Jangan hinakan aku!

"Buka pintunya! Rose."

 Dor ...

Dor ...

Wiratama menggedor pintu kamar mandi yang ada Rose tempati berada.

 "Rose, buka! Jangan membuatku cemas!" Bukan main, Wiratama merasa sangat khawatir atas apa yang terjadi pada wanitanya.

 Hanya ada suara kocoran air yang terdengar dari dari dalam kamar mandi.

 "Apa yang terjadi?" Wiratama terus mengetuk pintu untuk beberapa saat, hingga ia memutuskan untuk membuka pintu dengan paksa.

 Brak ...

 Pintu itu terbuka dengan sangat lebar, bahkan daun pintunya memantul karna kencangnya tendangan yang di buat Wiratama.

 "Ya Tuhan, Rose."

 Rose, menenggelamkan tubuh serta wajahnya di bathup yang tersedia di kamar mandi, hanya rambutnya saja yang terlihat di permukaan air.

 "Apa yang kau lakukan?" Wiratama mendekat dan mengangkat tubuh Rose dari dalam bath up.

 "Lepaskan aku! Aku panas, aku ingin berendam." Rose memberontak dari cengkraman Wiratama yang membebaskannya.

 Wiratama yakin jika saja gadis itu bukan Rose, mungkin saja Gadis itu akan menjatuhkan dirinya di dalam dekapan seorang pria, namun ini adalah Rose, gadis arogant yang senantiasa menyunjung tinggi harga dirinya.

"Rose, kau sadar?"

 "Ya, tentu aku sadar. Hanya saja aku merasa gerah dan panas." Tak henti hentinya Rose mengipas ngipas wajahnya menggunakan kedua tangannya. Dengan kuat Rose bahkan menggingit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah, hasratnya benar benar meninggi, meski sekuat mungkin ia menepis keinginannya.

"Berhenti menggigit bibirmu seperti ini?" Wiratama tentu tau apa yang di inginkan nonanya, ia juga sangat yakin jika Rose tak akan mengemis sentuhan dari seorang pria sekalipun dirinya.

"Selain panas, apa yang kau rasakan?"

"Milikku terasa lembab, juga sedikit berkedut." Wiratama melotot, jawaban jujur Rose membuat miliknya tegak seketika, gerakan Rose yang tidak beraturan juga membuatnya semakin ingin melabuhkan ciumannya.

"Ka-kau menginginkan sesuatu?" Wiratama gugup, keringat dingin mengembung di keningnya, ia mengusap bercak darah di bibir Rose.

"Aaahhh." Desa han pelan begitu saja keluar dari mulut Rose, tak munafik Rose menyambut sentuhannya.

Sebenarnya ini adalah kesempatan untuknya ia bisa memanfaatkan keadaan Rose yang dalam pengaruh obat, tapi Wiratama benar benar tak siap jika Rose akan membencinya.

Tubuh Rose basah kuyup, bentuk tubuhnya tercetak dengan sempurna, hal itu semakin membuat Wiratama panas dingin.

Wiratama hendak menghubungi dokter, tapi dengan gerakan cepat Rose tiba tiba memeluknya dari belakang.

"Ini rejeki, ini berkah!" batin Wiratama menjerit, pria 32 tahun itu senang bukan kepalang saat gadisnya menyentuhnya tanpa paksaan atau printah dari siapapun.

 "Antar aku pulang."

Jam di pergelangan Wiratama menunjukan pukul 2 siang.

 Sebelum keluar ruangan, Wiratama menyampirkan jas mahalnya di tubuh gadisnya, demi Tuhan Yudhistira tak rela jika ada orang lain mrlihat lekuk tubuh Rose sekalipun seorang wanita.

"Kita pulang sekarang."

Wiratama mengendarai mobil milik Rose, sepanjang perjalanan Rose tak henti hentinya menyentuh dirinya sendiri, drengan gerakan erotis.

Cukup sudah, Wiratama tak lagi bisa menahan hasratnya. Hingga tangannya meraih tangan Wiratama dan membawanya ke arah bibir untuk ia kecup. "Cukup sudah kau mengujiku! Aku bukanlah pria alim ataupun pria impoten." Wiratama menepikan mobilnya di sebuah penginapan yang ia lewati.

Sebelum keluar mobil Wiratama bahkan mencium bibir Rose dengan sangat menggebu, ciuman yang benar benar membuatnya tak waras saat Rose membalas pagutan bibirnya.

Wiratama yakin jika Rose dalam keadaan sadar, gadis itu tak akan membalas ciumannya, atau justru Rose akan kembali menapar wajahnya.

Namun apa yang terjadi? Rose justru menangkup pipinya juga menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman.

Bahkan di saat Wiratama meremas pinggang gadis itu, hanya lenguhan tertahan yang di berikan Rose sebagai responnya.

Cukup lama pertautan itu terjadi hingga keduanya melepaskan ciuman karna sama sama kesulitan bernafas akan apa yang mereka lakukan.

Wiratama memesan kamar termewah yang ada di hotel itu. Wiratama tak berani membawa Rose pulang dalam keadaan seperti ini, lagi pula ia membanting rencana sebelumnya dan menggantinya dengan rencana yang lain.

Rose mengikuti kemana Wiratama membawanya, sesekali tangannya mengucap lengan kekar Wiratama dan meraba urat urat yang begitu menonjol di lengan itu.

"Mengapa kau telihat seksi?" Rose meracau tak jelas, sedangkan Wiratama menarik satu sudut bibirnya mendengar ucapan gadisnya tampa sadar.

"Kuanggap itu pujian Tuan putri." Wiratama membawa Rose kekamar terbaik yang dimiliki hotel itu, baik ponselnya maupun onsel Rose sama sama tertinggal di mobil, maka siapapun yang menghubi keduanya tak akan di angkat oleh mereka.

"Katakan apa yang kau inginkan dariku?" Wiratama membawa Rose kearah ranjang, jemudian mendudukan gadisnya tepat di atas pangukannya

Beberapa kali Rose menggeleng, ia berusaha mempertahankan kewarasannya agar tidak jatuh dalam sesuatu dan berkubang dalam dosa.

"Lepaskan aku Tama!" Rose bersaha berdiri, ia tetap menekan kesadarannya supaya ia tak kehilangan kendali.

"Kumohon jangan hinakan aku!"

Jleb,

Mengapa rasanya Wiratama seperti menjadi pria keparat yang akan berusaha mengambil keuntungan pada seorang gadis yang berada dalam kondisi pengaruh obat.

"Pergilah Tama biarkan aku sendiri!" Rose mengurangi suhu ac agar semakin dingin, hal itu ia lakukan untuk meredam hasratnya.

"Kau tak membutuhkan bantuanku Tuan putri?" Wiratama menatap kasihan kepada gadisnya yang justu malah menghindar darinya, seburuk itukah ia di mata Rose hingga gadis itu tak ingin berbuat lebih lanjut dengannya, padahal Wiratama faham benar setersiksa apa gadisnya.

"Tidak!" ujar Rose datar, ia tak mengerti dengan apa yang ia alami. Padahal ia tak minum minuman alkohol tapi menyapa kesadarannya nyaris hilang, reaksi tubuhnya bahkan sulit ia kendalikan.

Pengaruh obat itu semakin lama semakin menyiksa tubuh Rose, ia butuh kepuasan.

"Apa karna aku seorang pengawal kau tak ingin melakukan hal lebih jau denganku?"

"Bukan begitu Tama. Bagiku melakukan sesutu hal besar dengan seorang pria tanpa status perkawinan juga komitmen yang jelas itu adalah kesalahan. Aku malu terhadap Tuhanku dan manusia lainnya jika aku menjadi wanita hina. Aku ingin mengatakan dengan bangga kepada priaku nanti jika kesucianku masih ku jaga dan akan kupersembahkan hanya untuknya."

Rose semakin berkabut ia bahkan kehilangan kesadarannya dan justru malah mendekat kearah Wiratama dan memeluk serta merayu pria dewasa itu melalui sentuhan sentuhan kecill. Kaku dan tak berpengalaman tapi hal itu mampu membuat kepala ataa bawah Wiratama berdenyut.

"Persetan dengan kesucian, kau yang memancingku lebih dulu. Baik sekarang atau nanti, semuanya sama saja. Kau sama sama akan kumiliki." Wiratama dengan sadar sesadar sadarnya melucuti pakaiannya sendiri,

Rosepun yang sudah kehilngan kewarasan, ia diam saja bahkan sesekali menyambut sentuhan Wiratama.

"Tolong jangan hinakan aku!" rac auan Rose terus terdengar di antara sadar dan tidaknya gadis itu.

"Tak ada yang akn menghinakanmu Tuan putri! Biarkan aku bersenang senang sebentar dengan tubuhmu!"

"Asal tidak mengambil kesucianku, kubebaskan kau nelakukan apapun" Rose kini membelai dada tela njang menggunkan jemari lentiknya.

"Kita akan bersenang senang. Lebih tepatnya akulah yang akan bersenang senang." Dengan segera Wiratama mengungkung tubuh gadisnya dalam keadaan yang sama sama polos.

Terpopuler

Comments

Aska

Aska

bikin tegang bacanya kira kira tama bobol gawang rose g ya

2023-10-21

0

Aska

Aska

author salah ketik nyasar ke om kudis

2023-10-21

0

Yuyun Yunita

Yuyun Yunita

bagaimana bersenang senang sedangkan tdk boleh sampe jebol itu perawan🤣
kasian tama 🤣🤣

2023-10-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!