Semua karna putrimu

Rose membungkam mulutnya menggunakan tangannya. Mencoba meredam isak tangis yang lumayan menyesakkan dadanya.

Ini ciuman pertamanya, terdengar menggelikan di umurnya yang 23 tahun Rose baru saja merasakan ciuman pertama. Padahal Valery adik ketiganya saja sudah sering kali berciuman dengan para kekasihnya.

"Bedebah kau Tama!" Rose melayangkan pukulan pukulannya ke tubuh Wiratama.

"Beraninya kau mengambil ciuman pertamaku!" Maki Rose dengan suara bergetar.

 "Dasar peramal sialan! Dia membohongiku, katanya aku akan di nikahi seorang pangeran, ciuman pertamaku juga akan di ambil pangeran. Nyatanya yang mengambil ciumamku justru pengawal sialan." Terang terangan Rose memaki Wiratama, juga seorang peramal yang mengatakan jika dirinya akan di nikahi seorang pangeran.

Dulu Rose dan Jasmine pernah melakukan tindakan konyol, dengan mendatangi tenda seorang peramal di suatu taman hiburan. Rose pikir kabar baik akan mendatangi rupanya hingga kini sang pangeran belum juga muncul kepermukaan.

"Bibirku yang suci." isak Rose.

Ada rasa bangga di relung Wiratama, karna ciuman pertama sang gadis berhasil ia dapatkan, bagai mana gadis itu menjaga diri ia sangat mengetahuinya dan turut menjaganya juga.

"Bukan hanya ciuman saja yang akan aku ambil darimu. Semuanya akan kumiliki darimu, mulai dari perhatian juga kehormatanmu." Wiratama bertekad kuat, ia membiarkan Rose memukuli tubuhnya meski pukulan itu cukup menyakitkan mengingat Rose memang pandai bela diri.

"Apa yang ada di kepalamu itu? Hah, lancang sekali kau mencium dan mere mas milikku." Pertama kalinya dalam sejarah, seseorang berani menoyor kepala Wiratama. Ia mengaku salah dan tak bisa mengendalikan gairahnya, untuk itu Wiratama hanya bungkam.

"Aku membencimu Tama!"

"Sekalipun aku tak menciummu kau tetap tak menyukaiku." ujar Tama datar.

"Ya, dan karna ini aku semakin, membencimu, semakin dan sangat besar membencimu Tama!"

"Hati hati Nona muda, benci dan cinta bedanya setipis kulit bawang."

"Aku tak berminat mencintaimu."

"Oh, Yeah."

"Tutup mulutmu! Rasanya aku ingin menghinggapkan kakiku di mulut tak tau dirimu itu." Rose tengah marah, giginya bahkan terdengar berdecit dengan gigi lainnya.

"Aku tak keberatan Nona."

Tak ada kata maaf ataupun basa basi lainnya, Wiratama melakukan hal itu dengan sadar, sesadar sadarnya.

"Keluar dari mobilku!" usir Rose pada sang pengawal tampannya.

Bukan keluar Wiratama justru melajukan mobil nonanya, membawa Rose ke sebuah tempat.

Rose tak berbicara lagi, gadis itu membuang pandangannya keluar jendela, air matanya kembali meluruh menggenangi pipinya.

Rasanya kemarahannya pada Wiratama juga terkesan sia sia karna pria itu menganggap sepele hal tersebut, mungkin dirinya yang terlalu lebay dan berlebih.

Wiratama melirik menggunakan ekor matanya kearah Rose, buru buru gadis itu mengusap air mata sialan yang tak surut surut.

"Kau memang mahal. Aku beruntung mengambil paksa ciuman pertamamu."

"Mau kemana? Ini bukan jalan pulang." Akhirnya Rose mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat bungkam.

"Kau harus membersihkan diri terlebih dahulu."

"Aku akan membersihkannya nanti di rumah."

"Kita akan keapartemenku."

Rose membolakan matanya, semenjak kejadian tadi Rose harus lebih hati hati terhadap Wiratama, pria itu sudah menunjukan sebagian dirinya yang sesungguhnya.

"Aku tidak mau. Aku mau pulang saja. Turunkan aku sekarang!"

Rose membuka kunci dan pintu mobil dengan cepat, gadis itu kini mulai mengancam Wiratama.

"Turunkan aku atau aku akan benar benar melompat." Ancaman Rose tak main main, sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi diri dari siapapun yang sifatnya mengancam.

"Rose," Wiratama kini berani memanggil nama Rose tanpa embel embel nona di depannya.

"Aku tak main main Tama!"

"Kita hanya mempir sebentar, kau perlu mandi air hangat dan mengganti pakaianmu yang basah dan di penuhi pasir."

"Sudah kubilang aku tidak mau!"

"Kau takut padaku?"

"Aku hanya tak ingin menggadaikan martabatku untuk mendatangi rumah seorang pria yang menurutku berbahaya. Jika saja papaku tau jika putrinya di lecehkan oleh orang kepercayaannya mungkin dia akan meledakan isi kepalamu itu."

Ya Tuhan sedangkal itu pemikiran Rose tentang pembudidayan manusia. Wiratama baru menciumnya sekali tapi wanita itu sudah seperti korban pemer kosaan saja.

"Cepat turunkan aku!"

"Oke, kita pulang sekarang."

Wiratama menyerah akhirnya pria itu mengantarkan Rose pulang kerumahnya.

Sampai dirumah Rose, pangeran Gland masih berada di sana, sepertinya tengah melakukan pendekatan kepada Tuan dan Nyonya Wiratama.

"Sayang sudah pulang?" Arjuna berdiri dari duduknya menghampiri putrinya dengan rambut yang terlihat setengah basah.

"Pengawalku mengacaukan hari mingguku. Pecat saja dirinya! Aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diriku sendiri." Rose terlihat marah, metapap berang kearah Wiratama yang dengan tenang duduk dan menyilangkan kaki di sebelah pangeran Gland, kedua tangannya di lipat di perut dengan dagu yang di angkat tinggi, menegaskan jiwa kepempiminannya.

Rose menaiki anak tangga dengan menghentakan kakinya dan mengabaikan kehadiran Wiratama dan pangeran Gland yang berada di sana.

Elis menyusul putrinya yang terlihat marah dan kedal karna sesuatu.

"Ada apa? Hmm?" Elis mendekati putrinya yang terlihat tengah menyiapkan air hangat untuk dirinya sendiri mandi.

"Aku kesal Ma, aku marah!" ungkap Rose dengan bibir bergetar.

"Karna Tama?" Rose mengangguk membenarkan.

"Dia kurang ajar Ma! Dia mempermalukanku, menfitnahku juga melecehkanku." Akhirnya Rose menangis juga, ia tak sanggup membendung kemarahannya sendirian saja.

"Melecehkan bagai mana?" Elis sudah mengira jika Wiratama berbuat macam macam kepada putrinya,

"Pertama dia tiba tiba memukul Ryan yang tengah meniup mataku yang kelilipan. Yang kedua dia menuduh dan memfitnahku telah berciuman denga Ryan temannya Jasmine. Dia tiba tiba menciumku Ma, dia mencium bibirku dengan paksa. Aku marah padanya. Dia lancang kepadaku. Hikss ..."

"Dia mengambil ciuman pertamaku." Adu Rose kepada Mamanya.

'Pemberani sekali pangeran mahkota itu mencium putriku' ucap Elis dalam hati.

"Nanti Mama tegur dia supaya tidak berani macam macam lagi kepadamu." Elis mengelus rambut putrinya dengan sangat lembut mencoba membujuk gadis itu.

"Pecat saja Ma."

"Nanti Mama bicarakan dulu sama Papa. Sekarang kau mandi terlebih dahulu ya." Elis meninggalkan dan menyuruh putrinya untuk membersihkan diri.

Sampai di ruang keluarga hanya ada Wiratama dan Suaminya saja yang tengah berbincang masah kekuasaan dan wilayah, Arjuna kini tertarik menanyainya beberapa hal termasuk alasan Wiratama melarikan diri dari tempatnya.

"Masa kecilku sangatlah buruk Tuan, untuk itu aku memutuskan untuk melatih diriku yang lemah menjadi seorang pria kuat untuk bisa memimpin negriku suatu saat nanti. Atas ijin ayahku pula aku meninggalkan istana dan rakyatku,Terimakasih sudah memberikanku pendidikan dan pengetahuan yang luar biasa. Aku sangat berterimakasih untuk itu." Wiratama mengucapkan banyak terimakasih dengan tulus kepada Tuannya.

"Kapan kau akan kembali ke negaramu?" Arjuna mempertanyakan ini sejak lama, namun ia baru merealisasikannnya sekarang.

"Harusnya sudah sejak 2 tahun lalu aku kembali. Itulah yang di perintahkan ayahku."

"Lalu mengapa hingga hari ini kau masih di sini?"

"Itu semua karna putrimu Tuan. Ya, hanya karna putrimu saja aku masih disini. Aku akan kembali dengan membawa calon ratu selanjutnya untuk rakyatku." Tegas Wiratama.

"Cih, apa salah satunya dengan cara mengambil paksa ciumannya?" Elis mengatakan itu tanpa tau malu.

"Kau mencium putriku?" Arjuna hampir tak percaya akan perbuatan pengawal putrinya, selama lebih dari 16 tahun Arjuna mengenal Wiratama, sejauh yang ia tau pemuda itu belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, sekalipun ia dan asistennya menawarkan bahkan mengenalkan gadis gadis cantik padanya tapi Wiratama tak tertarik.

Siapa yang menyangka jika gadis yang di inginkannya adalah Nonanya sendiri. Wiratama sedikiitpun tak menyadari akan hal itu, ia baru menyadari perasaannya baru baru ini.

"Hmm,"

Hanya deheman yang di keluarkan Wiratama.

"Kau memaksanya?"

"Hmm."

"Kau tau dia tak suka di paksa!" Elis terlihat emosi, mengapa Wiratama tak mengambil simpati atau perhatiannya lebih dulu sebelum berniat macam macam.

"Nyonya pikir, Rose akan bersedia di cium olehku jika aku tak memaksanya?"

Astaga pertanyaan gila macam apa ini? Seorang pangeran mangkota membahas hal intim dengan calon mertuanya.

"Kau benar benar memaksanya?"

"Aku hanya memastikan sendiri jika pria lain belum menyentuh gadisku. Gadis yang kubesarkan dengan sepenuh hati."

"Jangan katakan seperti anak sendiri, seperti malika." Kerandoman Elis selalu muncul di umurnya yang semakin tua.

"Rasanya aku tak rela jika menyaksikan gadis kecilku bersanding dengan pria lain, sekalipun adikku sendiri."

"Kau merasakan hal itu terhadap Jasmine dan Valery?" Arjuna penasaran.

"Tidak, aku hanya merasa memiliki putri sulungmu saja Tuan."

"Jangan lagi menyetuh putriku selama kau belum mengikatnya dengan pernikahan."

Wiratama mengangguk, meski ia tak yakin akan hal itu, karna otak mesumnya kini sudah berpikir bagai mana caranya ia kembali mencium bibir ramum dengan rasa Memabukan itu.

"Sialan, semua karna putrimu! Aku juga menjadi pria brengsek karna putrimu juga." Wiratama bahkan mengulum bibirnya sendiri, berharap rasa bibir gadisnya masih tersisa di sana.

Terpopuler

Comments

Aprivia Vallen

Aprivia Vallen

kok disamain kedelai😄😄

2023-10-31

0

Xyezon

Xyezon

wkwkwk lg ngomongin serius eehh malah nyambung ke malika si kedelai hitam

si othor ni sa ae

2023-10-16

0

Yuyun Yunita

Yuyun Yunita

yg ini ceritany sdkt gokil y thor🤭 beda diceritanya arjuna n elis dl yg penuh dgn kerumitan

2023-10-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!