"Kau tak cukup oke untuk kubanggakan." Rose mengedikkan bahu tak acuh.
Nyes, Rose pintar sekali menjungkir balikan keadaan, dari menerbangkannya hingga menghempaskan orang itu hingga ke dasar.
"Aku tampan."
"Tak ada yang mengataimu jelek." telak Rose.
"Lalu kenapa kau tak mau menikah denganku?"
"Banyak pertimbangan, Tama. Dan sejauh ini aku belum terkesan olehmu."
"Aku tak bisa menjawab jujur, aku tak ingin kau tersinggung kembali." sambung Rose kembali.
Keduanya hening, sesuai perintah Nonanya, Wiratama menepikan mobilnya di sebuah pom bensin, ia bahkan akan mengekori langkah nonanya hingga ke depan pintu toilet.
"Kenakan dulu jaketku, aku tak ingin kulitmu berubah seperti si Damian."
Rose mengenakan jaket yang Tama berikan, jaket itu tampak kebesaran di tubuh Rose, padahal gadis itu memiliki tubuh ideal dengan beberapa bagian terlihat menonjol dan tampak menggemaskan di mata Wiratama entah sejak kapan.
Saat mereka memasuki Restoran Wiratama sengaja menyamai langkah Rose dan mengaitkan jemari tangannya di jemari tangan sang Nona. Wiratama risih saat hampir semua pria menatap Nonanya penuh minat dengan tatapan brengsek yang di buat senyata mungkin.
Ingin rasanya Wiratama melayangkan tinjunya pada beberapa pria.
"Kau!" Rose mendelik saat Wiratama menggenggam tangannya.
"Jangan menolakku, aku risih melihat tatapan para buaya itu." Geram Wiratama diantara giginya yang terkatup.
"Lalu jika kau menggandeng tanganku mereka mendadak memejamkan matanya?" sewot Rose, bahkan wanita itu hendak menepis tangan Wiratama, beruntung Wiratama segera mengaikan jemarinya lebih erat lagi.
"Saat aku sudah menginginkan sesuatu kau tak akan bisa menolaknya, termasuk menghindariku." ucapan Wiratama terdengar tegas dan penuh penekanan.
"Aku tak suka dipaksa!"
"Jika seperti itu menurutlah kepadaku!"
"Kau pikir siapa kau? Sehingga aku harus menurut kepadamu." Mereka terus berjalan menuju kesalah satu ruangan yang di pesan oleh pria itu.
"Hanya kau yang meragukan pesonaku."
"Dan hanya wanita bodoh yang menginginkan dirimu."
"Suatu saat kau akan menjadi bagian dari dari komplotan wanita bodoh itu." Wiratama tersenyum sumir.
"Ck, sudah ku katakan kau tak cukup menawan."
"Lalu kau lebih tertarik kepada Damian yang memiliki kulit seperti oli bekas? Kau ingin mencemari keturunan Tuanku?"
"Aku tak menyukainya, aku hanya kesal padamu yang memberikan aturan aturan tak jelas." Rose menepis tangan Tama saat sudah tiba di ruangan yang sudah di pesan pria itu.
"Semua yang kulakukan demi kebaikanmu Nona."
"Termasuk kau menungguku di toilet pom, aku bahkan merasa seperti seorang balita yang terus di awasi." Rose mencebikan bibirnya kesal, ia ingin sekali saja bebas dari pengawasan pria itu.
"Suatu saat kau akan merindukan peraturanku Nona." gunam Wiratama nyaris tak terdengar.
Aha, Rose memiliki ide, mungkin dengan Rose memperkenalkan seorang wanita cantik kepada Tama pria itu akan sedikit teralihkan perhatiannya. Ya Tama hanya belum pernah berkencan karna mengurusi Rose dan kedua adiknya selama itu.
Untuk itu Rose memiliki ide brilan untuk mengatur kencan dengan pria itu, pertama tama yang harus di lakukan Rose adalah menanyakan type wanita pria itu, jangab sampai Rose salah mengatur kencan pengawalnya.
"Katakan type wanitamu seperti apa, kau tau aku memiliki banyak teman yang cantik cantik, barang kali ada yang membuatmu tertarik." itupun jika kau benar benar Normal. Rose mengucapkan sebagian kalimatnya di dalam hati.
"Srperti dirimu." ucap Tama tanpa sadar. Hingga pria itu gugup dan salah tingkah.
"Ck, semakin lama kau menjadi perayu ulung. Kau tak akan mendapati yang seperti aku pada orang lain Tama." Dengan santai Rose berujar, ia tak risih sama sekali dengan pernyataan Wiratama yang ia anggap hanya basa basi supaya ia terlihat kesal kembali.
"Jika tak ada yang seperdi dirimu, mengapa tidak kau saja yang menjadi teman kencanku." ungkapan itu hanya tertahan di ujung lidah Wiratama, ia cukup tau diri dengan keadaannya yang merupakan srorang pengawal.
Setelah beberapa waktu menunggu pesanan makananpun datang, mereka makan dalam keheningan tanpa ada perdebatan.
"Hari ini aku akan pulang ke rumahku, setelah mengantarmu." ucap Tama setelah menyelesaikan makanannya.
"Kau tak menginap lagi di rumahku?"
"Jadwalku pulang."
Setiap malam minggu memang Wiratama pulang ke rumah yang di sediakan Arjuna untuknya.
"Oh."
Ya Tuhan, sebenarnya Wiratama ingin meluluh lantahkan gadis itu, ia benar benar di buat penasaran oleh keangkuhan dan kearoganan Nonanya.
Ponsel Rose berbunyi menampilkan nama Sky di ponselnya, seorang pemuda yang merupakan dosen di kampus tempat Rose mendapatkan gelar sarjananya.
"Hallo." Rose sengaja menekan tombol speaker hanya karna ia terlalu malas memegang ponsel di telinganya yang kebetulan ia tak membawa headset.
"Em, Rose nanti malam kau ada acara?" tanya dosen muda bernama Sky, pria itu memang menunjukan ketertarikannya kepada Rose sejak jaman kuliah dulu.
"Memangnya ada apa?"
"Rose sibuk. Tidak dapat keluar, tak usah kau menghubunginya lagi atau kupatahkan lehermu!" Wiratama mengambil ponsel nonanya kemudian mematikannya secara sepihak.
"Ngomong ngomong soal patah, bagai mana jika Damian memenjarakanmu, astaga dia pria kaya kau bahkan mungkin di penjara 15 tahun karna mematahkan tulangnya." Rose berpura pura panik hanya agar Wiratama terpengaruh.
Lagi lagi Rose berdecak karna Wiratama tak merubah mimik wajahnya sama sekali.
"Kau pikir aku tak mempelajari hukum hukum, jangankan hanya patah tulang tangan, patah leherpun di sahkan dalam pertarungan." Ucap Wiratama datar sembari melipat tangan di perutnya.
"Ck."
Selepas makan siang Rose minta langsung di antarkan pulang. Ia sedang mengalami mood buruk sehingga hanya ingin rebahan di kamarnya saja.
.
"Kakak." seorang wanita cantik menyambut kepulangan Wiratama, wanita itu memili alis yang tajam dengan bulu mana yang begitu lentik.
"Kau sudah lama menungguku?" Wiratama mememuk dan mengusap serta melabuhkan satu kecupan di kepala adiknya.
"Baru beberapa menit. Tak masalah demi menunggu kakak tampanku aku rela kekelahan." ucap gadis itu dalam bahasanya.
"Dimana para pengawal?"
"Ada, mereka tersembunyi. Aku bukan dirimu yang gemar melarikan diri." ucap gadis itu.
Gadis itu bernama Elenor, umurnya sudah memasuki angka 27 tahun, ia juga merupakan seorang putri dari negri Zurham, meskipun ia lahir dari seorang selir sang raja tapi Tama menyayangi gadis itu, yang merupakan adik seayahnya.
"Kapan kau akan kembali kak? Ayah menantikan kepulanganmu, kau sudah melampaui batas waktu kak, bukankan kau akan kembali saat usiamu 30 tahun, dan sekarang usiamu sudah 32 kak. Apa tak cukup waktu 14 tahun yang raja berikan kepadamu?" gadis itu menatap kakaknya.
"Negri kita membutuhkan seorang pangeran mahkota, kak."
"Masih ada pangeran pangeran lain, Ele."
Elenor memutar natanya malas, meski di negri mereka memiliki lebih dari tiga pangeran tapi tetap saja yang di sanjung dan di agungkan adal seorang pangeran yang sesungguhnya, seorang putra mahkota yang merupakan anak kandung raja dan ratu satu satunya.
"Pernikahanmu sudah Ayah siapkan Kak."
"Jika aku menginginkan gadis lain untuk kunikahi bagai mana?"
Wiratama membawa adiknya untuk memasuki rumahnya.
"Kau boleh menikahi gadis manapun kak, calon Raja berhak memiliki banyak selir, bukankah ayah juga melakukan hal yang sama?"
"Masalahnya gadis yang kuinginkan bukan dari kalangan biasa, bisa bisa aku mati di tangannya jika memiliki atau menjadikannya seorang selir." Wiratama memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Astaga ... Astaga, memangnya gadis yang kau inginkan seperti apa kak?"
"Seperti-"
"Tamaaa!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
💖 NAMA Q CINTA 💖
nah2 si mulut dodolan teko hhhhh mati kamu wira,"hihi...
2023-09-27
0
Erni Handayani
Belom jadi pacar apalagi suami posesif ny tama luar biasa bikin melehoy
Rose jadi selir mana mungkin yg ada tama jadi kacung ny krn bucin🤣🤣🤣
Heran kenapa klo UP di aku gak muncul ya.. Hrs balik ke beranda dulu nyari judul ny😔
2023-09-27
1
Rika Suci Priyani
lanjutt thor
2023-09-27
0