19

Miranti dan Mirna duduk bersela di hadapan Pak Cik. Mereka hanya dibatasi oleh sebuah meja yang di atasnya terdapat berbagai macam pernak-pernik perdukunan. Asap kemenyan dibiarkan saja menari-nari dari sebuah cerana yang bagian dalamnya sudah berwarna hitam, karena terkena asap pembakaran. Sepertinya cerana itu sudah dipakai bertahun-tahun jika dilihat dari kondisinya.

Di antara Miranti dan Mirna, ada Fatur yang duduk bersimpuh. Hari itu dia cukup tenang, tetapi terlihat sangat berbeda dari biasanya.

Mata Fatur terbelalak ke atas, sesekali mulutnya mengoceh, lalu tersenyum sendiri.

Miranti dan Mirna sangat khawatir dengan kondisi Fatur. Karena itulah dia mendatangi Pak Cik.

"Aku sudah melakukan semedi," ujar Pak Cik dengan suara beratnya.

"Apa hasilnya?" tanya Mirna penasaran.

"Anak baru itu. Dia bisa membahayakan kita." Pak Cik mengarah pada Amanda.

"Amanda?" tanya Miranti tidak menduga.

"Ya," jawab Pak Cik.

Miranti melirik ke Mirna. Tidak paham dengan maksud Pak Cik.

"Ada dengan dia?" tanya Mirna sedikit membelalakkan mata.

"Energinya yang telah membangunkan ketiga arwah itu," terang Pak Cik dengan geram. Kedua bibirnya dikatup, dan dadanya naik turun menahan amarah. Pak Cik merasa Amanda telah memperumit keadaan.

"Apakah gadis itu memiliki ilmu?" tanya Mirna mulai gusar. Tidak menyangka kalau sahabat anaknya yang dianggap polos ternyata adalah musuh yang akan menghancurkan keluarganya.

"Tidak. Dia tidak memiliki ilmu. Tapi ada salah satu buyutnya yang memiliki ilmu yang sangat hebat, dan sepertinya tanpa disadari, dia mewarisi sebuah energi magis dari buyutnya tersebut." Pak Cik berhenti sejenak, dia menambahkan beberapa butir kemenyan ke dalam cerana, karena asapnya sudah mulai berkurang.

Suara desisan terdengar jelas, dan asap kembali mengepul disertai aroma yang khas kemenyan.

Miranti menutup hidung dengan selembar tisu, karena merasa tidak nyaman.

"Energi gadis itu sangat kuat, dan seperti sebuah magnet, energi itu bersinergi dengan energi ruh yang kita ikat. Karena itulah ketiga arwah itu menjadi kuat, dan terlepas dari ikatan. Sekarang, ketiga arwah itu ingin membalas dendam." Kali ini suara Pak Cik agak bergetar, karena sangat paham akan bahaya yang dihadapi.

Mirna dan Miranti mendadak ketakutan. Ada rasa menyesal telah mempekerjakan Amanda di tempatnya, tapi semua sudah terlanjur.

"Apa sebaiknya kupecat saja dia?" tanya Miranti dengan suara bergetar.

"Percuma. Ketiga arwah itu sudah terlanjur lepas dan menjadi kuat," ujar Pak Cik mematahkan ucapan Miranti.

"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Miranti cemas. Tangannya *******-***** tisu yang tadi digunakan sebagai penutup hidung. Kecemasan telah membuat Miranti lupa pada aroma kemenyan yang tadi menganggunya.

"Kita butuh tumbal satu lagi," ujar Pak Cik mengejutkan.

DEG!!!

Jantung Miranti seperti mau lepas. Tubuhnya gemetar membayangkan akan mengorbankan satu manusia lagi. Sebelumnya, Miranti berharap tidak akan ada lagi tumbal setelah mengorbankan Putri, Fatur, suaminya serta Miranda, saudara kembarnya. Bahkan dirinya sendiri pun telah dikorbankan demi menjalankan ritual untuk membangun kekayaan dari restoran Dapur Miranti.

"A-apa tidak ada cara lain?" tanya Mirna dengan wajah memelas.

Pak Cik menggeleng. "Itu yang dimintanya. Jika tidak dipenuhi...." Pak Cik tidak berani melanjutkan. Dia menggigit kedua bibir, sambil menatap Mirna dan Miranti bergantian.

"Apa yang akan terjadi?" desak Miranti dengan tatapan lurus seolah menusuk jantung Pak Cik. Pak Cik merasa gugup ditatap seperti itu.

"Usahamu akan hancur, dan...." Pak Cik enggan untuk meneruskan.

"Dan apa Pak Cik? Ayo cepat katakan!" Miranti mulai membentak Pak Cik, seraya menggeser duduknya mendekati meja.

Pak Cik mulai was-was dengan sikap Miranti. Dia sangat paham bagaimana tabiat keponakannya itu. Miranti tidak akan segan-segan bertindak ekstrim jika sudah marah.

Meskipun Pak Cik adalah seorang dukun, tetapi dia tidak boleh menyakiti Miranti, karena itulah syarat dari ilmu yang dituntutnya. Yaitu, tidak boleh menyakiti anggota keluarga, dan Miranti sangat paham dengan itu.

Mirna berusaha menenangkan Miranti dengan ikut menggeser tubuhnya ke depan agar bisa meraih tubuh Miranti.

"Dan seluruh anggota keluargamu bisa menjadi gila, atau bahkan meninggal," jawab Pak Cik mengejutkan.

Miranti dan Mirna terperangah mendengarnya. Air mata Miranti jatuh dengan sendirinya, dadanya terasa sangat sesak dan merasakan kehampaan. Melihat itu, Mirna menggenggam tangan Miranti. Di tengah ketakutan yang mengecam hatinya, Mirna masih berupaya untuk menguatkan putrinya.

"Kenapa dulu Pak Cik tidak mengatakan hal ini?" tanya Miranti pasrah, tatapannya kosong ke depan. Tubuhnya seperti melayang dan tak berdaya. Ada sekelebat sesal dalam hatinya, tapi semua sudah terlanjur.

Pak Cik tidak mampu menjawab pertanyaan Miranti, karena dia sendiri pun tidak mengetahui hal itu. Dia baru saja diberi tahu setelah melakukan semedi.

Mereka bertiga didera ketakutan yang luar biasa. Tidak ada pilihan selain harus mengikuti persyaratan selanjutnya.

☕☕☕

Terpopuler

Comments

Dewi Andarini

Dewi Andarini

Selanjutnya... Amanda ?

2025-01-29

0

Pak muh Hadi

Pak muh Hadi

makin menegangkan,, lanjut thor

2024-03-10

0

MasWan

MasWan

tipu daya iblis selalu menjebak mangsanya agar tak bisa lepas dari belenggu nya dan membawanya kekal bersama

2024-02-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!