"Tamaaa!"
"Yes, Nona."
Ya Tuhan ingin rasanya Rose menyumpal mulut Wiratama dengan pembalut bekas pakai miliknya, pria menyebalkan itu kini tengah mengulum senyum seakan tampang kesal Rose merupan hal menyenangkan.
"Selain, bisu dan tuli apa kau juga menderita penyakit mental? Sialan! Bisa bisanya kau tidak menyangkal tuduhan kedua orang tuaku."
"Kata ayahku jika tuduhan seseorang tak merugikanku aku hanya perlu diam." Wiratama menyahutt datar, tak ia pungkiri ia juga mulai terpengaruh akan gadis itu yang tumbuh dengan sangat baik, cantik dan menggairahkan. Ck, menggairahkan Tuhan rasanya Tama sudah terlalu lama membujang dan menikmati prannya sebagai pengawal, ia bahkan lupa bersenang senang senang dengan wanita.
Rose menghentakan kakinya kemudian meninggalkan kedua orang tuanya juga Tama yang tidak segera pergi dari kamarnya, Rose sangat kesal sehingga ia tak ingin melihat ketiga orang itu.
Rose menuruni anak tangga dengan mulut komat kamit layaknya seseorang membaca mantra, hormon Pms menjadi pemicu amarahnya yang tak terkendali. "Dasar bujangan lapuk, kaum bengkok, si bisu, tak tau diri!" makian itu Rose tunjukan tanpa henti kepada Wiratama.
Selepas kepergian Rose, Wiratama bukannya pergi pria itu justru menuju lemari Rose dan mengambil seprai gadis itu, ia menggantinya dengan warna abu abu muda, meski Rose seorang gadis anggun jika di hadapan orang luar tapi ia lebih menyukai warna warna gentel.
Wiratama dengan cekatan mengganti seprai nona mudanya yang terkena noda darah, baik Arjuna juga Elis tak lepas memperhatikan pria dewasa itu. Pantas saja Rose menyebutnya bisu pria itu kerap kali tak berbicara jika tidak di tanya.
"Di banding seorang pengawal kau justru lebih layak di katakan sebagai seorang suami." sindir Arjuna, sedangkan Wiratama tak menanggapi ucapan Tuannya, sesuai apa yang ia katakan tadi, ketika seseirang mengatakan apapun dan tak berdampak merugikan maka biarkan saja itulah prinsifnya.
"Kenapa kau diam saja akan tuduhan tuduhan suamiku? Atau jangan jangan kau memberi kode ingin menjadi menantu kami?" Elis bersorak girang. Jujur saja Elis sangat berharap jika Wiratama jadi menantunya, mempunyai menantu seorang pangeran mahkota, Ya Tuhan siapa yang lancang menolak itu.
Arjuna meringis malu mendapati ucapan istrinya yang blak blakan.
"Saya rasa Tuan Juna bukan menuduh saya melainkan menyindir." Juna kini tengah sarung memasang bantal Nona muda arogantnya, jika saja tidak ada kedua orang tua Rose, ingin rasanya Wiratama membawa sarung bantai bekas pakai itu kearah hidungnya untuk ia hirup aromanya, Rose memang memiliki wangi yang menggairahkan. Astaga lagi lagi kata menggairahkan muncul di benar Wiratama, apa ia sudah ingin kawin?
Sepertinya Wiratama harus mengatur kencan secepatnya.
"Wira menurutmu apa Rose cantik?"
"Ya."
Sesederhana itu jawabannya,
"Apa kau menyukainya?"
"Ya,"
"Kau sungguh sungguh menyukainya? Apa kau ingin menikahi putriku?"
Ingin rasanya Arjuna menjahit rapat bibir istrinya, Arjuna bahkan bertanya tanya apa ratu hidupnya itu semakin cerewet karna bertambahnya usia, ataukah semua wanita juga seperti itu.
"Aku juga menyukai Hely?"
"Siapa Hely?" Elis sedikit terkejut, jangan jangan ia sudah kalah star dengan orang lain, mengingat tampang Wiratama memang sangatlah tampan meskipun di nalik seragam hitam hitam yang selalu ia kenakan, tapi siapa gadis yang bernama Hely itu? Padahal sepengetahuannya Wiratama belum pernah berkencan dengan seorang gadis karna setiap hari pria itu selalu di repotkan oleh ketiga putrinya.
"Tentu saja anak anjing." jawab Wiratama datar.
"Sial, putriku di setarakan dengan anak Anjing, dasar calon mantu durhaka" rutuk Elis dalam hati, karna ia tak berani merutuk Wiratama dj depannya langsung.
"Kau menyamakan putriku dengan seekor anak anjing?" kali ini Arjuna yang bertanya dengan raut wajah terusik.
"Tentu saja tidak Tuan." ralat Tama, "Nona Rose sangat seksi, ma-maksudku Nona sangat cantik dan memesona. Sedangkan aku menyukai anak anjing karna menggemaskan, sama sama suka tapi beda arti." Wiratama berpaling.
Semoga saja Arjuna tidak menyadari kata Seksi yang tercetus begitu saja dari mulutnya.
"Mulai hari ini kau tak usah mengawal Mine dan Vale, aku sudah menyiapkan dua orang untuk menjaga mereka. Kau fokuslah menjaga Rose, akhir akhir ini Rose tengah bertingkah. Aku juga khawatir terhadapnya, kau tau sendiri sudah berapa puluh lamaran pria yang di tolak olehnya, aku hanya sedikit khawatir terhadapnya." Arjuna mengemukakan kekawatirannya terhadap putri sulungnya, apa lagi gadisnya itu sangat pandai bermain bisnis.
"Baik Tuan." Wiratama tak bisa menjaga jarak lagi mulai sekarang, ia akan mengikuti kemana nona Arogantnya pergi, tanpa terbagi bagi dengan pengawalan Jasmine maupun Valery.
"Ya Tuhan, kuatkanlah imanku!" rintih Wiratama dalam hati, ia mempersiapkan diri dengan makian makian Rose selanjutnya.
Aroma Rose tercium oleh indra penciuman Tama yang memiliki indra penciuman cukup tajam, aroma wangi yang memabukan itu selalu tercium dalam jarak beberapa meter dari tempatnya berada, ia yakin jika Rose akan segera tiba di sana.
Entah parfume apa yang di gunakan Rose sehingga gadis itu memiliki aroma yang begitu menyenangkan.
"Kalian belum juga keluar? Apa kalian sekarang jadi hobi bergosip?" Rose muncul dari ambang pintu.
Wiratama kini menggulung seprai bekas pakai nonanya, kemudian melangkah mendekat ke arah Rose yang masih mematung di ambang pintu.
"Kau harus memberiku upah atas pekerjaan ini." Wiratama keluar begitu saja setelah berbisik tepat di samping Rose.
"Dasar pamrih!"
.
Wiratama menuruti apa kata Tuannya, ya itu mengawal Rose bahkan hingga ke depan pintu toilet sekalipun.
Menurut Tuannya ada seorang psycho yang begitu menggilai Rose, hingga pemuda itu melamar Rose selama 16 kali dan lamaran itu kembali di tolak gadis cantik yang berumur 23 tahun itu. Selain cantik dan seksi memang Rose memiliki daya tarik tersendiri, sehingga kaum Adam manapun akan dengan sukarela memberikan apa yang yang ia miliki untuk gadis itu.
Tidak hanya itu, saingan bisnis Arjuna sangat bejibun sehingga sangat wajar jika nereka hendak memanfaatkan Rose selaku anak Arjuna yang begitu psndai dalam berbisnis.
"Berhenti mengikutiku! Aku hanya mau ketoilet!" Rose kesal karnya Wiratama selalu membuntuti langkahnya kemanapun ia pergi.
"Kenapa kau selalu mengikutiku sih? Aku Risi Tama!" Ketus Rose, pria itu berada di dekatnya hampir 24 jam mengawasi gerak geriknya.
"Salahkan dirimu yang terlalu memesona Nona, sehingga Tuan sangat takut keselamatanmu tergores." jawab Tama dalam hati.
"Hem," Tama berdehem kaku.
"Sudah tugas saya Nona." jawabnya datar.
Karna kesal Rose kembali ke kursi kerjanya, ia tak jadi ketoilet, keinginan buang air kecil menguar begitu saja.
"Tok ... Tok ...
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk." Rose memerintahkan orang tersebut untuk masuk.
Di balik pintu munculah seorang pria bersetelan jas rapi berwarna hitam, dengan sebuket bunya lily putih di tangannya.
Rose mendengkus tak selera, gadis itu belum tertarik untuk menjalani hubungan ataupun berkencan, ia tengah fokus berkarier terlebih dahulu.
Rose juga tak ingin repot repit menjalin hubungan yang unjung unjungnya membuat repot dan menyita waktunya yang berharga.
Pria itu bernama Damian seorang pengusaha yang bergerak di pertambangan, perawakannya tinggi besar dengan hobi berkarate, ia bahkan seorang penyandang sabuk hitam.
"Bunga yang cantik untuk seseorang yang spesial." Pria itu menyodorkan sebuket bunga di hadapan Rose, Rose yang sudah bosan menolak ajakan kencan juga pemberian pria itu akhirnya lebih memilih menerima bunga itu untuk pertama kalinya dari Damian.
"Terima kasih!"
"Ck, kulitnya seperti batu bara. Apa dia juga turut menambang. Ya Tuhan wajahnya berminyak dan sepertinya banyak dakinya, tak lebih baik dari ketiakku ku rasa." Wiratama mengkritik penampilan Damian, sebenarnya ia kesal entah karna apa, mungkin karna Nonanya menerima pembarian pria buruk rupa itu.
Wiratama bukanlah seorang pembuli tapi entah mengapa ia ingin mengolok olok Damian sekarang.
"Mau makan siang denganku?" Damian bertanya penuh harap.
Bibir Wiratama berkedut tipis, jangankan si buruk rupa itu, Rose bahkan menolak ajakan makan malam oppa oppa korea yang merupakan personil boy band, entah pria seperti apa yang di cari nonanya.
"Boleh." Rose melirik kearah Wiratama dengan ujung ekornya, sebersit ide muncul di benaknya.
Wiratama hampir tersedak karna Nona mengiyakan ajakan pria bertampang sangar itu. Dasar gadis rabun!
"Boleh? Benarkah?"
"Ya, asal dengan satu syarat." Rose mengacungkan jari telunjuknya.
"Katakan saja syaratnya Nona cantik." ucap Damian penuh antusias.
"Buat pria itu terkapar di lantai, maka aku akan menerima ajakanmu." Rose menunjuk Wiratama yang sedari tadi berdiri de depannya.
"Sial. Itu sama saja kau menolak ajakannya Nona, atau kau ingin menguji ketangguhan pelindungmu?"
Satu alis Wirata menukik dengan smirk yang tercetak di bibirnya, senyuman yang luar biasa menyebalkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Elmi Varida
aduh...benjol dech si Damian😂😂
2025-03-26
0
Yuyun Yunita
qo update knp tdk ada noktif y di hp qu... tp untung aja aq intip
2023-10-02
1
🌷💚SITI.R💚🌷
kamu menguji tama ros..hati² tr jatuh cinta beneran
2023-09-26
1