Bab 07. Ada Aku

Kemuning mengerutkan keningnya melihat Kalandra yang keluar ruangan tanpa pamit. Ada rasa curiga karena Andra terkesan menyembunyikan sesuatu. Namun, Kemuning marasa sungkan untuk bertanya sampai Andra masuk kembali, Kemuning hanya diam dengan tatapan datar.

Kalandra tersenyum dan kembali duduk di kursi samping ranjang. Dia meraih tangan Kemuning dan mengecupnya dengan lembut. Tentu hal itu membuat Kemuning merasa risih. Dia menarik tangannya dari genggaman tangan Kalandra lalu membuang muka menghindari tatapan pria itu.

"Jangan takut! Aku suamimu sekarang dan kita sudah halal. Setelah kondisimu membaik, kamu ikut aku pulang. Sekarang, proses pemakaman Ibumu sudah di urus oleh asisten aku. Jadi kamu tenang saja dan jangan banyak pikiran agar kondisimu cepat stabil!"

Kemuning segera menoleh ke arah Kalandra, dia enggan jika akan diajak pulang. Lebih nyaman tidur di rumah kontrakan dari pada harus tinggal dengan pria yang belum ia kenal baik.

"Tapi Pak, saya ingin pulang ke rumah kontrakan saja. Saya_"

"Kamu istriku sekarang, jadi harus ikut kemanapun aku pergi. Bukan malah ingin tinggal di rumah kontrakan sediri. Jangan lupa jika sekarang kita sudah ada ikatan yang sah, Kemuning!" tegas Kalandra.

Kemuning menghela nafas berat, secepat ini semua berubah. Takdir seperti mempermainkannya, bahkan Kemuning seakan tak ada daya untuk melangkah mengikuti inginnya.

.

.

.

Selama dua hari Kemuning di rawat di rumah sakit bersama Kalandra yang terus menemani. Pria itu bersikap baik dan bisa mengambil hati Kemuning meski wanita itu masih merasa canggung dan risih. Terlebih jika kembali terbayang akan malam kelam bersama pria itu, membuat rasa benci muncul tanpa bisa dihindarkan.

"Sekarang kita bersiap untuk pulang ya!" ucap Kalandra dengan lembut. Dia telah merelakan waktu dan pekerjaan selama dua hari ini demi bisa menjaga Kemuning. Kalandra tak ingin kembali kecolongan dengan kaburnya Kemuning yang nanti akan kembali membuatnya pusing kepala.

"Tapi, bolehkah mampir ke pemakaman Ibu saya?"

"Boleh, nanti kita mampir ke sana ya," jawab Kalandra dengan senyum mengembang. Hanya diminta mengantarkan ke pemakaman saja rasanya Kalandra begitu bahagia. Terlebih selama dua hari ini bisa terus berdekatan dan mengenal Kemuning lebih dekat, meskipun dia yang harus aktif memberikan pertanyaan.

Rasa mual muntah yang ia rasakan setiap pagi pun tak lagi membuatnya kepayahan. Mungkin karena bisa dekat dengan bayi yang ada di perut Kemuning. Tanpa sadar kontak batin antara ayah dan anak itu mulai terjalin.

Kalandra mengusap perut Kemuning sebelum membantunya turun dari ranjang. Sentuhan yang begitu terasa aneh sampai sekarang, padahal sejak dua hari di rumah sakit Kalandra selalu menyempatkan diri menyapa si jabang bayi dengan mengusap dan mengecup perut Kemuning. Namun, Kemuning sendiri selalu diam dengan perasaan yang entah. Keduanya melangkah bersama menuju lobby depan dengan Yuta yang sudah menunggu di mobil.

"Bagaimana, aman semuanya?" tanya Kalandra yang sudah dua hari tak bertemu dengan asistennya. Yuta ditugaskan mengurus perusahaan selama Kalandra di rumah sakit.

"Kantor aman, bini loe yang nggak aman!" celetuk Yuta dengan lirih setelah memastikan Kemuning masuk ke dalam mobil.

"Gue pamit keluar kota, kenapa dengan dia?"

"Nyariin, kayaknya dia nggak percaya karena dia tau loe nggak pergi bareng gue. Loe yakin mau bawa Kemuning ke rumah? Nggak takut Luna bakal ngamuk?" tanya Yuta memastikan, karena dia sendiri tidak yakin jika Luna akan menerima dengan lapang dada.

"Gue harap semua akan baik-baik saja." Kalandra segera masuk ke dalam mobil dengan pikiran gamang. Pasalnya, istri pertama dan kedua tidak tau jika mereka dimadu.

Sesampainya di halaman rumah, Kemuning nampak ragu untuk turun dari mobil. Dia menatap tak percaya jika akan tinggal di rumah sebesar ini. Semua serasa mimpi, terlebih dia tak membayangkan akan menjadi istri seorang pria kaya.

"Ayo turun! Kamu pasti lelah. Apa lagi tadi habis nangis di makam. Kasihan juga bayi kita," ajak Kalandra dengan lembut. Pria itu meraih tangan Kemuning dan mengajaknya turun dari mobil.

"Tapi Pak, saya tidak pantas tinggal di rumah sebesar ini. Apa tidak sebaiknya saya tinggal di rumah kontrakan saja. Bapak bisa kapanpun menjenguk saya dan singgah jika berkenan."

Andra menghela nafas berat, sungguh sulit sekali meyakinkan wanita hamil ini. Jika wanita lain mungkin sudah sangat senang dan bahagia diajak pulang ke rumah mewah. Namun, berbeda dengan Kemuning yang malah menolak keras, bahkan tak berniat turun dari dalam mobilnya.

"Hey, bagaimana mungkin aku membiarkan istri dan anakku tinggal di tempat seperti itu? Aku tau di sana lebih nyaman untukmu, tapi kamu sekarang telah menjadi istri dari seorang Kalandra. Bagaimana jika orang lain tau istri Kalandra tinggal terpisah dan di tempat yang tidak layak?"

Kemuning membuang muka ke arah jendela, sulit baginya menjadi istri orang kaya. Dia yang sejak dulu hidup sederhana harus dipaksa tinggal di rumah mewah. Kemuning tidak munafik, di dalam sana pasti dia akan merasa nyaman dengan fasilitas yang ada. Namun, Kemuning tidak yakin akan betah. Terlebih dia baru mengenal suaminya dan belum tau siapa saja yang ada di dalam sana. Ntah keluarga pria itu bisa menerima dirinya atau tidak.

"Bagaimana jika aku ditolak keluarga, Bapak?" lirih Kemuning.

"Ada aku," jawab Andra dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Gemas sekali dia dengan istri keduanya yang begitu sulit dibujuk.

Dengan berat hati Kemuning keluar dari mobil. Dia melangkah dengan tangan yang terus di genggam oleh Kalandra. Kemuning menatap rumah yang dari luar saja sudah seperti istana bahkan jarak dari parkiran mobil ke pintu utama cukup jauh.

Kemuning melangkah masuk setelan pria itu membukan pintu. Dia menatap takjub saat dirinya melihat ruangan luas dengan dinding berwarna putih bersih. Belum lagi perabot yang sudah pasti mahal. Kemuning menoleh ke arah Andra, dia nampak tidak percaya jika kini dia menjadi ratu di rumah ini. Semudah ini kah jalan hidupnya, bisa menjadi kaya raya dalam sekejap.

"Ini rumahku, rumah kamu juga. Rumah kita, semoga kamu betah ya," lirih Andra dengan menyunggingkan senyum hangat.

Di sana tampak sepi, hanya ada pelayan yang wira wiri. Kemuning kembali berjalan mengikuti langkah Andra, tetapi saat dia hendak melangkah menaiki tangga, suara pekikan seorang wanita dari lantai atas membuat Kemuning menghentikan langkahnya. Begitupun juga Andra yang diam menatap Luna dengan helaan nafas panjang.

"Siapa Dia, Mas?" tanya Luna dengan tatapan tajam, terlebih dia melihat tangan suaminya menggenggam erat tangan wanita lain. Luna melangkah menuruni tangga. Hatinya mendadak panas dan ingin sekali melepas kedua tangan yang terus saja mengunci membuat hatinya perih.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

bolehlah knalan sm bini tua tp hrusnya jgn dicampurin ya tkutnya bini muda yg lg hamil di banting sm bini tua 🤣🤣

2024-09-29

0

Goresan Receh

Goresan Receh

lg trend crt bini ada 2 serumah dn istri muda teraniaya sm istri tua
napa ga dicarikan rumah lain, cerita oh cerita, nikmati aja othor kn pinter ngaduk emosi pembaca

2024-09-01

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

gila si Andra.. masa iya kemuning di satin ama Luna.. bisa bonyok itu kemuning.. wah.. gak waras si Kalandra.. perempuan mana yg mau tinggal serumah dgn madu nya...

2024-06-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!