"Tempatku bukan disini, Pak. Ini tempat istri pertama anda, saya hanya benalu dalam rumah tangga kalian. Biarkan saya pergi dari pada anak ini yang akan menjadi korban. Saya tidak mau menyakiti siapapun."
"Tapi aku ini suamimu, dan aku tidak mengijinkan kamu pergi dari rumah ini. Apalagi pergi dari aku, meski cinta belum hadir tapi aku akan memperlakukanmu dengan baik hingga kita sama-sama jatuh cinta."
Kemuning tertawa mendengar ucapan Andra, pria yang baru saja berkhianat mengucapkan kata cinta. Sungguh tidak pantas!
Wanita hamil itu menoleh kebelakang, dia menatap Andra dengan mata berkaca-kaca. "Pantaskah anda mengatakan cinta setelah anda menyakiti hati dua wanita sekaligus? Hentikan Pak sebelum Bapak semakin membuat kami terluka. Saya mengalah dan saya akan pergi. Mungkin jika dengan saya anda bisa sempurna sebagai laki-laki. Bisa jadi dengan perempuan lainpun begitu. Silahkan meneruskan pencarian anda dan saya menyerah!"
"Bicara apa kamu, Kemuning?" Kalandra terpancing emosi dia mencekal lengan Kemuning dengan manatap tajam wajahnya. "Aku cinta dengan Luna tapi karena aku sakit aku mencari kesembuhan di luar sana. Hal itu bukan kali yang pertama dan aku gagal. Sekarang aku menjatuhkan diri dan hatiku padamu tapi kamu meragukan! Masalah kita bukan berarti karena aku tega pada Luna. Aku berharap akan sembuh dan mampu memberi nafkah batin padanya, tapi ternyata tidak. Tubuhku hanya mau sama kamu, meski hatiku masih satu untuk istri pertamaku. Apa adil jika aku hanya butuh tubuhmu? Apa kamu mau hanya aku anggap wanita pemuas ranjangku? Tidak kan? Aku akan tetap melakukan kewajibanku, aku akan berusaha mencintaimu dan membuka hati untukmu. Meski dalam urusan ranjang aku tidak mampu adil."
Air mata Kemuning kembali terjatuh, dia menyesali takdir yang membawa dirinya harus menjadi istri kedua. Takdir yang membawanya untuk menjadi wanita yang menyakiti hati wanita lain.
Kamuning terkesiap melihat Andra dengan kerendahan hatinya menekuk kaki dengan bersimpuh dihadapannya. Seorang pria kaya raya menjatuhkan harga dirinya di depan istri kedua. Memohon hingga hati Kemuning luluh.
"Aku mohon, tetaplah disisiku! Kamu istriku, dan aku membutuhkan kamu!" lirih Andra. Dia tak perduli dengan harga dirinya. Dia tak peduli jika ada yang melihat dirinya merendah seperti ini. Yang ia pedulikan saat ini, jiwa dan raganya membutuhkan Kemuning. Dia tak sanggup jika harus kembali kehilangan wanita itu.
Kemuning menyurut air matanya, dia memejamkan mata saat kedua tangan Andra memegang lututnya dengan terus memohon. Kemuning melirik wajah Andra, dia tak tega melihat pria yang sah menjadi suaminya begitu terlihat menyedihkan. Kemuning sadar Andra pria baik dan bertanggung jawab, tetapi yang membuat Kemuning kecewa mengapa pria itu tak jujur sejak awal. Setidaknya ia bisa menolak atau terus dengan persyaratan.
Perlahan Kemuning memberanikan diri memegang kedua bahu Andra. Dia menatap lekat pria itu dan mencari tahu keseriusan dari wajah tampannya yang terlihat tegas tetapi tak disangka bisa bertekuk lutut dengan dia yang hanya wanita sederhana.
"Pak, apa Bapak bersungguh-sungguh?"
"Apa aku kurang meyakinkan kamu? Tiga bulan aku mencari kamu, aku begitu menginginkan kamu. Meski belum ada cinta, tapi aku sudah menjatuhkan hati aku untuk kamu. Percayalah, aku akan berlaku adil denganmu dan juga Luna. Apa kamu tega jika anak kita tak memiliki ayah? Dia juga butuh kasih sayang dari kedua orang tua yang utuh."
Kemuning menundukkan kepala mengusap lembut perutnya. Dia teringat akan beratnya hidup menjadi anak yatim. Tidak mungkin ia akan membiarkan anaknya pun merasakan hal yang sama. Terlebih harus merasakan hidup kesulitan. Kemuning benar-benar berusaha berpikir jernih. Hidupnya yang sulit, akan semakin sulit jika tidak memiliki suami dan itu akan berimbas pada anaknya kelak. Tidak, Kemuning tidak mau anaknya pun merasakan pahitnya hidup. Sebagai Ibu dia tak akan tega melihat anaknya kekurangan.
Kemuning menganggukkan kepala, dia mendadak tak berani menatap lagi wajah Andra. Padahal saat ini pria itu tengah bahagia. Senyumnya mulai terbit dan segara memeluk tubuh Kemuning membuat wanita itu terkejut.
"Pak jangan kencang-kencang, kasihan perutnya tertekan."
"Maaf Kemuning, Maaf." Andra mengecup perut Kemuning berulangkali dan kembali memeluk tubuh wanita yang telah memberinya kepuasan batin.
"Makasih Kemuning, makasih Sayang kamu mau menerima aku dan memberi kesempatan buat aku. Aku nggak mau banyak janji, tapi aku akan buktikan jika aku tidak main-main dengan hubungan ini. Aku tau aku salah dan aku akan memperbaiki semuanya. Aku pun sadar aku pasti tak akan bisa bersikap seadil mungkin tetapi aku akan berusaha demi kalian. Luna, kamu dan anak kita."
Kalandra segera mengajak Kemuning ke kamar kosong, tepatnya kamar yang berada di samping kamar utama. Niat Andra agar lebih mudah saat dia harus bolak balik mengecek kedua istrinya.
"Ini kamar kamu," ucap Andra setelah membuka pintu kamar kemudian mempersilahkan Kemuning untuk masuk. Wanita itu menutup mulutnya, tak menyangka kamar yang diperuntukkan untuknya begitu bagus seperti kamar hotel tempatnya bekerja dulu.
"Apa tidak berlebihan, Pak? Saya takut istri Bapak marah."
Andra tersenyum menatap lekat wajah polos tanpa make up tetapi begitu ayu terlihat. "Kamu pun istriku, sudah sepantasnya aku berlaku adil padamu, dan aku minta ganti panggilan itu. Kamu terkesan seperti pelayan bukan istriku!"
"Akan saya pikirkan akan itu," jawab Kemuning dengan perasaan yang tak menentu. Kalandra pun tak masalah, yang terpenting dia bisa membuat Kemuning tetap bersamanya. Tidak terbayangkan andai kemuning pergi. Tidak cuma dirinya yang merana, si Joni pun nelangsa.
"Kamu bersih-bersih dulu dan istirahat, aku juga mau ke kamar gerah. Jangan sungkan ya jika membutuhkan sesuatu, aku ada di kamar sebelah."
"Iya," lirih Kemuning yang kemudian mendapatkan kecupan di pipi dari Andra.
"Oh iya, pintunya jangan dikunci ya. Malam ini aku mau tidur di sini," ucap Andra dengan mata berbinar, ntah apa yang akan ia rencanakan tetapi saat ini ia ingin buru-buru masuk ke kamar mandi untuk menormalkan sesuatu yang lagi-lagi mendesak. Padahal tadi habis emosi, tapi setelah kembali memeluk Kemuning tubuhnya terasa tak mampu menahan hawa panas.
Kemuning tak menjawab tetapi anggukan kepalanya membuat Andra tersenyum girang. Pria itu seakan lupa jika tengah membuat Luna kecewa, bahkan butuh pelampiasan.
"Joy, James mana?"
"Lagi libur Lun, kalau mau sama yang lain aja! Max juga ada. Lebih gagah perkasa, bukannya loe udah nyoba."
"Boleh dech, lagi pusing nich gue. Panggilin orangnya!" titah Luna yang kemudian menenggak minuman favoritnya.
"Halo Sayang," sapa seorang pria yang tiba-tiba datang mendekat dan mengecup bibir Luna dengan mesra.
"Langsung ngamar ya! Gue butuh yang gila," ucap Luna dengan menatap pria yang sudah mendekapnya.
"Tentu, bisa bikin kamu teriak aku dapat bonus kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Ita rahmawati
owalah kirain si luna bini yg bener kan bisa join gtu sm kemuning 🤣
ya pantes joni gk mau orang apemnya udah basi 🤮
2024-09-29
0
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah terduga makanya si Joni ga bangun soalnya bukan pawang yang Ori, ditambah emang udah jodoh dari masih kandungan sama Kalandra 😂
2024-04-20
1
Yuliana Purnomo
halaaaaah ternyata Luna murahan,,,pantesan Joni GK bangun??? kayak apa si kalandra wkt mau nikahin Luna?? gak diselidiki dulu kh
2024-02-23
2