Bab 08. Suami?

Kemuning nampak terkejut melihat seorang wanita cantik berpakaian feminim dengan raut wajah kesal berseru menuruni tangga. Di balik wajah cantiknya, wanita itu terlihat sekali arogan, kemudian Kemuning menoleh ke arah Andra. Tatapan matanya mampu membuat Andra mengerti dan semakin mengeratkan genggaman tangan mereka.

"Tenang, kamu cukup diam! Biar aku yang menjelaskan," lirih Andra menoleh ke arah Kemuning yang terlihat ketakutan. Berusaha membuat wanita hamil itu percaya jika tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Lepaskan tangan suamiku!"

Deg

"Suami?" lirih Kemuning dengan wajah terkejut. Kemuning segera menoleh ke arah Andra dan melepaskan paksa genggamanya tetapi pria itu enggan dan semakin mengeratkan.

"Jadi Bapak sudah menikah?"

"Kenapa? Memangnya kamu siapa?" sahut Luna dengan wajah menantang lalu menoleh ke arah Andra. Dia seakan tidak memberi kesempatan untuk Andra menjawab. "Kamu juga, kenapa tidak mau melepaskan genggaman tangan dia, Mas? Siapa wanita ini? Wanita murahan mana yang kamu bawa, hah?" sentak Luna.

Luna mencoba melepaskan genggaman tangan Kalandra dan Kemuning dengan susah payah hingga tubuh Kemuning tersentak saat genggaman berhasil terlepas. Tubuhnya hampir saja terjatuh jika Andra tidak segara mendekat dan menarik tangan Kemuning hingga wanita itu terjatuh di pelukannya.

"Luna, aku mohon jangan keterlaluan! Aku bisa menjelaskannya, tapi tolong kamu tenang dulu! Aku tidak ingin ada kekerasan apa lagi panggilan kamu tadi, dia bukan wanita murahan Luna!"

Luna tersenyum miring, matanya menatap tajam Kemuning dan kembali menarik tubuh wanita itu agar tidak menempel dengan suaminya. Cemburu sudah membuat Luna tak mampu bersikap lembut.

"Menjauh kamu dari suamiku!" sentak Luna.

"Luna please jangan kasar, Sayang! Dia juga istriku, dia ibu dari anakku!" ucap Andra dengan suara meninggi. Meski masih disisipi panggilan Sayang tetapi Andra tengah marah dan tidak terima Kemuning diperlakukan seenaknya.

Luna tercengang mendengar ucapan Andra. Dia menggelengkan kepala tak menyangka seorang Andra bisa melakukan poligami, sedangkan satu istri saja pria itu tidak bisa memenuhi nafkah batinnya.

"Kamu gila, Mas! Bisa-bisanya kamu menikah lagi dengan wanita kampungan seperti ini. Kamu lupa dengan diri kamu, Mas? Satu istri saja kamu masih belum bisa menafkahi batin dan sekarang kamu sok-sokan menikah lagi! Kamu yang begitu mencintai aku, hanya karena wanita murahan ini kamu menduakan aku? Lupa kamu Mas dengan janji kamu?" sentak Luna tidak terima.

"Aku tidak pernah lupa Luna, bahkan aku mengingat semuanya. Aku tau aku tidak sehat dan aku pun tidak gila Luna! Aku waras bahkan sangat waras setelah aku memutuskan untuk menikah lagi. Bersamanya justru aku bisa menjadi pria sejati, bukan karena ingin berniat untuk mengkhianati."

Kalandra menghela nafas berat, dia menoleh ke arah Kemuning dengan tatapan bersalah. Andra kembali meraih tangan Kemuning tetapi ditepis oleh wanita itu. Kemuning menyesal telah menikah dengan Andra. Dia pun merutuki dirinya yang bodoh dan mudah ditipu habis-habisan oleh Andra.

"Apa kamu bilang, Mas? Kamu bisa menjadi pria sejati? Sama dia!" Tunjuk Luna meletakkan jari telunjuknya di depan wajah Kemuning membuat wanita hamil itu memejamkan mata dengan bulih air mata yang jatuh dengan sempurna. "Berarti benar dia wanita murahan. Kalian bermain di belakangku. Jahat kamu, Mas! Dan kamu, kamu kasih obat apa pada suamiku?" Luna begitu marah hingga ingin menyerang Kemuning tetapi Andra dengan cepat menghalaunya hingga Kemuning memilih berjongkok dan memeluk erat perutnya.

"Stop Luna semua tidak seperti yang kamu pikirkan! Justru ini semua terjadi karena aku yang memperkosanya. Jadi jangan salahkan dia, karena yang salah itu aku bukan dia!" sentak Andra dengan suara yang sangat tinggi. Bahkan membuat Bibi yang sedang berada di belakang mengintip apa yang terjadi.

Luna yang terus bergerak kasar mendadak diam mendengar ucapan Andra. Dia tak menyangka sang suami bisa melakukan tindakan keji. Luna menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Dia menatap Andra lalu menggelengkan kepala, berusaha tak mempercayai dan meyakinkan jika apa yang dikatakan pria itu tidaklah benar.

"Aku berkata jujur, aku telah mencarinya selama tiga bulan ini untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku. Untuk penyakit setiap pagi yang aku alami itu karena efek Kemuning mengandung anak aku. Aku mengalami kehamilan Simpatik. Maaf Luna, aku membuat kamu sakit hati sekaligus terkejut, tapi aku tidak bisa melepaskan Kemuning. Terlebih ada bayi yang harus aku jaga dan Kemuning memiliki hak yang sama. Dia istri aku sekarang, tepatnya istri keduaku."

Luna tertawa dengan air mata yang mengalir deras. Dia sedih tetapi merasa lucu karena dirinya yang salama ini menjadi istri tak kunjung diberi nafkah sempurna. Namun, wanita kampungan yang ada dihadapannya justru dibuat hamil dalam sekali pertemuan. Sungguh tidak masuk akal dan itu membuat Luna semakin curiga.

"Aku serius Luna, Kemuning hamil anakku. Aku berhasil dan aku akan menjadi Ayah."

PLAK

Tamparan keras singgah dengan sempurna di pipi Kalandra. Luna sangat murka, dia marah dan merasa konyol dengan takdir yang ada. Dia saja belum pernah dikunjungi dengan keperkasaan suami. Bahkan memimpikan memiliki anak saja enggan, tetapi Kalandra bergitu girang akan menjadi Ayah dari wanita yang kehadirannya membuat keributan.

"Selain sakit, kamu pun gila Mas! Kamu jahat!" umpat Luna menatap Andra yang diam terpaku. Begitupun dengan Kemuning yang kini menoleh ke arah Andra dengan tatapan kemarahan tetapi tak tega melihatnya. Kamila tak menyangka wanita yang menjadi istri pertama suaminya begitu kasar. Dia semakin tak ingin tinggal disana karena tidak ingin nasib anaknya akan terancam.

"Kamu! Aku tau betul siapa suamiku. Aku tau kamu berbohong. Ini bukan anak Mas Andra kan? Iya kan? kamu hanya ingin uangnya saja, katakan kamu mau berapa?" sentak Luna lagi dengan menunjuk-nunjuk wajah Kemuning.

"Luna, sudah kukatakan jika itu benar anakku! Aku yang merenggut kesuciannya, dan ini mutlak!" tegas Andra.

Luna menggelengkan kepala dan mendengus kesal. Dia muak, sudah tak ingin lagi berucap, emosinya kini semakin meluap. Luna memutuskan pergi begitu saja. Dia masuk ke dalam kamar dengan hati kacau dan segera mengambil tas serta kunci mobil. Muak melihat suami dan madunya, Luna bahkan enggan menoleh kembali. Pandangannya lurus dengan air mata yang terus jatuh dari pelupuk mata.

Hancur, itulah kata yang pas untuk dua wanita yang menjadi istri Kalandra. Keduanya sama-sama kecewa. Luna kecewa karena dimadu dan mengetahui fakta jika suaminya bisa berhubungan intim dengan wanita lain, sedangkan Kemuning kecewa karena merasa tertipu. Dia merasa dibohongi habis-habisan oleh Kalandra. Namun, dia sadar jika dia pun salah karena sejak awal tidak bertanya apakah Andra pria beristri atau bukan.

"Mau kemana Kemuning?" tanya Andra saat melihat Kemuning yang berdiri dan hendak pergi. Sungguh nasib Andra sedang di ujung kemalangan saat ini.

...****************...

Jangan lupa jejak kalian📢📢 Hehhehe Jangan diem-diem Bae ya, like, coment, vote dan yang belum follow aku yuk di follow.

Follow juga Ig aku weni0192. Matur nuwun 🙏🙏🤗🤗🤗

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

apapun alasanmu ttep gk akn ada istri yg mau di madu 😔

2024-09-29

0

Nuralfiyah 1157

Nuralfiyah 1157

seharusnya kalandra kan CEO kenapa GK ditempat kan dirumahnya yg lain sampai betul waktu yg pas baru ngomong GK langsung pulang bawa istri lagi pasti nya Luna kecewa sakit hati syock jg

2024-06-13

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

ya gila aja si Andra tanpa rencana main nekat aja bawa istri ke dua ke rumah.. istri mana yg gak syock.. mana dua² tdk tau tentang fakta poligaminya... ini si Andra antara bego dan egois atau malah keduanya nih.. 🤔🤔🤦‍♀🤦‍♀

2024-06-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!