Kalandra memutar balikan mobilnya. Diam-diam dia mengejar kemana mobil yang membawa Luna itu pergi. Bukan kembali ke rumah orang tuanya tetapi ke suatu tempat yang membuat Kalandra bertanya-tanya untuk apa Luna datang kesana.
Kalandra menepikan mobilnya tepat di depan pagar rumah sakit. Tepatnya bekas rumah sakit. Dari luar tampak sepi, tetapi jika dilihat dengan teliti ada aktivitas di dalamnya. Rumah sakit itu jelas sudah tak lagi digunakan. Bahkan terlihat usang. Kalandra segera turun dari sana. Sebelumnya ia mengirimkan pesan pada Yuta agar menyusulnya.
Kalandra melangkah dengan perlahan, matanya terus menatap pergerakan Luna yang di dampingi oleh satu orang pria dan juga teman wanitanya, yang Kalandra cukup kenal.
Seorang wanita datang mendekat, Kalandra melihat jelas jika Luna berbicara dengan perempuan paruh baya yang baru keluar dari salah satu ruangan.. Kalandra yang begitu penasaran dengan perlahan terus masuk ke dalam mencari tau tentang apa yang akan dilakukan oleh istrinya.
"Sudah siap, Mbak Luna? Ini sudah yang ketiga kalinya loh. Apa tidak ingin dirawat saja bayinya atau biarkan hidup dan berikan pada sepasang suami istri yang membutuhkan?"
Deg
"Bayi? Bayi siapa? Apa Luna hamil? Tapi anak siapa sedangkan aku tidak pernah bisa melakukan itu padanya."
Luna tersenyum lalu menggelengkan kepala. Dia tidak mungkin membiarkan perutnya membuncit sedangkan dirinya tak pernah melakukan itu dengan suaminya. Akan jadi apa jika Kalandra tau. Tidak, Luna tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Dia harus tetap menjaga nama baiknya dan tidak akan membiarkan Kalandra menjadikan itu alasan untuk menceraikannya.
"Tidak Bu, gugurkan saja!"
"Resikonya cukup besar jika terus-menerus digugurkan. Akan terjadi infeksi atau yang lebih parahnya lagi rahim akan rusak. Bagaimana jika nantinya berujung akan sulit punya anak?"
"Tidak masalah karena suami saya pun tidak bisa menyentuh saya. Jadi lakukan saja, Bu. Jika kali ini berhasil Ibu akan saya kasih bonus."
Wanita paruh baya tersebut tersenyum mendengar ucapan Luna. Andai Luna mau mempertahankan, beliau mau merawatnya karena beliau khawatir jika Luna mengalami pendarahan atau apapun yang berakibat buruk bagi kesehatannya. Terlebih yang kedua sampai harus masuk rumah sakit dan mendapatkan penanganan yang serius.
Kalandra menggelengkan kepalanya mendengar fakta yang sangat mengejutkan. Dia tak menyangka jika Luna bisa melakukan hal itu. Bahkan itu bukan dari benihnya lalu dengan siapa Luna berhubungan badan? Tubuh Kalandra hampir lemas, wanita yang ia cintai ternyata selama ini bermain gila di belakangnya.
"Begini cara kamu membalas cinta aku, Luna?"
Kalandra melihat Luna masuk ke dalam suatu ruangan yang di duga sebagai tempat untuk menghancurkan janin yang ada di dalam perut istrinya. Dia memasukkan kembali ponselnya lalu segera melangkah menghampiri ruangan itu.
"Loe yakin, Lun?" tanya sahabat Luna yang bernama Tia.
"Yakin gue, dari pada kena amuk sama Mas Andra dan kehilangan semaunya."
"Lagian dia kalau main nggak mau pakai sarung, Nek. Udah gue ingetin juga, tapi bandel," sahut pria yang ada di sebelahnya yang ternyata bersikap gemulai. Hanya posturnya saja terlihat gagah tetapi pria itu ternyata manis manja.
"Pakai sarung nggak enak, emang loe!"
"Ya setidaknya pakai alat kontrasepsilah," sahut Tia.
"Hormonnya tinggi gue nggak cocok. Udah dech, loe berdua dampingi gue aja. Bentar lagi di mulai kan ya Bu?"
"Iya," sahut Bu Gino yang sudah membuka praktek aborsi cukup lama bahkan sudah memiliki ratusan pasien. Khususnya para remaja.
Bu Gino siap memberikan suntikan pada Luna agar mengurangi rasa sakit. Meminta Luna menarik nafas dalam agar tidak terkejut. Beliau mulai mengarahkan jarum suntik pada bibir inti Luna untuk di masukan obat.
BRAK
Luna dan ketiga orang di sana terjingkat saat melihat siapa yang tiba-tiba mendobrak pintu. Luna yang sedang dalam posisi membuka kakinya buru-buru turun dari ranjang dan memakai kembali celananya.
"Kalian kami tangkap atas kasus aborsi!"
Kedua mata Luna melebar melihat siapa yang datang. Polisi segera meringkus semuanya dan siap membawa ke kantor polisi dengan Luna yang terus memberontak.
"Tapi Pak, saya hanya pasien!" ucap Luna yang terus tak terima dan berusaha untuk kabur.
"Mbak bisa jelaskan nanti di kantor polisi," sahut Polisi yang kini membawa paksa Luna untuk masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Kalandra tersenyum getir dari dalam mobil. Air matanya terjatuh mengingat Luna istri yang ia cintai tetapi kelakuannya membuat ia kecewa setengah mati.
Kalandra sengaja tidak menemui Luna. Dia masih syok bahkan rasanya masih seperti mimpi. Tubuhnya pun hampir terjatuh saat mendekat ruangan yang menjadi tempat praktek aborsi dilakukan. Beruntung Yuta segera datang dan disusul dengan polisi yang Andra hubungi tadi.
"Sabar, cepat atau lambat loe harus tau ini semua. Gue sengaja nggak kasih tau loe dan berbohong saat loe tanya hasil penelusuran gue tentang Luna. Sorry gue nggak tega sama loe, Bro. Berhubung sekarang udah ada gantinya dan loe juga membongkar kebusukan Luna sendiri. Malah lebih parah dari yang gue tau. Gua harap loe bijak dan lebih Legawa menerima ini semua."
Yuta menepuk pundak Kalandra, dia paham betul bagaimana perasaan Kalandra. Bahkan sebagai sahabat ia iba melihat nasib Kalandra. Hanya saja beruntung ada Kemuning yang bisa menjadi obat dari segala obat. Semoga Kemuning sesuai prediksinya. Wanita baik yang memang dikirim oleh Tuhan menjadi obat untuk seorang Kalandra.
"Gue nggak nyangka aja Yut. Gue tau gue banyak kurang dan nggak bisa muasin dia, tapi gue akan terima jika dia bicara jujur dan akan melepasnya baik-baik, bukan dengan begini. Malu gue sama keluarga. Wanita yang gue bela ternyata nggak lebih dari seorang pelacuur."
"Terus apa yang mau loe lakukan setelah ini?"
"Menurut loe?" tanya Kalandra yang kemudian mengusap kasar air matanya. Ini air mata terakhir untuk Luna. Rasa memang masih ada tetapi kekecewaannya begitu mendalam. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Kalandra menyalahkan mobilnya dan segera pergi dari sana. Dia menancap gas begitu dalam membuat tubuh Yuta terjingkat dan buru-buru mencari pegangan.
"Pelan, Bro!"
"Lagi pengen yang kenceng gue, lagi bergairah banget," sahut Kalandra.
"Bergairah ngapa Loe?"
"Bergairah pengen mukul muka orang!" ketus Kalandra. "Mau loe?" tanya Kalandra dengan menoleh sekilas sahabatnya lalu kembali fokus pada jalan.
Yuta menatap sengit Kalandra lalu berpegangan dengan kencang. Hingga dia menghela nafas lega saat mobil sudah menepi di depan kantor polisi.
"Loe mau bebasin, Luna?"
"Bukannya kita akan menjadi saksi?"
Kalandra segera turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam kantor polisi. Dia terdiam melihat Luna yang menangis meronta hingga membuat Polisi kesulitan mencari bukti. Sampai dimana Luna sadar dengan kedatangan Kalandra.
"Mas Andra..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Ita rahmawati
tk kuduga bab 20 udah terbongkar tuh busuknya luna 🤭
2024-09-29
0
Sandisalbiah
syukur deh Andra pinter... ngumpet kuman penyakit lama² bisa bikin bahaya jd Haris di seterilkan
2024-06-05
0
Enisensi Klara
udah cerai deh dari Luna tuh Andra fokus sama kemuning aja
2023-12-01
4