Bab 18. Morning Kiss

"Sini Sayang!" panggil Kalandra saat melihat Kemuning baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus kepalanya. Pemandangan yang sangat indah menjamu mata. Pagi-pagi sudah melihat Kemuning dengan wajah segar, membuatnya teringat akan pergulatannya semalam.

"Kamu sudah bangun..." Kemuning dengan ragu mendekat tetapi Kalandra yang gemas segera manarik tangannya dengan perlahan hingga kini terduduk di pangkuan suaminya.

"Mas..."

"Morning kiss, Sayang!"

Semanis itu seorang Kalandra, padahal sudah beberapa bulan ini ia melupakan kegiatan paginya dengan Luna. Namun, bersama Kemuning serasa tak ingin jauh. Baru ditinggal ke kamar mandi saja rasanya sudah mencari-cari dan ingin kembali memeluk wanita yang baru ia nikahi beberapa Minggu yang lalu.

Kemuning tak menolak saat Kalandra kembali mencumbunya. Bahkan tangan pria itu mulai menelusup mengusap punggungnya. Kemuning pun sudah pandai melawan. Memberi sentuhan lembut meski terkesan masih kaku.

"Rileks Sayang, aku akan sering berkunjung agar kamu terbiasa." Kalandra kembali menyatukan indra perasa mereka semakin dalam. Begitupun dengan Kemuning yang berusaha mengikuti apa yang Kalandra perintahkan.

Keduanya tidak tau jika Luna sudah datang berkunjung. Bahkan kini sudah berada di depan pintu kamarnya setelah tadi menyapa Mamah dan Papah di bawah.

"Ngapain?" tanya Kashafa yang kebetulan keluar kamar. Dia melihat Luna datang dengan wajah penuh amarah. Kashafa paham apa yang membuat wanita itu ingin murka tetapi cukup terkejut saat Luna melihatnya malah justru berlari memeluk.

"Fa, kamu pasti tau kan kelakuan Kakak kamu. Bantu aku Fa untuk memisahkan mereka. Aku mohon," lirihnya tepat di telinga Shafa.

"Lepas! Kamu tau batasan tidak? Jangan melangkah di luar jalur, Luna! Masalah kamu dengan Abang bukan denganku. Jadi jika ingin merengek dan marah seharusnya pada Bang Andra bukan padaku. Kamu salah alamat!"

"Bukannya kamu masih mencintaiku, Fa?"

"Percaya diri sekali kamu! Apa baiknya kamu dari pada Kakak ipar baruku itu?" celetuk Shafa yang kemudian melangkah melewati Luna lalu bergabung dengan kedua orang tuanya.

Luna mendengus kesal. Dia tidak suka dengan sikap Kashafa yang semakin lama semakin cuek padanya. Semakin memberi jarak dan terlihat tak suka. Padahal dulu begitu mencintainya sampai ribut dengan Andra.

Ketukan pintu yang kasar membuat kegiatan panas sepasang pasutri yang sedang sibuk dengan gairahnya masing-masing membuat mereka terganggu. Khususnya Andra yang sudah mulai merusuh lebih dalam terpaksa harus kembali mengancing pakaian Kemuning.

"Aku lihat dulu sebentar ya Sayang, tidak usah ditutup semua. Aku masih ingin," ucapan Andra yang kemudian mengecup bibir Kemuning lalu mendudukkannya di ranjang.

Andra melangkah dengan malas, bahkan merutuki orang yang terus saja mengetuk pintu kamarnya tanpa henti.

"Luna..."

"Puas kamu Mas setelah semalam meninggalkan aku dan pergi tanpa pamit! Puas kamu telah bertemu dengan istri barumu! Dimana dia yang sudah membuat suamiku pergi meninggalkan aku?" Luna ingin menerobos masuk ke dalam kamar tetapi dengan cepat Kalandra menghalaunya. Luna begitu murka terlebih melihat penampilan Kalandra yang berantakan. Rambut acak-acakan dan ada tanda merah di lehernya. Betul-betul keduanya lupa daratan.

Sementara Kemuning yang mendengar keributan di pintu kamar segera beranjak dari tempat tidur. Dia mendengar suara Luna yang berteriak membuat dirinya merasa tak aman. Kemuning berpikir jika dirinya seperti wanita yang sedang melakukan hubungan tidak halal dan digerebek istri Andra. Risih sekali apa lagi kini mereka tengah berada di rumah mertua.

"Luna tenang Luna! Kamu jangan seperti ini! Aku pun memiliki hak untuk menemui Kemuning! Dia juga istriku, seharusnya kamu mengerti itu!" sentak Kalandra melihat Luna yang membabi buta memberontak, mendorong dengan gerakan brutal ingin menerobos masuk ke dalam. Kalandra mendorong wanita itu agak menjauh dari pintu kamar tetapi Kemuning justru mendekati. .

"Di dalam saja Kemuning jangan mendekat!"

"Ada apa ini ribut-ribut? Luna kamu sudah berjanji pada Mamah jika tak akan menciptakan keributan tetapi kanapa baru saja naik sudah terjadi pertengkaran seperti ini?" tanya Mamah Kaira yang geregetan sekali dengan Luna. Beliau pun baru tau jika Kalandra pulang setelah pagi tadi melihat mobil putranya terparkir di garasi.

Mamah dan Papah tak melarang dan menyerahkan itu pada Kemuning. Jika ingin bertemu dengan Kalandra bagus, jika tidak juga tak mengapa. Melihat Kalandra yang masih di sana sampai pagi itu menandakan jika Kemuning mau menerima kedatangan Kalandra. Mereka pun tak menganggu keduanya, membiarkan pasutri itu keluar sendiri dari kamar tanpa harus diminta.

Luna menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke arah Mamah mertua yang datang bersama dengan Papah dan juga Kashafa. Dirinya semakin kesal saat semua mata seakan mengintimidasi dirinya.

"Mas..."

"Aku sudah katakan jangan begini! Kamu harus bisa terima jika aku bukan hanya memiliki kamu saja, Luna. Kemuning pun butuh perhatian lebih dari aku, apa lagi dia sedang mengandung. Please, pulang ya! Nanti malam aku tidur di rumah," ucap Kalandra dengan lembut. Bahkan dia mengusap kepala Luna agar wanita itu luluh. Meski bagaimana pun Kalandra sadar betul jika keributan ini terjadi karena Luna yang sakit hati dan itu karenanya yang memilih poligami.

Luna menggelengkan kepalanya dia melirik Kemuning yang terdiam melihat perlakuan lembut suaminya. Sampai dimana Luna yang geregetan kembali ingin menyerang tatapi Kalandra segera memeluk Luna agar tidak berbuat kasar dengan Kemuning sedangkan Kemuning yang ketakutan buru-buru keluar kamar hingga hampir membuatnya terjatuh. Beruntung ada Khasafa yang dengan cepat meraih tubuhnya.

Posisi Kemuning yang jatuh di pelukan Khasafa sontak membuat Kalandra emosi. Rasanya ia ingin menarik tubuh Kemuning tetapi saat ini ia tengah menenangkan Luna.

"Kamu lihat Mas! Begitu murahannya istri baru kamu! Ini yang membuat dia memilih tinggal dan betah disini karena dia bisa mendapatkan perhatian dari dua pria sekaligus. Dasar serakah kamu! Aku yakin semua ini sudah kamu rencanakan sebelumya. Kamu pun mengincar adik iparmu, bukan? Karena kamu pasti sudah tau sebelumnya tentang mereka. Hanya saja Kamu berpura-pura tidak tau!"

Kemuning segera melepaskan diri dari Kashafa. Dia menoleh ke arah Luna dan Kalandra dengan menggelengkan kepala. Ada rasa takut jika suaminya terpengaruh. Terlebih Kalandra yang semalam sempat mengingatkan dirinya agar menjaga jarak dengan Khasafa.

"Jangan bikin masalah semakin rumit, Luna! Gue nggak salah loe bawa-bawa. Dan loe Bang, mau percaya sama dia? Silahkan! Loe kasih Kemuning buat gue juga gue terima. Tapi asal loe tau, gue bukan orang yang suka merebut milik orang lain!"

"Shafa!" sentak Kalandra yang kini melepaskan tubuh Luna lalu menarik Kemuning. Dia tak terima dengan ucapan Shafa dan sedikit khawatir jika adiknya benar-benar menyukai Kemuning.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

bisa tegas gk lagaknya punya bini 2,,ortunya juga gk tegas jd kesannya gk dihargain sm luna yg bebas marah² dn teriak² didwpan mereka 🙄

2024-09-29

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

wes ambyar... bojo loro malah gawe Sira' munet tah.. Andra... kapokmu kapan...

2024-06-05

0

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

wew 😂😂😂

2024-04-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!