang larang aku agar tak mendekati wanita manapun." ujarnya datar, tapi sedetikpun Wiratama tak mengalihkan tatapannya dari Rose.

"Aku tak mau, untuk apa aku membatasi orang lain? Aku juga membiarkanmu bersenang senang semalam dengan wanita itu." Ketus Arumi.

"Aku tak bersenang senang dengannya."

"Apa kau ingin mengatakan jika kau dan wanita semalam main gundu begitu?" Demi apapun Wiratama merasa gemas sendiri akan ekspresi Rose, ia bahkan ingin menggigit dagu gadis itu saking gemasnya.

"Tidak juga."

"Wanita semalam itu adikku."

"Terserah."

"Lalu, bagian wajahmu yang mana yang di cium bocah ingusan tadi?" Wiratama masih tetap percaya akan penglihatannya yang di lakukan pemuda itu terlihat seperti mencium Rose.

"Bukan urusanmu. Sekalipun dia mencium atau meniduriku. Kau tak memiliki hak untuk melakukan apapun." Rose berniat keluar dari dalam mobil, tapi secepat kilat Wiratama mengunci pintu Rose.

"Aku perlu memastikan sendiri." Dengan tiba tiba dan tanpa ada angin apapun Wiratama menempelkan bibirnya di bibir Rose.

Bukan hanya sekedar menempel atau kecupan biasa, melainkan sebuah ciuman panas, seorang pria dewasa yang bergairah.

Me lu mat, me nye sap, juga meng ulum kedua belah bibir Rose bergantian. Pergerakan Rose di batasi sehingga ia tak bisa mengelak, dengan kuat Wiratama menekan tengkuk Rose, sampai pria itu memiringkan kepala untuk memperdalam ciuman.

Wiratama juga mengigit pelan bibir itu hongga sedikit terbuka, dengan segera Wiratama melesatkan lidahnya untuk mengabsen setiap inci mulu nonanya.

Ini nyata, ini bukan mimpi yang selalu di idamkan olehnya. Wiratama rakus serta serakah.

Seluruh oksigen seakan dihirup rakus oleh Wiratama, sehingga Rose yang masih syok terlihat kesulitan bernapas.

Sial gairah Wiratama tak tertolong lagi. Bahkan sebelah tangannya sudah hinggap dan me rem as salah satu kelembutan Nonanya, yang besarnya di atas kepalan tangannya sendiri.

"Emmm, emmm ..."

Rose berontak, ingin melepas ciuman panas dari Wiratama. Selain nafasnya yang sesak karna kehabisan oksigen, air mata Rose sudah meluruh begitu saja membasahi pipinya.

Sungguh Rose merasa di lecehkan dengan tindakan Wiratama yang terkesan tiba tiba.

Dengan enggan Wiratama melepas ciumannya, hingga bibir sensual Rose memantul karna ulahnya.

Wiratama tak langsung menjauhkan wajahnya, ia justru menahan tengkuk Rose dan menyatukan kening mereka, hingga nafas Rose terasa hangat membelai permukaan wajahnya.

Dengan penuh kehati hatian Wiratama mengusap bibir itu dari sisa sisa saliva menggunakan ibu jarinya.

Deru nafas Wiratama tak beraturan, nafsunya masih menggila.

"Kau mengambil ciuman pertamaku. Hiks ..." Rose menangis, sembari kini membungkam mulutnya.

"Ini juga ciuman pertamaku." Wiratama berujar tanpa merasa bersalah, di antara gairahnya yang masih meletup letup.

Terpopuler

Comments

Elmi Varida

Elmi Varida

udah sesek kayaknya si Wiratama😄😄

2025-03-27

0

Rini Eni

Rini Eni

dasar wirosableng,,cemburunya bukan kaleng2 wkwk

2023-11-12

1

blecky

blecky

akhrx mimpimu terwujud Tama wkwkkqw

2023-10-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!