"Tama. Apa yang kau tunggu? Cepat pergi!"
Rose terlihat kesal lantaran pengawal itu masih saja duduk di sampingnya dan terus menempelkan botol di perut nona cerewetnya.
"Kau sengaja ya? Terus berada di tempat ini agar Papaku mengetahui kau berada di kamar anak gadisnya. Kemudian kau ingin di nikahkan denganku. Apa begitu maksudmu?" Rose menuduh pengawalnya dengan sangat jelas, hidungnya bahkan kembang kempis saking kesalnya akan pria itu.
"Kau cukup pintar, aku tak ingin munafik siapa yang mampu menolak pesonamu Nona? Pria gilapun akan mendadak waras jika hendak di nikahkan denganmu. Tapi itu jika orang lain tidak berlalu untukku, seleraku tentu saja lebih tinggi darimu" Wiratama hanya mampu mengatakan itu di dalam hatinya, jika ia lancang mengatakan hal demikian bisa bisa Rose mencekik lehernya sekarang.
Tidak ingin membuat Rose semakin marah akhirnya Wiratama berdiri untuk keluar dari kamar itu.
Tak salah Ros menamai pria itu bisu dan tuli, karna pria itu kerap kali tak menanggapi ucapannya, tanpa mengatakan apapun Wiratama berjalan menuju kearah pintu.
Belum sempat Wiratama keluar kamar, pintu sudah terdorong dari luar dan sudah terbuka menampilkan Elis selaku Mama dari Rose.
"Wiraaaa! Apa yang kau lakukan di kamar putriku?" Elis berteriak, suaranya bahkan menggelegar memenuhi setiap sudut rumah itu.
"Mati aku!" Rose bedecak dengan malas, sedangkan Wiratama tak terpengaruh sama sekali pria itu justru dengan santai melipat tangan di atas perutnya. Wiratama berani bertaruh jika sebentar lagi Tuannya akan menghampiri mereka.
Elis mendekat ke arah ranjang putrinya, mencoba menelisik ranjang putrinya yang terlihat sedikit kusut di kedua sisi tempat tidur, karna memang sejak semalam Rose tidak nyenyak tertidur karna sakit, sehingga tubuhnya menciptakan sedikit kegaduhan di atas tempat tidurnya yang berwarna putih.
Elis bahkan membolakan matanya saat mendapatkan bercak darah di seprai putrinya, pikirannya mengudara mencoba menerka apa yang baru saja di lakukan seorang pria dan wanita dalam sebuah ruangan.
"Rose," tatapan Elis seakan menguliti hidup hidup gadisnya.
"Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Aku tak melakukan apapun sungguh." Rose bahkan mengangkat jedua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk hurup V.
"Iya kan Tama? Kita tak melakukan apa yang Mama pikirkan." Rose meminta persetujuan pengawalnya, karna ia tak ingin mamanya salah paham sayangnya pilihannya meminta persetujuan Tama adalah hal yang salah besar, karna pria itu justru bertingkah sok polos.
"Memangnya Nyonya berpikir apa?"
Sekarang tidak hanya Elis yang terlihat terkejut, Rose juga demikian. Ucapan Tama benar benar membagongkan, Rose tau Tama tidak sebodoh itu.
"Tama," Rose menggeram marah, diantara mulutnya yang mengatup, di sertai rahangnya yang mengeras.
Wiratama sangat menikmati ekspresi Rose yang tersudut, tertekan dan di salahkan. Tak gampang membuat gadis itu merasakan hal seperti ini, karna secepat kilat Rose selalu bisa memberbaiki situasi.
"Junaaa!" Elis memanggil suaminya dengan lantang hingga Arjuna dan ketiga anak lainnya mendekat kearah mereka termasuk Abimanyu, seorang anak laki laki yang baru berusia 12 tahun, putra mereka satu satunya yang menggeser gelar Valery sebagai anak bungsu.
"Aku hanya memanggil Papa kalian. Mine, Vale bawa Abi pergi dari sini. Mama perlu berbicara pada Papa dan Om Wira " Elis memerintahkan ketiga anaknya yang lain untuk segera meninggalkan tempat itu karna hal yang akan mereka bahas merupakan hal berbau dewasa.
"Ma, ini tidak seperti apa yang Mama pikirkan. Sungguh aku tak melakukan apapun dengannya." Rose bangun dari rebahannya dengan botol yang berisi air hangat yang ia tempelkan di perutnya.
"Kalian menginap dikamar yang sama?"
Arjuna menyipitkan matanya penuh selidik kepada putri sulungnya, jelas di usia Rose yang ke 23 tahun, anak gadisnya itu pasti tau maksud dari tidur bersama yang Arjuna tanyakan.
"Tidak Pa, sungguh aku tak seperti yang Papa tanyakan." Rose meletakan botol kaca yang sudah hampir mendingin itu di atas nakas.
"Lalu apa yang Wira lakukan di kamarmu di waktu yang sepagi ini?" Arjuna menatap penuh selidik putrinya, karna jujur saja setelah mengetahui secuil kemungkinan hidup tentang Wiratama nyali Arjuna merasa menciut, bagaimana tidak yang ia tugaskan untuk mengawal putri putrinya selama 12 tahun merupakan seorang pangeran mahkota negri Zurham.
"Apa yang kau lakukan di kamar putriku? Apa kau menaiki ranjangnya?" Elis justru bertanya pada Wira, padahal ia tau jika Wira kemungkinan besar merupakan pangeran Steven yang melarikan diri, tapi bukannya bertindak sopan kepada Wiratama Elis justru memanpaatkan hal tersebut. Lagipula orang tua mana yang tak menginginkan seorang menantu yang merupakan pangeran mahkota.
Bukankah ini merupakan kesempatan emas? Benar benar picik pikiran ibu yang satu ini, berharap jika putinya sudah menghabiskan malam dengan pengawalnya sendiri.
Wiratama tak terpengaruh, ia masih menikmati raut tegang di wajah Rose, raut yang sangat jarang di tampilkan Nonanya, jujur hal itu menjadi hiburan tersendiri untunya.
"Jawab aku Wira! Apa kau menaiki ranjang putriku?" Elis mengulang pertanyaannya, tapi sungguh Elis akan sangat senang jika pangeran mahkota ini menghabiskan waktu dengan putrinya. Benar benar licik.
"Ya."
"Ya?" Rose justru membeo ucapan Wiratama lalu sesaat kemudian Rose membolakan matanya merasa bodoh dengan ucapan pria itu, ia dapat menyadari jika Papanya memandangnya dengan tatapan lasernya.
"Kau benar benar menaiki ranjang putriku?" Elis bertanya sumringah, dan sungguh Arjuna ingin mengusap wajah istrinya itu.
"Ya." Wiratama tak bohong, tadi memang ia sempat menaiki ranjang Rose untuk menpelkan botol di perut nona mudanya.
"Juna kau dengar? Sepertinya kau harus menikahkan putrimu secepatnya!" memang ini yang Elis ingin ucapkan sejak tadi.
"Mama," Rose tak suka saat Mamanya bertingkah ceplas ceplos seperti ini.
"Rose, turunkan nada suaramu!" Arjuna menegur putrinya, saat Rose menampilkan nada suara sedikit tinggi.
"Tama katakan sesuatu! Atau kau memang sengaja ingin mrnikahi gadis sepertiku." Sarkas Ros, sedangkan Wiratama hanya melipat bibirnya rapat rapat, ia takut tawanya meledak saat menikmati wajah Rose yang terlihat panik.
"Apa yang harus kukatakan Nona? Aku memang menaiki ranjangmu, atas perintah Nona juga aku ada disini, juga mengambilkan pakaian ganti untukmu dan memasangkan-"
"Cukup Tama! Kau bukannya membantuku, kau justru marah mempertambah buruk keadaan." Rose terlihat semakin marah, bahkan deru nafas gadis itu terdengar oleh rungu semua orang.
"Tak ada yang akan menikah Ma. Aku hanya akan menikah dengan seorang bangsawan yang kaya raya yang datang melamarku secara resmi. Memangnya aku kerbau, harus di nikahkan dengan cara seperti ini." Rose memang tengah marah.
Baiklah kita lihat takdir macam apa yang menanti nona Arogant itu?
"Dan lagi, Tama ada di kamarku hanya mengantarkan pembalut dan minuman herbal. Bercak darah di sepraiku bukan berasal dari selaput daraku yang di rusak Tama, melainkan karna darah datang bulan yang membus celanaku!"
Seperti inilah sisi lain Nona mudanya.
"Uhuk ... Uhuk ..."
Wiratama sampai terbatuk batuk karna tersedak mendengar ucapan prontal Nona mudanya yang satu ini.
Wajah Elis juga Arjuna sudah memerah karna malu atas ucapan putrinya yang tengah marah.
"Ranjangmu kusut dan-" Mama Elis menuduh lagi.
"Tentu saja kusut karna semalaman aku kesakitan akan datang bulanku, aku tak tidur nyenyak sehingga kesana kemari mencari posisi nyaman, bukan kusut karna pertempuran panas antara sepasang kekasih. Aku tidak bercinta dengan tama."
Lebih tepatnya belum!
Entah hati siapa yang bersorak, sungguh othor tidak tau.
"Uhuk ... Uhuk ..."
Kali ini bukan hanya Tama yang terbatuk batuk, melainkan semua orsng termasuk Papa Juna dan Mama Elis, mereka tersedak masal.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tolong tinggalkan kamarku! Terlebih kau!" Rose menatap marah kearah Tama yang sialnya bibir pria itu malah berkedut tipis, dan hal itu di saksikan oleh Rose.
"Kenapa bibirmu tersenyum Sialan! Apa kau ingin aku merobeknya?" Geram Rose.
"Aku tidak keberatan jika kau mengecupnya." Tama berbisik, entah hal itu sengaja ia ucapkan agar Rose bertambah marah atau ia memang bersungguh sungguh.
"Tamaaa!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
🌷💚SITI.R💚🌷
ini mama elis udh ngebet pingin tama di jadiin mantu..
2023-09-26
1
Aska
Tamaaaaaa menyebalkan Juna sm Elis pengen cepat punya mantu biar cepat punya cucu 🤣🤣🤣
2023-09-20
1
Haris Sahri
banyakin thor nulisnya biar semangat bacanya
2023-09-20
1