Rose menyamai langkah Wiratama, yang kini menuntunnya memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
"Kau apakan Damian hingga dia bawa oleh Ambulance?"
"Tak banyak, aku hanya mematahkan lengan serta jari telunjuknya, aku kesal karna telunjuknya lancang menjawil dagumu." Wiratama menggeram marah.
"Dia lumayan dalam bertarung, aku mendapatkan bogeman mentah dari kepalan tangannya." Wiratama menunjuk luka di sudut bibirnya, ada sebercak darah juga di sana.
"Kau terluka?" sebelah tangan Rose menyentuh luka itu, karna tangan sebelahnya masih di genggam oleh Wiratama.
"Apa ada luka lain?" Wiratama dapat menemui kecemasan dalam pertanyaan gadis itu.
"Maksudku, apa kau terluka di tempat lain. Apa perlu kita kerumah sakit? Ini pasti sakit sekali."
Untuk bebarapa saat Wiratama membeku di tempatnya, ia turut menikmati sentuhan lembut di permukaan bibirnya yang terluka.
Sungguh jika akan mendapatkan secuil perhatian Rose tak mengapa jika dirinya harus terluka kembali.
Ish, sejak kapan Wiratama jadi pandai bersajak seperti ini.
"Tidak perlu, tapi jika kau ingin mengobatiku kau boleh mengecupku." Wiratama merendahkan tinggi tubuhnya tepat di hadapan Rose, ia tak benar benar bersungguh sungguh dalam berkata demikian, tadinya ia hanya ingin membuat Rose kembali kesal.
Tanpa di duga Rose berjinjit dan mengecup sekilas bibir Wiratama.
Ommo, ini nyata?
Wiratama bahkan terkejut setengah hidup, nonanya dengan santai melabuhkan kecupan di bibirnya.
Lutut Wiratama melemas, ia hampir saja kalah oleh serangan nonanya yang tiba tiba, serangan ini lebih kuat dari serangan Damian padanya, seakan ada sebuah balok yang menghantam tulang belulangnya. Ia kehilangan kesadarannya untuk beberapa waktu, bagian tubuhnya yang lain bahkan sudah menegang.
Dasar penggoda ulung!
Wiratama salah tingkah mendapati kecupan mendadak itu, sedangkan Rose terlihat diam saja tak melakukan apapun, seakan apa yang ia lakukan barusan merupakan hal sepele, tidak taukah jika reaksi tubuh Wiratama kini sudah bergetar tak karuan.
Sekuat mungkin Wiratama mengendalikan diri agar tidak balas menyerang mulut nonanya. Sial Wiratama bahkan di buat gila hanya dengan satu kecupan.
Ini benar benar sialan niat hati ingin menggretak Nonanya supaya Nonanya semakin kesal justru Rose malah benar benar mengecup bibirnya ini sebenarnya berkah, tapi membahayakan.
Wiratama bahkan menjulurkan sedikit lidahnya, untuk mencicipi bekas bibir Nonanya, dan sialnya rasanya sangat manis, astagha sejak kapan kecupan seseorang semanis ini? Apa ia terlalu monoton dalam hidup di dunia ini, hingga tak pernah merasakan ciuman dari wanita.
Reaksi tubuhnya saat berdekatan dengan Rose kini berubah, jika biasanya sangat terbatas serta penuh perhitungan, namun setelah kecupan beberapa waktu lalu reaksinya kini berubah menjadi panas dingin, reaksi ini di timbulkan apa bila dirinya tengah menonton film biru atau membaca majalah dewasa. Tapi kali ini reaksi itu muncul saat bersama nonanya.
Benar benar sialan, ia tak nyaman saat inti tubuhnya berdiri tegak dengan sempurna. Lancang sekali miliknya berdiri saat tengah bersama nonanya.
"Aku harus berhati hati mulai sekarang!"
Rose baru sadar jika dirinya diam saja sedari tadi, tangannya dan tangan Wiratama masih saling bertautan.
"Lepas ih, kayak mau nyebrang aja gandengan." Rose berusaha melepas pertautan tangan Wiratama.
Rose sama sekali tak merasa bersalah setelah mengecup Wiratama, tak tau saja Rose, jika pria dewasa itu sampai memerah sampai ke telinga dan wajahnya karena menahan gairah yang tiba tiba muncul.
Sepertinya lain kali ia harus menerima tawara asisten Jo yang kerap kali menawari seorang wanita.
"Hemm ..."
Wiratama berdehem untuk melenyapkan kegugupan yang ia rasakan.
Semakin lama Wiratama tak bisa mehan diri apa lagi lift yang mereka tumpangi seakan lamban bergerak sehingga ia merasa pengap akan hasratnya, di tambah aroma nonanya yang kini memenuhi indra penciumannya.
Ini normalkan? Ia bukan mencintai nonanya hanya saja Wiratama berpikir ini hanya rasa penasarannya saja. Ya, karna mana mungkin ia jatuh cinta kepada seorang gadis kecil yang ia saksikan langsung pertumbuhannya, dan saat ia kembali nanti ke negara asalnya, tahta dan wanita pasti sudah di persiapkan keluarganya.
Tapi di jika ia ingin memiliki wanita lain, ia bisa memiliki beberapa orang selir, sebagai calon raja tentu saja ia berhak memiliki banyak wanita di sekelilingnya, begitu pula yang di lakukan ayahnya, pria tua itu memiliki banyak selir, bahkan diantara selir selir ayahnya ada beberapa yang usianya setara dengan adiknya. Ck, membagongkan.
Semakin lama Wiratama kesulitan menahan gejolak asing yang tengah berusaha ia redam, lift itu bahkan terasa gerah dengan keringat yang sudah mulai mengembun.
Beruntung lift terbuka, dan keduanya berjalan menuju parkiran.
"Ya Tuhan apa yang di lakukan gadis itu?" Rose justru membuka blejer yang ia kenakan, dan meletakannya di dashboart mobil hingga tanktop berwarna putih dapat Wiratama lihat.
Sialan ... Sialan ...
Entah berapa banyak Wiratama mengumpat hari ini, Wiratama bahkan kehilangan sedikit kewarasannya, ia kesulitan meneguk salivanya sendiri yang tiba tiba volumenya seakan sebesar bola tenis.
Rose kini semakin bertingkah, rambut lurusnya kini ia ikat secara sembarang hingga memamerkan lehernya yang jenjang.
"Owhh, sebahaya ini nonaku? Rasanya aku lebih siap menghadapi seratus prajurit akhli dari pada menghadapi seorang wanita sepertinya."
"Ya Tuhan panas sekali, apa kau belum menyervis mobilku mengapa ac nya tak dingin." Rose tidak berbohong akan hal itu, udara memang terasa sangat terik sekarang.
"Justru yang panas dirimu Nona." Wiratama menggeram di antara giginya yang terkatup rapat.
Tak banyak bicara Wiratama segera membesarkan suhu ac di mobilnya agar Nonanya tidak kepanasan, di saat waktu makan siang seperti ini udara ibu kota menang tengah panas panasnya.
Rose meraih satu botol kecil air mineral dan menbuka tutup botolnya menggunakan giginya, padahal Wiratama ada di sebelahnya, namun prinsif hidup Rose adalah mengurangi meminta bantuan atau meminta tolong kepada orang lain selagi ia mampu melakukannya, kecuali ia tengah kesal kepada pengawalnya, beda lagi ceritanya Rose akan mengerjau pengawalnya habis habisan.
"Kau tangguh sekali." cibir Wiratama.
"Papaku menyuruhku mandiri, dan tidak bergantung kepada siapapun, karna bisa saja perminta tolongan kita di ungkit secara berutah oleh orang yang salah." Nona muda itu merendahkan tubuhnya untuk meraih kaki jenjangnya dan melepas sepatu ber hak tingginya, mengganti dengan sepasang sendal jepit yang di sodorkan oleh pengawalnya, sesekali Rose menampilkan kesederhanaan hanya di depan Wiratama dan keluarganya saja.
Saat mereka hendak pergi, seseorang mengetuk pintu mobil yang mana di sana ada teman sekaligus asisten Rose yang bernama Diana.
Tok ... Tok ...
"Rose, ada hal penting sebentar."
Wanita itu berucap sembari terus mengetuk kaca mobilnya, sekalipun wanita itu mengintip ia tak tau apa yang di lakukan Rose di dalam mobil karna kaca mobil itu tak tembus pandang.
Rose membuka pintu dan keluar untuk menemui temannya. "Tunggu sebentar."
Wiratama tau kata sebentar yang Rose ucapkan pasti lebih dari 30 menit.
Sembari menunggu Rose yang tengah menemui Diana, entah dorongan dari mana Wiratama meraih blejer milik Nonanya dan membawa ke hidungnya, untuk ia hirup lambat lambat aroma itu.
Hanya dengan menghirup blejer Nonanya hasrat Wiratama yang sejak tadi bangkit kini semakin berkobar. Peia itu mematikan kamera di dalam mobil, sepertinya ia tak tahan ingin melakukan hal tercela dengan kelima jemarinya.
Untuk pertama kalinya Wiratama melampaui batas, bersolo karier di mobil nonanya dengan Rose sebagai objek fantasinya.
Sepertinya Wiratama perlu mengosongkan kantung sper manya sekarang, atau moodnya akan memburuk hingga malam nanti, ini kesempatan.
Wiratama membuka celananya dan mengeluarkan senjatanya, tangannya yang kekar memainkan benda tegak miliknya, memainkannya maju mundur dengan urutan cepat, ia membayangkan tengah menguasai tubuh Nonanya. Ini adalah kelancangan tak termaafkan, untuk setatusnya sebagai seorang pengawal, yang mana ia bermanstrubasi dengan objek Rose sebagai lawan mainnya.
"Sialan, kau nikmat Rose." geraman itu semakin terdengar memburu, sesekali Wiratama melirik kearah Nonanya yang tengah berbincang dengan asistennya.
"Aaaa ..."
Setelah beberapa saat Wiratama me nge rang dengan nafas lega, bersammaan dengan cairan putih kental yang mengori tangan sampai ke pakaiannya.
"Bedebah, ini benar benar konyol, mengapa bisa aku segila ini?"
Wiratama segera meraih tissue untuk membersihkan cairan miliknya, ia juga perlu ketoilet untuk membersihkan diri juga berganti pakaian.
"Terkutuklah aku! yang melecehkan pakaian nonaku sendiri." Wiratama mengseka cairannya yang tertinggal di blejer milik nonanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Aska
😱 gak percaya rasanya
2023-09-26
1
Aira Zaskia
tama yg nyuruh kecup,tapi dia juga yg blingsetan😂😂
2023-09-25
1
merry jen
sableng si Wira mshh ..klo nkhin rose kmu jgn nkh nkh lgg wira
2023-09-23
1