"Hanya itu?" Damian berujar meremehkan, sebab tubuh pengawal Rose lebih kecil sedikit di bandingkan dirinya, meski begitu otot otot Wiratama terbentuk sempurna di balik pakaian yang ia kenakan.
"Ya, hanya itu saja. Karna tak mudah untuk mengajakku kerbencan, kecuali jika kau memiliki nyali serta ketangkasan yang sepadan. Calon priaku haruslah sangat tangguh, setidaknya secuil lebih tangguh dari pengawalku. Maka aku akan mempertimbangkan lamaranmu." Rose mengitati mejanya sendiri dan duduk di atasnya menganggurkan kursi kebesarannya.
"Jangankan hanya satu pengawal. Aku bahkan mampu menumbangkan sepuluh pengawal sekaligus, aku akhli dalam bela diri, aku bahkan juara satu dalam kejuaraan nasional." Ujar Damian dengan sombong, ia bahkan melepas jas miliknya dan menyerahkannya kepada Rose.
Rose tidak meraih pakaian pria itu, baginya ia tak memiliki keharusan untuk meraihnya, tangannya justru ia lipat di atas perut.
Jujur saja Rose mual dengan aroma tubuh Damian yang menurutnya mirip aroma aki-aki, apa mentang mentang pria itu banyak uang dan menumpahkan beberapa botol parfume ke tubuhnya.
Cukup lama Damian menyodorkan jasnya bahkan hingga bebera waktu, sampai di rasa Rose benar benar tak berminat meraih jasnya, dengan sangat terpaksa Damian melatak jasnya di atas sebuah kursi.
Hampir saja Wiratama meledakan tawanya, melihat tingkah pemuda batu bata itu, dia pikir nonanya bisa di kendalikan seseorang. Wiratama bahkan menggigit pipi bagian dalamnya saat Damian mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang pria hitam itu.
Sebenarnya kulit Damian bukan hitam gegam, lebih tepatnya warna kulit pria itu sawo matang tapi sedikit lebih gelap, tetap saja di negri ini orang tersebut di katakan berkulit gelap.
Ya Tuhan, Wiratama rasanya ingin terbahak kencang menyaksikan kekonyolan Damian yang kini menguncir rambutnya yang setengah gondrong, luar biasa rambut itu samakin menambah aura buruk rupa Damian.
Bolehkah Wiratama mengalah akan pertempuran kali ini, dan alasannya tentu saja ia ingin melihat Nonanya menyesal dan malu karna berkencan dengan seorang pria jelek. Tapi setelah di pikir pikir bagaimana jika Nonanya di apa apakan mengingat jaman sekarang orang nekad nekad, takutnya sang Nona di hamili pria jelek itu dan terpaksa harus menikahi Damian, sungguh bila itu terjadi lehernya akan menjadi taruhan dan pasti akan di penggal Arjuna.
"Kenapa kau hendak membuka pakaianmu? Aku mengajukan syarat agar kau menghajarnya, bukan malah bertelenjang seperti itu kau pikir dia akan tertarik dengan tubuhmu!" Rose mendengkus kesal saat Damian menampakan tubuhnya yang tak seberapa hanya bulu bulu kasar yang menghiasi dadanya yang berwarna gelap.
"Ini orang atau sejenis simpanse? Bulunya banyak sekali, Ya Tuhan sampai seperti ini Nonaku bertindak hanya karna ia risih kepadaku dan ingin memberikanku pelajaran." Wiratama membatin, sebenarnya jika ingin nelukainya Rosr boleh menampar atau memukul tubuh bagian manapun yang wanita itu kehendaki.
"Ck, menggelikan." Rose berpaling, membuang wajah dari pria yang menurutnya sangat aneh.
Kretek ... Kretek ...
Damian menggerakan lehernya kekiri dan kekanan.
"Jangan salah aku jika aku membuatnya menjadi cacat atau mati." Damian berujar sombong, keyakinannya sangat tinggi akan kemenangan yang akan ia raih, Damian sungguh tak tau di tempat mana Wiratama melanjutkan pendidikannya di sekolahan khusus agen terpilih dan rahasia.
Wiratama tersenyum tipis menanggapi ucapan Damian.
"Jangan bercakap besar! Jika terlalu sulit untuk mengalahkannya cukup dengan meninju dua kali wajahnya aku akan menerima ajakan makan siang denganmu." Rose berujar pelan, ia sangat tau sejauh apa kemampuan Wiratama, hanya saja ia masih berharap Wiratama kalah dan terluka, bukankah Damian seorang seorang ahli karate juga seorang atlit di masa lalunya, semoga saja.
"Aku peringatkan, kau bisa saja patah tulang saat bertarung denganku." Wiratama berkata serius, ia selalu tak memandang belas kasihan saat sudah berduel.
"Jangan sampai kau menjadi pria buruk rupa yang cacat." Wiratama irit bicara tapi sekalinya ia berkata mulutnya lebih pedas dari cabai habaonero.
"Cuih." Damian meludah kearah lantai.
"Pastikan kau membersihkan ludahmu, Nonaku sangat tak menyukai apapun yang kotor dan mungkin saja berpenyakit." Wiratama menggulung tangan kemeja miliknya.
"Akan kuhabisi kau!"
"Nona, persiapkan dirimu kau akan makan siang denganku. Hari ini aku yang akan memilih menunya. Itupun jika aku menang, tapi jika aku kalah, kau akan makan siang siang dengan dengan kerbau itu." Bisik Wiratama, entah mengapa akhir akhir ini ia semakin sering berbisik di telinya Nonanya, bahkan bibir seksinya hampir menyentuh telinga Rose, dengan hembusan nafas hangat yang terasa di kulitnya. Hal tersebut membuat Rose meremang.
"Jauhkan wajahmu dariku, aku Nonamu bukan sahabat karibmu!" ketus Rose dengan kesal.
Wiratama menjauh bukan merasa tersindir ia justru menikmati tampang kesal Rose, yang sialnya justru semakin terlihat cantik, mereka tumbuh bersama semenjak umur gadis itu sepuluh tahun membuatnya mengetahui beberapa hal kebiasaan nonanya itu.
Wiratama bahkan sedikit kesulitan mengusir lalat lalat pengganggu yang begitu menggilai Nona cantiknya. Ya Tuhan sejak kapan ia selalu memuji Nonanya setiap saat.
Damian mendekat ke arah Rose, dan tiba tiba menjawil dagu runcing Rose menggunakan jari telunjuknya, entah mengapa hal itu justru menyulut kemarahan Wiratama, kelancangan Damian sukses membuat Wiratama menggeram sekaligus mengetatkan rahangnya.
"Jauhkan tanganmu dari Nonaku!" Tatapan Wiratama menjadi sekelam malam, Rose bahkan mendengar suara germelatuk di antara gigi gigi pria itu.
"Menjauh dariku! Aku tak menyukai orang asing menyentuhku!"
"Oke, oke aku minta maaf. Ternyata benar adanya rumor yang beredar tentang seorang Nona sempurna yang tak tersentuh, kupikir tadinya itu hanya mitos belaka." satu senyuman tercetak di bibir berwarna gelap Damian, seakan mulut itu mengajak tinju dari kepalan tangan Wiratama untuk hinggap di wajah jelek itu.
Wiratama tak habis bikir kenapa Tuannya tidak memblack list pria itu agar tak selalu muncul.
"Ayo serang aku!" Damian menantang dengan kuda kuda yang sudah terpasang sempurna.
Wiratama tak menghubris tantangannya, pria itu justru melirik kearah Nonanya.
"Katakan pertarungannya harus di adakan dimana? Tak mungkin kan kau ingin mengacaukan ruanganmu sendiri?" Wiratama sangat mengerti apa saja sang tidak di sukai Nonanya.
"Di taman kantor, jika kau menang kau boleh menjemputku kemari untuk makan siang." Rose mengatakan itu kepada Damian, seoertinya ia tak berminat untuk menyaksikan pertandingan Damian dan Wiratama.
"Baik, aku akan menghubungi Ambulance lebih dulu. Aku tak yakin jika tubuh pengawalmu akan baik baik saja." Damian berkata dengan penuh percaya diri ia sangat yakin jika pertempuran kali ini akan di menangkan olehnya.
Wiratama tak menanggapi ucapan Damian, ia memilih lebih dulu menyambar air putih yang terletak di meja kerja Rose, air yang isinya tinggal separuh saja karna sisanya sudah di minum sang Nona.
"Kita akan makan siang di tempat pilihanku!"
Wiratama pergi dari sana di ikuti oleh Damian.
Damian dengan pongah memamerkan tubuh besar dan berototnya ke seluruh karyawan kantor yang ia lewati, menurut dirinya tubuhnya bagus dan mengagumkan dengan warna eksotisnya.
Cukup lama Wiratama dan Damian pergi hingga setengah jam berlalu kedua orang itu belum juga kembali.
Ceklek ...
Pintu terbuka dengan sangat lebar, Arjuna berdiri dengan berkacak pinggang di ambang pintu, tatapannya menelisik Rose.
"Rose apa yang kau perintahkan kepada Wira dan Damian? Kau mengadu dua orang pria?" dengan langkah lebar Arjuna menghampiri putrinya.
"Ck, biarkan saja." Rose berdecak malas.
"Kau itu bagaimana Rose malah mengadu dua pria."
"Aku Risih saat banyak pria mendekatiku Pa, anak Papa bukan hanya aku, Jasmine dan Vale juga sangat cantik."
"Tapi yang cukup umur untuk di nikahi baru kau Rose, lagi pula kedua adikmu sudah memiliki kekasih, berbeda dengan dirimu yang senang melakukan banyak melakukan banyak hal sendiri."
"Aku tak ingin di ributkan dengan hubungan Pa."
Inilah yang membuat Arjuna dan Elis khawatir, putri sulungnya belum pernah mau menjalin hubungan dengan seorang pria, selayaknya orang tua Arjuna dan Elis takut jika Rose mengalami penyimpangan, pasalnya kedua anak gadisnya yang lain kerap kali berganti kekasih.
Arjuna dan Elis memang tak membatasi ketiga putrinya untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, menurut keduanya asalkan dalam batas normal mereka sah sah saja berpacaran.
Disisi lain Damian dan Wiratama tengah berkelahi, di saksikan oara karyawan kantor. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang taruhan.
"Mau papa kenalkan dengan seorang teman Papa, dia sangat tampan seorang model sekaligus pengusaha." ini bukan kali pertama Arjuna menawarkan hal tersebut.
"Aku tidak tertarik, berhenti mengatur kencan untukku! Aku berkaca dari hubungan Papa dan Mama, aku tak ingin di repotkan oleh sakit hati juga kesalapahaman. Dan sejauh ini aku nyaman sendiri Pa." Rose tetap tak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Rose kau normalkan?"
Belum sempat Rose menjawab Wiratama sudah masuk menghentikan perbincangan ayah dan anak itu.
"Aku ingin makan siang di lesehan. Kita pergi sekarang."
"Tuan, maafkan aku Nona memiliki janji makan siang denganku." ucap Wiratama dengan raut tak enak.
"Dimana Damian?"
"Dia tengah menggunakan jasa Ambulance, bukankah dia sendiri yang menelponnya?"
Tama menautkan jemarinya ke jemari lentik Nonanya, dan membawa Rose pergi dari ruangannya sendiri dengan Arjuna yang masih terpaku.
"Sepertinya aku harus mendengarkan saran istriku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Elmi Varida
wkwkwkkkk...beneran tepar si Damian...😂😂😂
2025-03-26
0
Rini Eni
q pikir damian orangnya putih bersih ternyata ireng wkwkwkk
2023-11-11
0
Rubyred
hahaha.....bengongkan jadi nya papa arjuna kwkwkw
2023-10-27
0