Calon pengantin

"Apa aku pernah mengatakanmu cantik secara langsung?" Wiratama menatap wajah Ros yang sedikit mendongak kearahnya dengann mata terpejam, dagunya bertumpu di antara dadanya.

"Sepertinya belum." Tama bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.

"Selama 13 tahun aku membatasi diriku darimu. Ini memang terdengar sedikit konyol tapi itulah faktanya, aku menyukaimu sejak umurmu 10 sepertinya. Aku tak tau pastinya, tapi yang kulakukan adalah menyangkal serta menghibur hatiku. Sialnya kau selalu merubuhkan tembok tinggi yang sengaja kuciptakan." Wiratama menjawil hidung bangir gadis yang ia aku adalah miliknya.

"Aku menyukai dagu angkuh yang selalu kau angkat, aku menyukai tatapan penuh cinta yang kau berikan kepada adik adikmu. Aku menyukai ketergantunganmu kepadaku, aku sama sekali tak keberatan saat di repotkan olehmu. Tidak bisakah kau berpikir ulang dan melihat ketangguhanku sebagai seorang pria?"

Luntur sudah raut dingin yang selalu ia tampilkan. Wajah acuhnya kini tak dapat terpasang jika ia tengah bersama Rose.

"Katamu kau tak tertarik kepadaku? Aku tampan, tapi kenapa aku tak termasuk typemu?"

Lama kelamaan Wiratama merasa lelah karna berbicara sendiri, akhirnya kantuk mulai menghampiri, kemudian menyapanya hingga Wiratama memejamkan matanya dalam pelukan gadis pujaannya.

Rasanya Wiratama baru saja memejamkan matanya, teriakan nyaring juga sebuah tendangan mampir ke dadannya hingga Wiratama terjungkal ke atas lantai.

Duak ...

"Aaaa, sial ini sakit!" Wiratama mengusap bokongnya yang mendarat lebih dulu di atas lantai.

Dadanya juga cukup sakit, karna tendangan yang di lakukan gadisnya.

"Apa yang kau lakukan? Dikamarku!" Pekikan Rose memekan telinga, terlihat sekali kekesalan gadis itu, pun dengan ekspresi yang tampak meneliti dan memeriksa tubuhnya sendiri, mencoba memastikan kelengkapan pakaiannya.

"Tertidur." Wiratama kembali duduk di sisi ranjang yang sempat ia tempati.

Rose juga memastikan jika pria itu tidak merenggut mahkotanya, ya hanya itu yang Rose takutkan. Baginya kehormatan adalah harga mati, ia tak akan melepaskan harga dirinya tanpa sebuah ikatan pernikahan.

Rose menggerakan kedua kaki, mitosnya jika pertama kali melakukan hubungan intim maka pangkal paha akan terasa sakit dan Rose tidak merasakannya sama sekali.

Hembusan napas lega keluar dari mulut Rose.

Wiratama masih memperhatikan Rose, meski gadis itu baru bangun tidur kecantikannya masih paripurna. Terdengar berlebihan tapi itu nyatanya, tak ada iler atau rambut kusut macam singa yang di tampilkan Rose, Wiratama heran Rose terlihat cantik dalam segala situasi dan kondisi, apa Rose tidak lelah cantik mulu?

Semakin kesini pangeran mahkota itu kewarasannya seperti tengah berkurang.

"Sedang apa kau di kamarku?"

"Kita baru saja tertidur bersama."

"Lancang sekali kau tidur dengan nonamu!"

"Apa masalahnya Nonaku bahkan memeluk erat pinggangku." Wiratama terang terangan menginginkan Rose, tak ia tutupi lagi.

"Mau menikah denganku?"

"Dalam mimpimu saja, menjauh dariku!" Badan Rose sudah mendingan tapi Wiratama tetap pergi keluar, bukan untuk menuruti keinginan Rose tapi untuk mengambilkan Rose makanan.

Cukup lama Wiratama pergi.

Rose memengusap keningnya, terasa jelas jika di dahinya ada benda menempel dan benar saja ada benda kompresan di sana, badannya juga sudah adem padahal tadi ia merasa tak enak.

Wiratama kembali dengan sebuah nampan di tangannya, ada buah potong juga bubur di sana.

"Makan dulu."

"Aku tak lapar."

"Makan dan minum obatmu, aku tak menerima penolakan." Wiratama bahkan sudah menyendok bubur dari tempatnya.

Wiratama benar benar di lema, ayahnya hanya memberikan waktu satu bulan untuk ia kembali ke negrinya, lalu bagaimana bisa secepat itu ia meluluhkan hati Rose yang sekeras baja, rasanya banyak kemustahilan untuk itu.

"Buka mulutmu!"

"Aku tak lapar."

"Kau tinggal membuka mulut dan menelan makanannya, jangan seperti ini!" terlihat jelas kegundahan yang di tampilkan Wiratama, meski Rose bukanlah orang yang pengertian tapi dirinya cukup peka dengan keadaan.

Tadi sebelum pergi Wiratama terlihat baik baik saja, tapi setelah pria itu kembali Wiratama terlihat menggenggam beban di hidupnya.

"Ada apa dengan Tama?" Rose hanya bertanya dalam hatinya ia tak ingin terlalu ikut campur kegundahan pengawalnya.

"Hanya beberapa waktu lagi aku menjadi pengawalmu." karna setelah itu aku akan menjadi suamimu.

"Realy?" Rose terjengkit, meski kemudian raut berbinar yang ia tampilkan. Rose mengira jika Wiratama telah di pecat ayahnya karna sudah menciumnya dengan lancang. "Papa memang bisa di andalkan." Rose bersorak dalam hatinya, sebentar lagi ia akan bebas melakukan apapun sesuai keinginannya tpa pengawasan pria itu. Club adalah tempat yang paling ingin ia kunjungi setelah Wiratama pensiun.

Bukan Rose orang suci atau terjaga yang tidak pernah masuk club, hanya saja setiap kali ia memasuki tempat sejuta maksiat itu Wiratama selalu setia mengintili dirinya, jangankan untu happy happy, rasanya cara bernafas Rose saja di atur oleh pria itu.

Rose bahkan tak pernah mencicipi minuman beralkohol di tempat itu karna Wiratama sudah membawa bekal jusbuah dari rumahnya yang ia buat oleh tangannya sendiri.

Rose juga tak terima saat Wiratama menciumnya karna pria itu yang menjaganya tapi pria itu pula yang berniat merusaknya.

"Kapan kau akan berhenti berkerja?" Rose mengambil alih mangkuk bubur di tangan Wiratama, gadis itu kegirangan hingga ia menyantap buburnya sendiri. Sebentar lagi dunianya akan bebas.

"Sepertinya kau senang sekali aku berhenti menhadi pengawalmu."

"Tentu Tama, Eh bukan begitu. Maksudku umurmu sudah tua, kau sudah seharusnya menikah menjadi suami yang baik dan calon ayah yang baik. Hidupmu akan bahagia." Rose tulus mengatakan itu, pengawalnya memang sudah cukup umur untuk menikah, bukankah memiliki keluarga bahagia adalah impian semua orang?

"Tentu saja aku akan menikah bahkan kurang dari sebulan, aku akan menikahi gadis pujaanku." Ucapan Tama kaya akan maksud, tatapannya begitu mempertegas jika orang yang di maksud berada di depannya, sayangnya Rose tidak peka tentang itu.

"Ya Tuhan, benarkah? Aku turut berbahagia untukmu dan calon istrimu. Semoga kalian hidup bahagia dan di berikan bayi yang lucu lucu."

"Kau tengah berdo'a untuk dirimu sendiri Nona." gunaman itu Wiratama sebutkan dalam hatinya.

Wiratama sudah menyiapkan beberapa rencana agar Rose benar benar menjadi miliknya, tak perduli jalan yang akan ia tempuh merupakan jalan yang salah.

Ia bahkan sudah mengajukan dokumennya dan Rose kepecantatan sipil setempat agar pernikahannya sah dan bukan di bawah tangan.

Wiratama nekad, meskipun ia belum membicarakan ini dengan calon mertuanya, tapi menurutnya lebih cepat lebih baik, urusan mertunya urusan belakangan.

Rose sangat senang akan kabar pernikahan sang pengawal.

"Gadis mana yang beruntung memilikimu? Bahkan kau selalu menolak berkencan dengan teman temanku yang cantik cantik."

"Gadisku lebih cantik."

"Oke."

"Kau ingin hadiah apa dariku? Sebagai Nona yang baik aku akan memberikan kado terindah yang kau inginkan."

"Aku hanya ingin dirimu!"

"Berhenti membual calon suami orang!"

"Maksudku aku ingin kau datang di pernikahanku." sebagai pengantinku.

"Tentu aku akan datang, aku akan menjadi orang paling bahagia atas kebahagiaanmu. Oh senangnya kau akan menikah."

"Apa kau akan sesenang ini jika tau kau adalah calon pengantinku?"

.

Seminggu telah berlalu.

Dan nanti malam adalah sebuah ulang tahun pernikahan Arjuna dan istrinya yang ke 24 tahun.

Sebuah acara besar di adakan, dengan para tamu undangan yang dari kalangan menengah keatas, hamir semua yang di undang adalah rekan bisnis Arjuna juga bebera di antaranya memiliki ketertarikan kepada ke 3 putrinya.

Wiratama memasuki ruang kerja Arjuna, ia mengatakan jika dirinya sebentar lagi akan kembali ke negrinya. Ia juga mohon ijin untuk melakukan rencananya minggu depan, berpura pura secara tidak sengaja meniduri nonanya agar di nikahkan.

Awalnya Arjuna tak setuju akan cara itu tapi istrinya selalu mendesak dan membujuknya.

"Juna izinkan saja, aku yakin Wira tak akan macam macam." ujar Elis kala itu.

"Tuan. Nyona benar aku tak akan macam macam."

Di samping itu, tanpa mereka sadari Rose sudah menjalin kedekatan dengan pangeran Orion, bahkan Rose mrngira jika pangeran Orion adalah jodohnya mengingat ramalan waktu itu jika jodohnya seorang bangsawan.

"Mungkin ramalannya hanya keliru, yang mendapatkan ciuman pertamaku justru pengawalku yang sebentar lagi akan menikah."

Rose terus menatap potret Orion di layar ponselnya.

"Cukup tampan, muda dan berkarisma, dan terpenting dia seorang bangsawan."

Wiratama yang mengetahui tatapan tak biasa nonanya merebut ponsel Rose dan di saat ia menyalakan kembali ponsel itu wajah Orion terdapat di sana.

Panas.

Hati Wiratama merasa gerah dan-

Braaaakkk ...

"Beraninya kau menatap pria lain!"

Terpopuler

Comments

Rini Eni

Rini Eni

panassss tam hatimu panas ,,,q suka klo kamu kepanasan

2023-11-12

0

IR WANTO

IR WANTO

ceritanya..????

2023-11-06

0

Rika Suci Priyani

Rika Suci Priyani

kapan up lagi kk

2023-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!