Bab 15. Urgent!

"Tidak perlu, Mah. Minum susu sudah membuat aku kenyang," tolak Kemuning yang tidak enak terlebih melihat tatapan Shafa yang berbeda.

"Tidak apa-apa, kasihan cucu Mamah pasti lapar. Mau makan apa Sayang?" tanya Mamah Kaira lagi dengan terus memperhatikan wajah Kemuning yang kebingungan.

"Mah, hamilnya sama Abang kenapa Aku yang harus mencarikan?" tanya Shafa yang akhirnya membuka suara. Cukup kasihan dengan Kemuning, tetapi geregetan dengan sikap Kakaknya yang menurutnya tak bertanggung jawab.

"Baru diminta pertolongan sekali, nanti jika ada Abangmu tidak mungkin kamu yang jalan. Kasihan kakak iparmu jika tidak makan. Bagaimana keponakan kamu mau tumbuh berkembang? Kamu tega?"

Kemuning merasa tidak enak tetapi dia begitu lapar sedangkan pria yang harusnya ada di saat seperti ini tak kunjung datang. Memilih menjauh dari Kalandra tetapi dia juga yang sulit karena anaknya yang mulai berulah.

Kemuning kembali ke kamar sedangkan Kashafa pergi membelikan makanan yang ia inginkan. Hanya nasi goreng seafood yang dijual di abang-abang gerobakan. Bukan makanan aneh-aneh hingga sulit mencarinya.

Teleponnya berdering dengan nomor baru yang tertera di layar ponselnya. Kemuning ragu ingin menerima tetapi ia takut jika ada hal penting dari seseorang.

"Halo Kemuning, ini aku Kalandra."

"Pak Andra, ada apa?" Kemuning cukup terkejut, dia tak menyangka jika yang menghubunginya adalah ayah dari bayi yang ia kandung.

"Maaf aku belum bisa kesana, Luna sakit dan aku harus menjaganya. Tapi kamu jangan khawatir, besok aku akan datang. Tunggu aku ya!"

"Iya," jawab Kemuning singkat. Entah mengapa mendengar alasan dari Kalandra membuatnya tersenyum getir. Kembali sadar posisi, hanya istri kedua yang dibutuhkan untuk masalah ranjang. Bukan wanita yang berkesan.

Setelah mematikan panggilan dari Andra, tak lama notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dari nomor baru lagi, Kemuning yang penasaran segera membukanya.

"Jangan harap aku akan membiarkan Mas Andra pergi menemuimu! Mimpimu terlalu jauh jika berharap dikejar oleh suamiku!"

Kemuning menghela nafas berat, dia segera meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Mencoba tak menghiraukan dan tak ada niat untuk membalas, hingga ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.

"Ini pesananmu, Kak!" Kashafa menyodorkan kantong kresek yang berisikan bungkusan nasi goreng keinginannya.

"Terimakasih, maaf telah merepotkanmu," lirih Kemuning yang kemudian meraih bungkusan tersebut. Lalu melangkah keluar kamar menuju dapur.

"Tunggu!"

Langkah Kemuning terhenti tanpa menoleh ke arah Kashafa. Entah apa yang akan Pria itu katakan, tetapi cukup membuat Kemuning kurang nyaman.

Kashafa memasukkan kedua tangannya di kantong celana dengan terus menatap Kemuning. Dia menarik nafas dalam sebelum meneruskan ucapannya. "Aku tidak tau bagaimana bisa kamu hamil anak Kakakku. Aku hanya ingin mengingatkan agar kamu lebih berhati-hati!"

Kemuning tak menjawab, begitupun dengan Kashafa yang kembali diam. Keduanya bergelut dengan pemikiran masing-masing. Hingga Shafa yang kembali membuka suara lalu masuk ke dalam kamarnya.

"Jika butuh sesuatu jangan sungkan, Kak! InsyaAllah jika aku bisa akan aku lakukan. Terutama untuk calon keponakanku."

Setelah pembicaraan malam itu dengan Kashafa keduanya tak lagi bertemu. Entah kemana adik iparnya itu berada. Begitupun dengan Kalandra yang tak kunjung datang. Sudah hampir seminggu pria itu tak ada kabar. Cukup membuat Kemuning bertanya-tanya, tetapi berusaha untuk melupakan, toh sejak awal dirinya memang hidup tanpa kehadiran Kalandra. Mencoba menyibukkan diri dengan membantu Mamah Kaira.

...****************...

"Shiitt!"

Kalandra mengumpat kesal setelah dibuat pusing oleh Luna yang selalu mengancam ingin bunuh diri jika ia nekat akan pergi menemui Kemuning. Bahkan wanita itu sempat ingin melukai tangannya dengan pisau dapur membuat Kalandra tak mampu berkutik.

"Ke rumah gue, Yut!"

"Ngapain gue malam-malam ke rumah loe?"

"Gue tunggu lima belas menit, kalau sampai loe nggak datang. Gue pastiin gaji loe bulan ini nggak keluar, dan satu lagi. Peternakan kambing bokap loe gue lelang kalau sampe benar-benar loe nggak datang."

"Bang... Akh! Oke-oke gue otw. Tunggu aja! Nggak sampai lima belas menit gue sampai di rumah loe. Awas loe kalau sampai bikin Bapak gue nangis gara-gara kandang kambing dan seisi-isinya di jual!"

"Makanya cepat datang, urgent!"

Panggilan dimatikan kemudian Kalandra kembali ke kamar untuk melihat Luna yang tadi sedang di dalam kamar mandi. Malam ini ia harus bisa pulang ke rumah Mamahnya dan menemui Kemuning. Dia sudah tak sabar bahkan sangat merindukan Kemuning. Selama beberapa hari ini dia juga kembali mengalami mual muntah setiap pagi dan sangat menjaga jarak dengan Luna.

"Mas, mau bersih-bersih? Malam ini jadi kan? Aku kangen," ucap Luna dengan manja. Bahkan dia sudah menubruk Kalandra dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.

"Hhmm, tapi aku lagi ada kerjaan. Sebentar lagi Yuta datang. Kamu istirahat dulu nanti aku bangunin kalau sudah selesai." Kalandra melepaskan tangan Luna lalu keluar kamar meninggalkan Luna yang cemberut.

Luna semakin kesal karena sejak Kemuning pergi ke rumah mertuanya sampai sekarang, Kalandra tak mau diajak mesra-mesraan. Padahal dia tidak mengapa jika suaminya tidak bisa memuaskan dengan maksimal, setidaknya melakukan seperti biasanya saja sudah membuat dia senang.

"Mau ngapain loe nyuruh gue kesini?"

"Gue mau malam ini loe jadi scurity di rumah gue," jawab Kalandra santai dengan suara lirih tetapi Yuta malah berteriak tidak terima.

"Apa? Nggak-nggak!"

"Berisik loe nanti Luna dengar! Mulut loe minta gue kasih kembang setaman biar bisa kalem kayak kuburan?" sewot Kalandra, dia menoleh ke arah kamarnya. Beruntung Luna menutupnya dengan rapat.

"Maksud loe apaan nyuruh gue jadi scurity dadakan? Semena-mena loe lama-lama. Males gue main sama loe, nyari teman baru aja lah!" Yuta ingin melangkah keluar rumah tetapi Kalandra buru-buru menarik kerahnya.

"Loe gue mintain tolong sekali aja susah banget sich? Ini demi kesejahteraan si Joni. Loe nggak kasihan apa sama gue? Gue mau nemuin Kemuning, Yut. Anjir Gue nggak tahan, dikamar mandi si Joni minta jatah, giliran ketemu Luna dia mendadak pingsan. Untung nggak stroke. Ayolah, sekali aja! Kalau berhasil besok kita ulangi lagi."

Yuta menatap garang wajah Kalandra kemudian menoleh ke arah celana sahabatnya. Dia melihat pangkal paha Kalandra yang terlihat sesak lalu kembali menatap wajah Kalandra yang memelas.

"Kasihan juga, terus gimana kalau si Luna ngamuk terus mau bunuh diri lagi?"

"Itu urusan loe, pokoknya kalau si Joni malam ini berhasil mengeluarkan bisanya. Kambing bapak loe gue tambahin selusin."

"Oke deal!"

Kalandra menggelengkan kepalanya, sebegitu sayangnya Yuta dengan Bapaknya hingga begitu semangat urusan perkambingan.

Kalandra segera pergi dari sana, kebetulan dia sudah menyiapkan kunci mobil dan tadi sengaja memarkirkan mobilnya di lahan kosong dekat rumah dengan memberi alasan pada Luna jika mobilnya sedang ada di bengkel.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

berarti bener si kemuning cuma pemuas ranjang doang dong perhatian dn cintamu hanya utk luna 😭

2024-09-29

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

risiko punya istri dua tp tetep si Joni kedinginan.. apes bener lo, Ndra... lagian kenapa gak pernah selidiki kelakuan Luna di luar biar cepat ketahuan belangnya si perempuan..

2024-06-05

0

Maya Ratnasari

Maya Ratnasari

ya Allah ngakak gw

2024-05-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!