Bab 14. Hati-hati Turunnya

Melihat perdebatan Kalandra dengan Luna, Mamah Kaira segera mengajak menantunya untuk pulang ke rumah. Mereka meninggalkan keduanya begitu saja. Membiarkan Kalandra untuk menyelesaikan masalah dengan memikirkan dengan baik hati keduanya.

"Sementara kamu tinggal di sini dulu tidak apa-apa kan, Sayang? Mamah tidak mau kamu tinggal di rumah kontrakan sendirian. Seadanya ya Nak," ucap Mamah Kaira dengan lembut setelah mereka sampai di rumah, sedangkan Papah Regan sudah melesat lebih dulu masuk ke dalam kamar hendak sholat Zuhur.

"Ini sudah lebih dari cukup Mah. Terimakasih mau menerimaku dengan baik."

"Jelas, tanpa kamu menikah dengan Kalandra pun Mamah sudah menganggapmu sebagai anak. Malah sebelumya Mamah berniat ingin meminta kamu untuk menjadi istri Khasafa karena Kalandra yang sejak awal tidak mau dijodohkan, tetapi karena Mamah tidak bisa menemukan kamu dan keluarga kamu. Kami mengurungkan niat itu."

Kemuning terdiam, dia tidak tau menahu masalah itu dan sama sekali tidak ingat apa-apa tentang Kalandra dan Khasafa. Yang ia tau, dirinya hanya memiliki Ibu dan Ayah tanpa keluarga lainnya.

"Ini kamar kamu, istirahatlah Nak! Mamah mau sholat dulu keburu habis waktunya. Semoga kamu betah ya! Sebenarnya ini kamar Kalandra, tapi karena kamu telah menjadi istrinya. Kamar ini menjadi kamar kamu juga."

Kemuning menatap kamar yang terkesan gelap. Warna abu dan hitam mendominasi di sana. Namun, begitu rapi. Aroma tubuh Kalandra pun masih tertinggal di sana. Sejenak merasa nyaman. Apa mungkin secepat ini dia betah? Segitu pro nya bayi itu dengan ayahnya.

Kemuning masuk dan tidak lupa menutup pintu kamar, melangkah mendekati ranjang lalu terduduk di sana.

Figura yang menampilkan sepasang pengantin dengan ukuran besar menarik atensinya. Dia melihat begitu bahagia wajah sepasang suami-isteri itu. Namun sejak kedatangannya, semua berubah. Gurat kebahagiaan di wajah mereka tak ia temukan. Bahkan yang ia lihat hanya kebencian di mata Luna.

"Maaf, tapi ini bukan mauku. Takdir yang membawaku mendekat pada kalian dan Mas Andra yang membuatku jatuh semakin dalam."

Kemuning segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Menggelar sajadah dan tak lupa memohon ampun di ujung doa. Dia pasrah dengan apa yang terjadi, tak lupa mendoakan pria yang telah menjadi suaminya. Biarkan perhatian dan pengabdiannya ia tumpahkan lewat doa. Berharap yang baik-baik buat kelangsungan hidup mereka.

"Eh kamu siapa? Kok keluar dari kamar Abang? Bang Kalandra nya mana?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul saat Kemuning baru saja keluar kamar. Dia cukup terkejut dengan munculnya pria itu tetapi melihat wajahnya yang mirip dengan Kalandra membuatnya menebak-nebak jika itu adik dari suaminya.

"Saya... "

"Ada apa Shaf?" tanya Papah Regan yang kebetulan melintas. Beliau baru saja keluar dari tempat olahraga yang ada di lantai tersebut. Berhenti saat melihat Kemuning dan putra keduanya terlibat pembicaraan.

"Dia siapa, Pah? Kok keluar dari kamar Abang?"

"Dia istri dari Abangmu," sahut Papah Regan yang justru membuat Kashafa menaikkan kedua alisnya. Dia kembali memperhatikan Kemuning dari atas sampai bawah. "Cantik" Satu kata sebagai kesan pertama tetapi cukup penasaran dengan maksud dari Papahnya. Terlebih melihat perut Kemuning yang terlihat membuncit.

Sementara Kemuning yang mendapat tatapan seperti itu dari Kashafa menjadi risih hingga enggan melihatnya dan memilih menundukkan kepala.

"Jangan melihatnya seperti itu! Ipar itu kematian, ingat itu! Dia istri kedua Abangmu. Ayo masuk kamar! Jaga sikap Shafa jangan membuat Abangmu marah!" ucap Papah Regan mengingatkan tetapi Kashafa cukup terkejut dengan status Kemuning yang menjadi istri kedua.

Mantap betul Kakaknya yang menikah lagi sedangkan dia sekali saja belum pernah setelah kejadian yang membuat hubungannya dengan sang Kakak memburuk hingga sekarang.

"Kemuning kamu mau kemana?" tanya Papah Regan pada menantu barunya.

"Mau ke dapur ambil minum, Pah."

"Ada Mamah di bawah, jika lapar makanlah! Jangan ditunda-tunda!" ucap Papah Regan yang kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan keduanya yang kemudian diikuti oleh Kemuning yang melangkah di belakang beliau.

"Hati-hati turunnya!"

Langkah Kemuning terhenti saat mendengar ucapan adik iparnya. Sekilas ia menoleh ke arah Kashafa yang masih diam memperhatikan lalu menganggukkan kepala dan kembali melangkah menuruni anak tangga.

"Bisa banget loe, Bang. Satu aja nggak bisa muasin malah nambah lagi. Tapi, itu cewek sedang hamil. Apa mungkin itu anak Bang Andra?"

Diam-diam Kashafa tau penyakit Abangnya. Hanya saja dia diam dan tidak memberitahukan ke orang tuanya. Membiarkan masalah itu menjadi urusan pribadi Kakaknya meski ia cukup terganggu sebelumnya.

...****************...

"Kemuning, makan Nak! Jangan melamun saja! Apa kamu merindukan Andra?" tanya Mamah Kaira saat mereka sedang makan malam.

Papah Regan dan Kashafa pun ikut memperhatikan Kemuning yang terlihat tidak berselera. Entah apa yang wanita hamil itu pikirkan hingga sejak tadi hanya diam dengan sendok dan garpu yang ada dalam genggamannya.

"Oh tidak Mah, ini Kemuning mau makan."

Perlahan Kemuning mencoba untuk menyuap dan melahap makan yang sejak tadi membuatnya tak berselera. Entah mengapa dia mendadak ingin makan makanan lain, hingga ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang hendak kembali keluar.

Buru-buru Kemuning mundur dan melangkah menuju dapur. Dia memuntahkan kembali makanannya.

Melihat Kemuning yang kembali memuntahkan makanannya membuat Mamah Kaira buru-buru beranjak dan mendekati menantunya. Memijit tengkuk Kemuning hingga bumil itu merasa lebih baik.

"Maaf Mah mengganggu makan malam Mamah dan Papah. Kemuning mual dan .."

"Sudah tidak apa-apa, Nak! Mamah mengerti, Papah pun tidak mungkin marah. Ayo kembali dan minum susunya saja jika tidak mau makan!"

Kemuning jadi tidak enak dengan keluarga suaminya. Dia kembali dengan wajah yang pucat membuat Papah Regan dan Kashafa menatap iba. Kasian karena disaat seperti ini suaminya tidak ada.

"Memang Abang kemana, Mah? Kenapa membiarkan istrinya disini sementara dia asyik dengan istri pertamanya?"

"Shafa!"

Shafa terdiam saat mendapat teguran dari sang Papah. Dia menghela nafas berat dan kembali melahap makanannya.

"Abangmu ada, sementara kakak iparmu di sini karena ingin dekat dengan Mamah," ucap Mamah menjelaskan.

Jawaban yang menurut Shafa terlalu memaksa, sedangkan dia bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Shafa yakin ada sesuatu yang ditutupi. Lagi pula dia tidak tau kapan Abangnya menikah lagi dan kebetulan juga Shafa baru pulang dari luar kota, jadi dia tidak tau jika Luna datang pagi tadi.

Kemuning terdiam, dia meminum susunya untuk pengganti makan. Memilih tetap duduk di sana sebelum semuanya selesai dan meninggalkan meja makan.

"Kemuning mau sesuatu? Biar Shafa nanti yang belikan."

Shafa terkejut mendengar ucapan Mamahnya. Dia melirik kemuning yang juga menoleh ke arahnya.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

adik berkakak salah faham krn apa ya 🤔 eh kebalik ya 🤣🤣

2024-09-29

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Shafa dan Andra pernah salah faham.. krn apa.. Luna kah.. 🤔🤔

2024-06-05

0

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

Kejadian apa?

2024-04-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!