"Apa alasanmu menggantikan kakakmu untuk makan malam denganku?" Pangeran Gland bertanya kepada Jasmine yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Ck, dia selalu seperti itu Gland, menumbalkan aku maupun Valery adikku di saat ada seseorang yang mengajaknya keluar, padahal dia tau jika aku dan adikku sudah memiliki kekasih. Hanya kak Rose saja yang masih jomblo, itu sebabnya Papa dan Mamaku mengatur banyak kencan untuk kakakku." Jasmine kembali mengirimkan pesan kepada kekasih sungguhannya dengan emot love love.
"Menarik," gunam Gland.
Rose menuruni anak tangga dengan senandung kecil, suasana hatinya sedikit lebih baik setelah ia melampiaskan amarahnya pada samsak serta pada kedua penjaga rumah, ia kini mengenakan pakaian berupa piyama berlengan dan celana pendek.
"Kak dapat salam dari pak Sky." teriak Jasmine pada kakanya.
"Hmm,"
Rose bergunam malas, ia segera keruang makan untuk mengisi energinya yang sebagian besar terkuras habis.
"Siapa Sky?" Entahlah Glandpun mulai tertarik akan pesona si sulung Barata itu, benar rumor yang beredar, gadis itu sangat angkuh juga mahal.
"Dosen killer di kampusku. Sudah dari empat tahun lalu dosen itu mengejar kakakku, namun sejenakpun kakakku tak berniat menoleh kearahnya." Jasmine mengedikan bahu.
"Apa dia tampan?"
"Ya, dia juga merupakan seseorang yang kaya raya."
"Lalu mengapa kakakmu tak mau dengannya?"
"Bukan hanya Pak Sky saja yang tampan dan di tolak kakakku, di luaran sana masih banyak lagi pria yang di tolaknya. Kau salah satunya." Ucap Jasmine acuh.
"Aku?" Gland dengan bodoh menunjuk dirinya sendiri, selama 30 tahun ia hidup tak ada wanita yang berani menolaknya, sekalipun wanita itu seorang putri. Tapi mengapa bisa Rose menolaknya meskipun mereka belum pernah bertemu. Ya Tuhan gadis bernama Rose itu terlihat biasa saja saat bertemu dengannya, gadis itu mengabaikan pesonanya, itulah yang ia lihat.
Jasmine beranjak untuk menyusul kakaknya.
Gland tak ingin kehilangan kesempatan, ia segera menyusul langkah kaki wanita yang menyamar menjadi teman kencannya.
Rose menggerai rambutnya yang setengah basah, sepertinya gadis itu baru selesai keramas.
"Kakak." Jasmine memanggil kakaknya dengan suara manja yang di buat buat, ia menginginkan makanan yang tengah di makan kakaknya.
"Ada apa?"
"Mau makan. Aku masih lapar." Jasmine mendudukan tubuhnya di sebelah kakaknya dengan mulut yang terbuka, menyambut suapan kakaknya.
"Apa pria yang berkencan denganmu sangat miskin? Sehingga kau kelaparan!" sindiran Rose mengenai sudut hati pangeran Gland, sampai pria itu meringis ngilu.
"Aku bukan pria miskin Nona! Adikmu yang sok jaim mengabaikanku, ternyata dia hanya duplikat yang kau tumbalkan." Gland dengan santai melipat tangan di depan perut. Mencoba mengintimidasi gadis yang ayahnya lamarkan untuknya.
Sayangnya bukan Rose namanya jika ia tak segera membalik keadaan. Rupanya pria itu sudah tau jika ia adalah Rose, gadis yang seharunya makan malam dengannya.
"Sudah menjadi hakku untuk menerima ataupun menolak pria yang tidak kuhendaki." Rose kembali menyuapkan makanan kemulut adiknya.
Dari sini justru membuat Gland semakin tertarik, kearoganan yang di perlihatkan gadis itu ternyata hanya sedikit keunikannya, Rose sangat penyayang, Rose bahkan mengusap lembut sudut bibir adiknya.
"Pelan pelan makannya, tak ada yang akan meminta makananmu." Rose berujar pelan di iringi senyuman lembut. Sangat cantik, hal itu menggetarkan sebongkah hati beku pangeran Gland.
"Dengan berbohong dan menyuruh adikmu?untuk mewakili dirimu padahal adikmu sudah memiliki kekasih."
Rose tau jika Jasmine yang menceritakan hal itu kepada Gland.
"Mine, kau masih saja polos menceritakan tentang dirimu kepada orang asing." Rose menatap adiknya dengan tatapan tak terbaca.
"Maafkan Mine kakak, kakak tau Mine sulit berbohong." Aku Jasmine jujur.
"Batasi orang lain tentang hal pribadi dirimu. Selain keluargamu tak ada orang yang benar benar perduli terhadapmu, kecuali kau menguntungkan untuk mereka." Gland dapat melihat kekhawatiran di mata Rose.
"Maaf." lirih Jasmine.
"Ayo lanjutkan makanmu." Rose kembali menyuapi adiknya hingga makanan di piringnya hingga tandas.
"Anak pintar." Rise menepuk puncak kepala adiknya.
"Apa alasanmu menolak makan malam denganku?" Gland tak menyerah, Rose terlihat tak memperdulikannya.
"Bukan kewajibanku untuk membuatku terkesan bukan? Aku hanya tak ingin menyinggung ayahmu maupun Omku dengan penolakanku secara langsung, mereka yang membawa lamaran. Aku juga memberikanmu kesempatan untuk mengenal adik polosku yang baik hati." Rose mengusap rambut adiknya dengan sayang.
"Kakak, kau berlebihan." Mine tersipu dan memeluk kakaknya, sayangnya ia tak menyukau Gland yang menurut Jasmine terlalu kaku dan dewasa, ia masih menyukai kekasihnya yang ramah dan penuh perhatian.
"Itu bukan alasan. Kau tetap memiliki satu hutang untuk bersamaku! Kau menjanjikan pertemuan denganku."
"Aku tidak berjanji dengan-"
"Kakak, hiks ..."
Valery berlari kearah kakaknya dan langsung memeluk tubuh Rose dengan erat, di susul oleh kekasihnya, gadis 19 tahun itu menangis.
Dante berdiri di antara Valery yang tengah memeluk kakaknya.
"Kakak, Dante. Dia-"
"Aku sudah menjelaskannya Vale, aku tak memiliki hubungan apapun lagi dengannya!" pria bernama Dante itu tak sengaja meninggikan suaranya, hingga membuat Valery semakin ketakutan dan memeluk kakaknya dengan erat.
Prank ...
Rose meraih gelas di dekatnya, menghantukkan gelas itu ke atas meja hingga pecah dan menciptakan runcingan yang tajam, dengan sebelah tangannya Rose menempelkan pecahan gelas itu ke bawah dagu pemuda bernama Dante.
"Rendahkan nada bicaramu saat bersama adikku. Sialan!" desisan itu terdengar mengerikan, dengan pecahan kaca yang mulai sedikit menggores serta melukai leher pemuda itu.
Dante gelagapan, ia takut akan ancaman dari kakak kekasihnya. Ia juga tak sengaja menaikan suaranya di depan saudari kekasihnya.
Rose melepas pelukan adiknya, dan menatap pemuda yang kini terlihat kaku karna terkesiap oleh tindakannya.
"Aku tak melarangmu untuk menjalin hubungan dengan adikku, tapi jika kau berani membuatnya menangis aku adalah orang pertama yang akan melukaimu! Bukan hal sulit untukku melenyapkan seseorang. Kau pikir siapa dirimu? Berani membentak adikku?" Rose terlihat marah kepada pemuda itu yang hanya tercenung sekaku kayu.
"Seujung kuku saja kau berani menyakiti adikku, kupanggilkan malaikat maut untuk menjemputmu. Bukankah aku sudah berulang kali memperingatkan kau dan kekasih Jasmine, untuk tidak macam macam kepada adikku?" Rose tersenyum sumir, hal itu terlihat sangat mengerikan di mata Dante, justru terlihat keren dimata Gland.
"Ma-maaf kak. Aku tak sengaja membentak Valery." pemuda seumuran Valery itu menunduk takut takut, menatap kearah tangan kiri Rose yang tengah menodong lehernya menggunakan pecahan kaca.
"Pulang, sebelum kutancapkan beling ini di lehermu!"
Rose memperingati pemuda itu,
Tanpa berpikir lagi Dante segera berlari dengan darah yang mengucur dari lehernya, mengotori kaus putih yang ia kenakan.
Sejenak Rose memejamkan matanya untuk mengolah amarahnya, ia marah saat adiknya di bentak orang lain yang bukan siapa siapanya, jangankan orang lain, ia juga marah saat Jasmine membentak Valery atau sebaliknya. Menurutnya hanya kedua orangtua mereka juga dirinya yang berhak membentak adik adiknya. Selain itu tidak ada yang boleh meninggikan suaranya kepada ketiga adiknya.
"Kakak, kau melukainya." Valery memeluk tubuh kakaknya. Dan segera meraih pecahan kaca di tangan kakaknya, ia takut Kakak sulungnya akan mengejar Dante dan benar benar melukai pemuda itu.
"Itu tidak seberapa. Harusnya aku menancapkan beling itu kemulut lancangnya."
Setelah berhasil menetralkan amarahnya Rose segera merangkul adiknya. "Bersihkan dirimu. Lalu istirahat, datanglah kepada kakak, jika kau sudah siap bercerita. Jangan pikirkan apapun. Semua akan baik baik saja." Rose berujar lembut, sosok pelindungnya tak main main.
"Tapi kakak, jangan melakukan hal lain selain ini. Kakak jangan membuat usaha keluarganya bangkrut seperti yang kakak lakukan pada mantan kak Mine." mohon Valery sembari menatap memohon kearah kakaknya, Valery memang sepemaaf itu.
"Kita lihat nanti. Jika Dante memohon maaf kepadamu dengan layak kakak akan mempertimbangkannya."
"Dan kau." Rose mendelik kearah Gland yang sedari tadi hanya mengamatinya.
"Pulang! Sebelum kupulangkan kepangkuan kau kepangkuan illahi." Ketus Rose.
"Menakjubkan. Dan luar biasa." gunam Gland.
"Ma-maafkan kakakku." Jasmine yang merasa tak enak, ia tau jika Gland seorang pangeran.
"Mine, tidak perlu meminta maaf atas sesuatu yang tidak kau lakukan."
"Iya kak."
.
Sepanjang perjalanan Gland tak berhenti mengembangkan senyumannya, belum apa apa ia sudah tertawan akan kearoganan putri sulung keluarga Barata.
Kali ini atahnya tak salah mencarikannya kandidat seorang istri. Pemberani, tangguh juga sangat mengagumkan, parasnya yang elok membuat Gland terbelenggu. Jasmine memang cantik begitu juga dengan Valery, tapi Rose memiliki sisi lain yang tidak di miliki kedua adiknya.
Ponselnya berdering, Sang Raja menghubunginya.
"Ada hal penting apa ayah menghubungiku?"
"Ayah sudah membatalkan perjodohanmu dan Orion dengan putri sulung dari keluarga Barata. Orang kita akan mengatur pertemuanmu dengan putri kedua keluarga Barata." terdengar tegas dan tanpa bantahan.
"Aku menolaknya, aku sudah terlanjur tertarik dengan Nona muda yang bernama Rose." Gland mematikan sambungan telepon dari ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
senjasabdaalam
jngan2 ini lagi jodohnya mine
2024-02-24
0
Ayas Waty
para pangeran berebut
2023-10-04
0
Yuyun Yunita
ayo... ayo... siapa duluan dia yg dpaat.... siapa duluan mencairkan hati rose dia yg dapat
2023-10-03
1