"Mas, Mas Andra! Mas kamu dimana? Mas..." Luna mencari keberadaan Andra yang tak kunjung kembali ke kamar. Padahal sudah menunggu lama sampai ketiduran tetapi sampai larut malam Kalandra belum mengisi ranjang di sebelahnya.
Luna keluar kamar dan mengecek ruang kerja Kalandra tetapi tak ia temukan pria itu di sana lalu melangkah turun menuju ruang depan. Namun dia hanya menemukan Yuta yang tengah tertidur lelap di sofa.
"Kemana Mas Andra, kanapa cuma ada Yuta di sana. Wah ini nggak benar nich. Nggak mungkin kan Mas Andra kabur? Aku nggak bisa biarin kamu menemui Kemuning Mas."
Mendengar suara orang yang melangkah di dekatnya, Yuta segera membuka mata. Dia melihat Luna yang melangkah menuju pintu dengan membawa kunci mobil. Buru-buru Yuta mendekat sebelum Luna kabur mencari Andra.
"Shiitt gue kecolongan, jangan sampai gara-gara Luna mengacau membuat si Joni nggak jadi masuk kandang. Belum lagi bapak gue yang bakal gagal dapet kambing selusin."
BRAK
Luna terjingkat melihat tubuh Yuta yang tiba-tiba menabrak pintu hingga tertutup dan menimbulkan suara yang kencang, kemudian Luna mengerutkan keningnya saat sadar jika Yuta sengaja tak membiarkannya pergi.
"Minggir Yuta!" Luna meminta Yuta untuk bergeser dari sana bahkan menarik baju Yuta tetapi pria itu tetap tidak mau bergeser. Bahkan kekuatan Luna tak sebanding dengan tubuh Yuta yang sama sekali tak bergerak sedikitpun.
"Yuta awas!" seru Luna dengan gemas. Wanita itu paham sekarang jika Yuta datang karena diminta oleh Andra untuk menjaganya agar tidak menyusul.
"Nggak akan, balik ke kamar! Gue tau loe mau nyusulin Andra kan? Jangan mimpi! Tidur sana loe, ganggu gue yang lagi mimpi indah aja."
"Gue nggak ada hubungannya sama loe, Yuta! Gue mau nyusul Andra atau nggak itu bukan urusan loe! Dasar kacung!" sahut Luna dengan suara meninggi.
Yuta menyeringai mendengar ucapan kasar dari Luna. Dia melangkah mendekat hingga kini jarak keduanya hanya beberapa centi saja.
"Mana yang lebih berakhlak, kacung atau wanita murahan? Jangan loe pikir gue nggak tau kelakuan loe di luaran sana, Luna! Kemana saat loe butuh pelampiasan. Siapa saja pria yang loe sewa buat memuaskan hasrat biadaap loe. Gue tau semaunya, Luna! Jangan loe anggap kelakuan loe mulus tanpa ada yang tau. Bahkan gue punya buktinya."
Luna menelan kasar salivanya, jantungnya berpacu lebih cepat dua kali lipat bahkan kini dia mencengkeram kedua tangannya dengan kuat. Dia tak menyangka jika Yuta mengetahui kelakuannya selama ini. Bahkan sampai sedetail ini. Wajah Luna seketika pucat dengan kedua mata terlihat penuh emosi.
"Kenapa? Kaget gue bisa tau? Bahkan Andra sudah curiga sama loe dan meminta gue untuk mencari tau kelakuan loe di luar sana. Tapi apa? Seorang kacung ini masih punya hati untuk tidak membuat sahabatnya kecewa. Gue masih mau nutupin borok loe karena gue tau Andra tulus sama loe! Tapi gue nggak akan segan-segan membeberkan semuanya kalau loe berani mencelakai Kemuning."
"Apa hubungan loe sama Kemuning? Atau jangan-jangan kalian kerja sama? Iya? Anak Kemuning itu anak loe bukan anak Andra?" Luna tersenyum miring dengan bersedekap dada. Dia menatap Yuta dengan kedua alis yang terangkat.
"Gimana ceritanya anak gue kalau laki loe yang ambil keperawanan dia. Loe tau kan kalau gue selalu ada di samping Andra. Gue bukan berniat membela Kemuning, tapi gue tau jika Kemuning itu nyawa buat Andra. Jadi mending loe tidur. Terserah loe mau ngamuk besok di rumah mertua loe, gue nggak peduli. Yang jelas malam ini jangan berani-berani loe ganggu mereka kalau nggak mau gue bongkar semuanya!"
"Dasar brengseek! Jangan pikir gue takut sama loe, gue akan...."
"Bunuh diri? Mati aja loe sana! Loe pikir gue takut? Gue siap rekam loe biar Andra tau loe mati bunuh diri. Luna-Luna... Ancaman loe bikin gue mau ketawa. Loe becanda sama gue? Gue bukan Andra. Dia diam karena dia masih cinta sama loe, tapi hati-hati. Laki kalau sudah dapat yang bisa muasin suka lupa sama yang dicinta. Jadi siap-siap dibuang sama Andra."
Luna menyentak kakinya dengan kesal. Dia tak menyangka Yuta yang tengil berani melawannya. Bahkan terkesan merendahkannya. Luna segera kembali ke kamar dan meninggalkan Yuta yang tertawa menatapnya.
"Nggak jadi bunuh diri Lun? Gue siapin nanti biar loe nggak usah repot-repot. Kali aja gue besok bisa ikut viral. Ada laki-laki baik hati yang mau membantu seorang pemilik butik ternama itu untuk bunuh diri. Jangan pakai pisau Lun, pakai gunting rumput aja sekalian!" seru Yuta yang kemudian mengunci pintu rumah dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celana.
Yuta kembali melangkah menuju sofa meneruskan mimpinya yang sempat tertunda.
Sementara di kediaman keluarga Regantara tepat di salah satu kamar. Sepasang suami-isteri tengah bertukar peluh dengan gerakan lembut menuntut. Akhirnya Andra bisa melampiaskan hasratnya yang telah lama terpendam. Kembali merasakan indahnya surga dunia yang hanya didapat dari satu orang wanita.
Kecupan gemas Andra berikan saat bibir ranum itu mengeluarkan suara-suara manjanya, membuat Andra semakin bersemangat hingga melakukan banyak gaya yang semakin membuatnya mengerang tak tertahan. Beruntung kamar kedap suara, jadi sesuka hati ingin menjerit pun tak akan ada yang mendengar.
"Mas..."
"Iya Sayang, lepaskan! Dia gagah untukmu. Jangan di tahan Sayang, atau mau coba si atas?"
Kemuning yang kalem ternyata begitu pandai saat di ranjang. Dia bisa membuat Kalandra terpuaskan dengan gerakan sensualnya yang begitu sexy di mata Kalandra. Apapun tentang Kemuning membuat Kalandra menjadi pria sejati. Penyakit yang bertahun-tahun ia derita lenyap seketika. Bahkan si Joni belum mau tidur saat ini. Masih ingin terus bekerja keras hingga benar-benar puas.
"Mas aku..."
"Tunggu Sayang!"
Andra enggan mengakhiri padahal sudah ketiga kalinya ia kembali mengulangi. Hingga Kemuning terlihat kelelahan dan Kalandra memutuskan untuk fokus demi mencapai puncak yang melegakan. Seperti balon yang meledak begitu ambyar dengan suara lenguhan panjang dari keduanya.
Kalandra tersenyum bahagia bisa kembali merasakan tubuh Kemuning. Sejak tadi matanya berbinar penuh damba sampai tak tahan dan terus menempel pada tubuh wanita itu.
"Lelah Sayang?" tanya Kalandra yang kini memeluk Kemuning dengan erat.
"Iya Mas, kamu keterlaluan." Kemuning mengusap lembut perutnya merasakan bayinya bergerak dengan aktif.
"Eh, kok seperti gerak gitu. Perut kamu bergetar. Apa anak kita nendang-nendang?"
"Hhmm..." Mata Kemuning terpejam. Dia merasakan sentuhan tangan Andra di perutnya. Nyaman dan tak lama bayinya kembali tenang.
"Maaf ya Nak Papah ganggu sebentar. Bobo lagi ya! Kasihan Mamahnya lelah." Kalandra mengecup perut Kemuning lalu kembali memeluk tubuh wanita itu dengan memberi kecupan-kecupan lembut.
"Makasih Sayang aku puas. Besok pagi lagi ya. Aku nggak tahan dekat kamu, Sayang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Ita rahmawati
huh dasar sementang udh bisa bangun tuh si joni gk mau tidur lagi
2024-09-29
0
Sandisalbiah
doyan bang..
2024-06-05
0
Eva Nietha✌🏻
Nambah seporsi 🤣
2024-05-18
0