Panas.
Hati Wiratama merasa gerah dan-
Braaaakkk ...
"Beraninya kau menatap pria lain!"
Ponsel mahal Ros berhamburan, bahkan lantai yang mejadi mendaratnya ponsel itu tergores, oleh pantulan ponsel yang di banting Wiratama, bisa di bayangkan sekuat apa ponsel itu di bantingkan.
"Ada apa? Mengapa kau membanting ponselku!" Rose tak terima saat benda miliknya di rusakkan seseorang.
"Aku marah saat kau memandang pria lain!"
"Apa masalahmu? Aku normal, aku juga berhak menjalin kedekatan, bukankah ini yang di inginkan kau dan keluargaku? Kalian ingin aku menikahkan?"
"Tidak bisa aku tak akan membiarkan itu terjadi. Apa lagi Orion bukan pria baik."
"Bagai mana bisa kau menilainya sedangkan kau belum bertemu dengannya? Oh apa kau sengaja menjauhkan para pria dariku untuk kepentinganmu sendiri?" Tuding Rose.
"Aku mengenalnya dengan sangat, dan untuk yang kedua kau tak salah sepenuhnya, aku memang menjauhkanmu dari para pria untuk kepentinganku sendiri." Wiratama tak ingin merahasiahkan lagi identitasnya di hadapan pujaan hatinya, tai apakah Rose akan percaya seandainya ia mengatakan siapa sebenarnya dirinya.
"Terserah. Ganti ponselku!" Rose keluar ruangan dengan membawa kunci mobil miliknya dan membanting pintu ia amat sangat kesal saat Wieatama bertingkah semaunya, bahkan terkesan merugikannya.
Mengganti ponsel yang ia rusak bukanlah masalah besar, masalahnya saat ini nonanya terlihat seperti marah padanya, dan jujur saja Tama sangat tak menyukai itu.
Wiratama di landa api cemburu terhadap adik seayahnya, jika dengan pangeran Gland Wiratama merasa tak tersaingi mengingat Rose tak menyukainya, tapi dengan Orion tiba tiba saja nyali Wiratama menciut, Orion tampan juga lebih muda darinya 5 tahun, bukan salah Rose jika gadis itu tertarik dengan Orion.
Wiratama segera menyusul langkah kaki Rose yang sudah memasuki lift, di saat lift itu hampir saja tertutup Wiratama menyelinapkan satu kakinya di antara pintu lift yang hampir tertutup.
Rose semakin di buat tak mengerti akan tindakan pria itu, bahkan pria itu turut memasuki lift yang sama dengannya.
"Kau mau kemana?" tergambar jelas di wajah kaku Wiratama jika dirinya keberatan saat Rose berniat pergi meninggalkannya.
"Menemui calon kekasihku." Rose seakan menantang Wiratama, dan tanpa di sadari pria gadis itu ucapannya berhasil mengundang amarah dan memicu emosinya.
"Siapa yang kau katakan calon kekasih? Orion? Sang pangeran cassanova yang gemar mencicipi banyak wanita dari berbagai negara."
"Kau hendak menggadaikan kehormatanmu pada pria sepertinya? Rasanya jika di bandingkan Gland dari pada Orion akan sedikit lebih baik Gland."
Wiratama melangkahkan kakinya mendekat kepada Rose, sampai tubuh mereka bersentuhan, bahkan hidung mereka nyaris bertemu.
"Sepertinya kau sangat mengenal sang pangeran." Sunggingan senyuman sinis terlihat di bibir Rose.
"Aku sangat mengenalnya, lebih baik dari siapapun. Baginya wanita adalah mainan dan unyuk sekedar bersenang senang."
"Apa selain pengawal pekerjaanmu yang lain juga seorang detektif?"
"Aku bisa mengerjakan apapun! Termasuk memilikimu!" Wiratama memojokan tubuh Rose kedinding lift hingga gadis itu kesulitan bernafas.
"Menjauh dariku!"
"Lakukan jika kau bisa."
Tangan kekarnya justru merengkuh pinggan Rose sehingga semakin merapat ketubuhnya.
"Apa ini kelakuan seorang pria terhormat yang akan menikah? Memperlakukan gadis lain dengan tak sopan!"
Hembusan nafas Rose terasa hangat menerpa wajah Wiratama, sampai ia dapat mencium aroma mint dari setiap hembusan nafas dari mulut Rose.
"Apa salahnya? Jika gadis yang kuperlakukan tak sopan adalah calon pengantinku sendiri?" Bibir Wiratama bergerak sensual tepat di atas bibir Rose, bahkan bibirnya nyaris besentuhan dengan sang pujaan hatinya.
Rose tak terima saat Wiratama mengatakan jika ia adalah calon pengantin pria itu.
"Apa apaan kau! Aku tak ingin nenikah denganmu!"
"Meski aku seorang pangeran mahkota?"
"Haha ..." Rose tertawa mengejek, "Apa aku semengajumkan itu hingga membuatmu tergila gila? Kau bahkan membahas pangeran hanya karna tak ingin kalah saing dengan pangeran Gland dan pangeran Orion. Lucu sekali kau." Rose mengira jika pria di hadapannya tengah bergurau.
"Aku memang seorang pangeran. Gland dan Orion adalah adikku! Aku sama sekali tidak bercanda, apa kau pernah melihatku melucu?" Ucapan datar Wiratama menghentikan kekehan gadis itu.
"Terserah kau saja, kau bahkan berhak bermimpi untuk menjadi seorang raja." Rose tak salah mengatakan itu, tapi Wiratama sedikit terusik akan perkataan gadisnya.
Sedangkan Rose sama sekali tidak menganggap serius ucapan pengawalnya, pangeran kah, atau diapapun Wiratama tetap saja Rose tidak memiliki perasaan yang lebih terhadap pria di hadapannya.
Rasanya menggelikan jika ia menjalin hubungan lebih dari seorang pengawal dan nonanya.
"Aku tidak sedang bermimpi Rose! Apakah aku harus menanamkan benihku lebih dulu agar kau mau menoleh ke arahku? Pertimbangkan aku sebagai seorang pria!"
Rose selalu bisa menjungkir balikan keadaan gadis utu selalu membuat Wiratama berada di atas garis normal.
Wiratama kini meraih tengkuk nonanya dan kembali membenamkan sebuah ciuman di bibir nonanya.
Baru saja satu pagutan terjadi,
Ting ...
Pintu lift terbuka, hal itu membuat Wiratama segera melepas ciumannya.
"Dasar tidak waras!"
Plak ...
Tamparan keras yang tak main main mendarat di pipi Wiratama hingga pria itu menoleh seketika, panasnya tamparan membuat Wiratama menggigit pelan pipi bagian dalamnya.
"Sekali lagi kau menciumku kau akan kehilangan masa depanmu!"
Meski Rose tampak galak Wiratama tetap merasa lucu sendiri akan tingkahnya sendiri, sehingga yang bisa ia lakukan hanya mengulum senyumannya.
Rose meninggalkan Wiratama, ia memiliki janji makan siang dengan Orion.
Orion sendiri tidak mengetahui jika Rose adalah satu satunya gadis yang di sukai kakak sulungnya, jika saja Orion tau ia tak akan melkukan hal senekad sekarang.
Orion memang sudah dua kali bertemu dengan Rose, tapi sejauh ini Rose tak bisa ia bawa menaiki ranjangnya, padahal sejauh ini setiap gadis yang ia inginkan selalu ia dapatkan.
Hanya Rose saja yang terlihat mahal, selama pertemuannya dengan Rose bahkan Orion tak sempat menciumnya, jangankan mencium, Orion bahkan kesulitan mengecup gadis itu. Ada tembok penghalang yang menjulang yang belum bisa Orion hancurkan.
"Kau akan kumiliki!" Seulas senyuman misterius Orion sunggingkan, jiwa cassanovanya selalu mencuat saat di hadapkan dengan seorang gadis cantik.
"Rose, jika kau berhasil kumiliki hari ini, aku akan menikahimu, akan kujadikan kau istri pertama untukku tapi aku tak berjanji jika kau menjadi yang terakhir. Tapi tenang saja aku akan memperlakukanmu dengan sangat istimewa." Orion bergunam sendiri di sebuah ruangan yang ia pesan khusus.
Orion tengah menunggu kedatangan Rose di salah satu ruangan vip di sebuah restoran.
"Dasar penguntit." Rose berdecak sebal saat mobil Wiratama mengikuti kemana mobilnya pergi.
"Papa itu bagaimana? Dia ingin segera aku menikah tapi mengapa bisa dia mengirim Wiratama untuk mengawasi aku setiap saat. Bahkan menjadi pria cabul. Dia menciumku sebanyak dua kali."
Setelah sampai di tempat tujuan, Rose langsung turun dan menghampiri mobil Wiratama.
"Jangan ikuti aku lagi! Cukup sampai di sini kau membuatku jengkel."
Wiratama tak perduli dengan kekesalan gadisnya, ia tetap mengikuti langkah Rose dan berdiri di depan ruangan gadisnya.
"Jika kau tak keluar dalam 30 menit, aku akan masuk dan merontokan gigi pria itu." Wiratama melihat sekilas dari pinru yang di buka oleh Rose, meski ia tak dapat melihat wajah pria itu tapi ia yakin jika pria itu adalah Orion.
"Badannya sama besar denganmu, kita lihat siapa yang akan menjadi pemuda ompong setelah ini." rose menutup pintu dengan kasar bahkan Orion terkejut di buatnya.
Blaammmpp.
Pangeran Orion menoleh, seulas senyum manis ia terbitkan untuk menyambut wanita cantik itu.
Pangeran Orion sudah merencanakan kelicikan yang luar biasa merendahkan, Orion tak tau jika di luar sudah ada bodyguard sang gadis cantik di hadapannya.
"Kau sudah datang?"
"Menurutmu?"
Justru keangkuhan itu yang membuat setiap pria penasaran.
"Sudah 7 menit 20 detik dia di dalam. Jika 10 menit lagi dia tidak keluar, aku akan benar benar mencopotkan dua gigi depannya." Wiratama menghitung, tapi ia mengorupsi waktu 30 menitnya, ia hanya takut gadisnya tersentuh sekalipun oleh adiknya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Yuyun Yunita
🤣🤣tama ini bujang cukup umur yg jdny kl lg bucin sprt org yg lg hari pertama PMS🤣🤣🤣
2023-10-18
0
💝F&N💝
kak, kpn up lg?
seingat ku kakak up tgl 15. besok sudah tgl 18. bagaimana ini, kak. apa mau meninggalkan kami para reader begitu saja? tanpa menyelesaikan cerita ini.
2023-10-17
2
💝F&N💝
kak, sekarang dah tgl 17. trus up terakhir tgl 15. kakak kapan up lg. kami dah menunggu loooooo🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2023-10-17
1