Malam ini Kemuning sulit untuk memejamkan mata. Tak biasa tidur dengan seorang pria membuatnya gelisah. Terlebih dengan Kalandra yang terus mengikis jarak membuat Kemuning semakin resah.
"Pak, bisa geser tidak? Jangan terus menghimpitku!" ucap Kemuning tetapi Kalandra seakan tuli dan tak menggubris ucapannya. Terus mengikis jarak hingga kemuning semakin tidak nyaman.
"Tidur Kemuning aku hanya ingin dekat saja dengan anakku! Tidak lebih, tapi jika kamu mau kasih lebih boleh banget. Aku terima dengan senang hati," ucapnya yang membuat Kemuning harus menekan sabar. Terlebih tatapan mata Kalandra yang tak biasa membuat Kemuning semakin deg-degan.
"Untuk sekarang aku belum terbiasa, bisa tidak jika Bapak tidur di kamar Bapak sendiri?" Kemuning berharap Kalandra mengerti tetapi pria itu justru tak bergerak sama sekali membuat Kemuning hampir frustasi.
Malam ini terpaksa Kemuning tidur dengan pengawasan dari Kalandra, meski tak nyaman tetapi karena dirinya yang sudah mengantuk membuatnya tak sadar dan terlelap dengan memunggungi suaminya.
Kalandra yang sejak tadi tak mau berjarak sengaja melakukan itu agar Kemuning bisa menerima kehadirannya. Sesuai pepatah Jawa mengatakan wit ing tresno jalaran seki kulino. Dia ingin Kemuning terbiasa dan bisa menerimanya dengan baik dan melakukan tugas istri sebagai mana mestinya.
Kalandra turun dari tempat tidur setelah memastikan Kemuning benar-benar terlelap. Mengecup kening Kemuning lalu kembali ke kamar. Dia ingin menghubungi Luna yang sudah larut malam tetapi belum pulang. Khawatir karena wanita itu pergi membawa kemarahan.
Panggilan darinya tak kunjung mendapat jawaban, hingga berulangkali ia lakukan sampai nomor Luna tak bisa lagi dihubungi. Mungkin mati karena kehabisan daya. Kalandra bingung harus menghubungi kemana atau mencarinya dimana.
"Tidak mungkin dia tidur di butik, lalu kemana kamu Sayang?"
Kalandra kembali mendial nomor Yuta lalu menghubunginya.
"Yut, loe tau nggak kemana bini gue?" tanya Kalandra saat panggilannya diterima.
"Lah loe nggak salah nanya, bini kan bini loe. Ngapa nanya ke gue? Ya kali mau berbagi sama gue salah satunya. Eh tapi bini yang mana dah?"
"CK, Luna!"
"Ngapa? Kabur dia dari rumah?"
"Iya tadi marah."
"Ya marahlah, gue kalau jadi Luna juga marah. Meski diluaran bisa gampang ca_"
"Ca apa?"
"Nggak, udah nggak perlu panik. Mending loe kelonin tuh si Kemuning. Kasihan bini muda dianggurin," celetuk Yuta dari seberang sana.
Kalandra segera mematikan ponselnya, dia kembali masuk ke kamar Kemuning dan tidur dengan memeluk wanita itu. "Gue harap selama kemuning belum jinak, loe bisa diajak kerja sama ya Jon!"
Gelisah, itu lah yang dirasakan Kalandra malam ini. Entah di jam berapa dia mulai tertidur nyenyak dengan terus memeluk tubuh Kemuning.
BRAK
Dua insan yang masih bergelung di bawah selimut begitu terkejut saat suara pintu kamar tiba-tiba terbuka dan begitu kencang hingga terbentur dinding. Terlebih Kalandra yang rasanya baru saja terlelap sudah dibuat terjingkat hingga jantungnya berdebar tak biasa. Keduanya melihat ke arah pintu yang terbuka. Seperti tertangkap basah sedang mesum terlebih tatapan orang-orang itu begitu mengintimidasi.
"Mamah, Papah, Luna..."
"Keluar kalian! Khususnya kamu Kalandra, jelaskan sama Mamah dan Papah apa yang dikatakan istrimu ini benar atau tidak!" titah Papah Regan.
Di ruang keluarga kini mereka berkumpul dengan aura kekecewaan dari Mamah dan Papah. Kalandra melirik Luna yang duduk di dekat Mamahnya. Kalandra paham, ini pasti kerjaan Luna yang mengadu pada kedua orang tuanya.
"Jelaskan!" titah Papah membuka suara setelah beberapa saat mereka semua terdiam.
Terlebih dengan Kemuning yang sejak tadi hanya diam menundukkan kepala. Dia takut hingga tak berani mengangkat kepalanya. Beruntung Kalandra tak membiarkannya sendirian. Terus berada di sampingnya dengan menggenggam tangannya begitu erat.
"Sebelum aku menjelaskan, apa yang Papah dan Mamah tau dari penjelasan Luna?"
Luna menoleh ke arah Kalandra dengan tatapan tajam, baru ditinggal semalam tak tidur bersama dia merasa Kalandra berubah. Seakan menaruh curiga dan tak mempercayai.
"Mas," tegur Luna tetapi dengan tegas Kalandra mengangkat tangannya meminta Luna untuk diam tanpa menoleh ke arah istri pertamanya. Kalandra kecewa karena Luna melangkah tanpa ijin darinya. Padahal tanpa Luna mengadu Kalandra tidak mungkin merahasiakan semaunya pada kedua orang tuanya.
"Luna pagi-pagi datang dan menangis, dia bilang kamu menikah lagi tanpa persetujuan darinya dan yang terlebih parahnya kini istri kedua kamu ternyata sudah hamil. Di mana otak kamu Kalandra?"
Ini kali pertama Papah Regantara berucap kasar pada putra sulungnya. Beliau kecewa setalah Luna datang dan mengabari jika putranya malakukan poligami tanpa persetujuan sang istri. Terlebih pagi-pagi beliau sudah melihat istrinya ikut menangis. Hal yang sangat beliau hindari tetapi karena putranya, istrinya menitikkan air mata.
"Hanya itu?" tanya Kalandra lagi dengan sikap datar tanpa ada wajah bersalah dan menyesal yang membuat Mamah Kaira tidak mengerti dengan sikap putranya.
Beliau melirik kemuning dan melihat perut wanita itu yang diduga adalah cucunya. Entah mengapa beliau yang berniat ingin marah pada Kemuning dan mungkin ingin berlaku kasar karena sebagai wanita beliau kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Kemuning yang diduga telah menggoda putranya. Mamah Kaira berpikir tak mungkin putranya bisa melangkah jauh tanpa ada pengaruh.
"Apa ada lagi yang kami tidak tau?"
"Pah, akan Kalandra jelaskan sejelas-jelasnya. Sebenarnya Kalandra juga tak ingin menyembunyikan pernikahan ini. Hanya saja Kalandra butuh waktu untuk menyelesaikan satu persatu." Kalandra melirik Luna yang menatap sengit dirinya. Seakan tak peduli karena Kalandra harus tetap menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya agar kedua orang tuanya tak salah paham.
"Kalandra sakit Mah, Pah, dan hanya dia wanita yang bisa membuat Kalandra sembuh dan bisa memiliki keturunan." Kalandra menoleh ke arah kemuining. Dia membisikkan sesuatu di telinga Kemuning dan manatapnya dengan lekat saat Kemuning mau mengangkat kepalanya.
Sikap lembut Kalandra pada Kemuning jelas membuat Luna cemburu. Bahkan Luna akan beranjak dari duduknya dan ingin mendekati Kalandra tatapi dengan cepat Mamah Kaira berusaha menghentikan.
"Sabar Sayang, kita dengarkan dulu penjelasan dari Kalandra. Turunkan emosi kamu ya!"
"Mereka malah asyik bermesraan tanpa pedulikan hati aku Mah! Mana aku terima begitu?" Luna begitu kesal tetapi melihat Mamah mertuanya memohon agar tak ada keributan mambuat Luna tak jadi mendekati suami dan madunya.
Kalandra kembali menoleh ke arah Papah Regan yang sejak tadi diam memperhatikan dan mencerna setiap ucapan putranya. Beliau mencoba memahami tentang apa masalah utama yang ada dalam rumah tangga putranya sedangkan yang dia tau Kalandra sangat mencintai Luna. Bahkan apapun yang Luna inginkan selalu diberikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
nasib Kalandra sama dgn opa Dimas.. punya istri heypersex.. yg doyan banget gelut dgn dosa...
2024-06-05
1
Muri
gimana ngak loyu kalau lunanya suka main dgn laki2 lain diluaran sana heh
2024-02-09
0
Irma Siregard
yahh si mpok luna,,berasa korban dah dia 🤭
2023-12-14
3