"Amanda!" Terdengar suara seorang perempuan meneriaki nama Amanda.
Amanda langsung menoleh pada suara yang tidak asing di telinganya. Amanda serta merta berdiri dan setengah berlari ke arah perempuan itu.
"Miranti. Ya ampun, akhirnya kita bisa bertemu lagi."
Kedua orang sahabat lama itu saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
"Kamu semakin cantik," puji Miranti.
"Ah biasa saja. Kamu hebat, sudah sukses sekarang." Amanda balik memuji perempuan yang bertubuh tambun.
Miranti mengajak Amanda mencari tempat duduk yang lebih privat, tepatnya di salah satu pondok yang terapung di atas laut.
"Luar biasa kamu, Mir. Aku mau dong diajarin bikin bisnis," puji Amanda tak henti-henti.
"Ah, hanya kebetulan saja. Aku tidak sehebat kamu yang pernah merasakan jadi menejer di perusahaan besar di Jakarta." Miranti merendah.
"Kamu kok tidak mengabari aku kalau pulang? Bahkan datang ke sini pun dadakan tanpa ngasih kabar," lanjut Miranti.
Amanda tersenyum. "Surprise," jawabnya dengan ekspresi menggoda. Lalu mereka tertawa.
Sambil menunggu hidangan datang, mereka tak henti bercerita tentang kisah hidup masing-masing. Hingga Amanda menceritakan tentang kondisi terkini.
Miranti bahkan tak henti tertawa ketika mendengar cerita Amanda yang ditaksir berat oleh atasan yang berakhir dengan pemecatan dirinya.
"Ternyata sejak dulu sampai sekarang kamu masih terus diincar para lelaki, ya?" seloroh Miranti.
"Aaah, tapi yang mengincar ga pernah ada yang benar," balas Amanda sambil memasang wajah cemberut.
☕☕☕
Keesokan paginya, Amanda sibuk mempersiapkan beberapa berkas sebagai kelengkapan surat lamaran untuk diserahkan pada Miranti.
Tawaran kerja yang diberikan Miranti tidak dapat ditolaknya, karena desakan perekonomian keluarga.
Sebenarnya ada rasa berat di hati Amanda harus bekerja di sebuah restoran yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kantor tempat bekerjanya dulu. Tapi, Amanda sedang tidak punya pilihan. Sedangkan jika harus memulai lagi usaha katering orang tuanya, membutuhkan modal yang besar. Keluarga sedang tidak ada uang untuk itu. Mereka sudah bangkrut.
Sekarang, Amanda harus menerima tawaran Miranti, sambil berpikir untuk mencari jalan yang lain.
Paling tidak, sampai salah satu aset keluarga terjual, dan bisa digunakan untuk modal usaha.
"Kamu mau ke mana?" tanya Marnita ketika melihat putrinya sudah rapi dan bersiap akan pergi.
Amanda menghampiri ibunya yang duduk di depan tv bersama nenek.
"Aku mau kerja, Bu." Amanda menjawab singkat.
Marnita tercengang mendengar jawaban Amanda. "Kerja? Di mana?" tanya Marnita penasaran.
"Di tempat Miranti," jawab Amanda masih sangat singkat.
Amanda tidak ingin mendengar ocehan ibunya di pagi hari yang akan bisa merusak moodnya.
"Oh." Marnita langsung berdiri menghampiri Amanda.
"Ck ck ck. Seorang Amanda dengan pendidikan tinggi dari universitas terkemuka di negeri ini, tiba-tiba harus menjadi bawahan temannya sendiri, yang kuliahnya saja tidak beres." Marnita sungguh gusar mendengar berita yang baru saja diterimanya.
Meskipun sudah hidup morat-marit ternyata jiwa sombongnya belum hilang.
Amanda menarik napas dalam dan mengembuskan dengan kasar. "Aku sedang tidak ingin berdebat, Bu. Aku pergi dulu."
Amanda bergegas menuju garasi, ingin segera meninggalkan rumah yang mulai membuatnya tidak nyaman.
☕☕☕
Miranti menjelaskan beberapa pokok pekerjaan yang akan ditangani oleh Amanda. Miranti memberikan posisi menejer pada sahabatnya tersebut, dengan gaji hanya sebesar empat juta rupiah.
Sebenarnya jumlah tersebut terlalu kecil bagi seorang Amanda. Tapi lagi-lagi dia harus menerima.
Sekitar pukul 10 pagi, tamu mulai berdatangan dan memuncak di saat jam makan siang. Para pelayan tampak sangat kerepotan, hingga Amanda terpaksa harus turun tangan.
Untuk pertama kalinya Amanda melakukan pekerjaan melayani orang, tapi dia berusaha melakukan dengan sangat profesional.
Akhirnya, waktu istirahat tiba juga. Pukul 2 siang pengunjung mulai sepi, meskipun masih ada beberapa tamu yang masih duduk untuk menikmati minuman sambil mendengarkan musik.
Amanda mengambil kesempatan untuk makan siang, bersama beberapa karyawan. Mereka terpaksa harus bergantian dan agak terburu-buru.
Ternyata ada ruangan makan khusus untuk karyawan yang telah disediakan. Amanda bergabung dengan beberapa karyawan yang terlihat sedang makan siang.
"Aku ikut duduk di sini, ya." Amanda menyapa dengan senyum ramah.
"Iya, kak." Ketiga karyawan itu menjawab nyaris serempak.
Di sela makan, Amanda menyempatkan diri untuk berkenalan, sebelum akhirnya Amanda harus ditinggalkan sendirian, karena karyawan lain juga akan makan.
Selang beberapa menit sepeninggal ketiga karyawan tadi, seorang perempuan masuk ke ruang makan, dan duduk di meja yang sama, tepatnya berhadapan dengan Amanda.
Perempuan itu tidak menyapa sedikit pun, dia hanya menunduk sambil fokus pada piring makannya.
Amanda memperhatikan dengan seksama, tetapi matanya tidak bisa melihat dengan jelas, karena wajah perempuan itu tertutup oleh rambut yang terurai ke depan.
Namun kalau dilihat dari postur dan pakaiannya, Amanda yakin kalau perempuan itu masih muda.
"Kamu namanya siapa?" Amanda mencoba untuk membuka pembicaraan.
Sayangnya orang yang ditanya tidak menjawab. Tetap fokus dengan makanannya.
"Apa dia tuli?" pikir Amanda.
Amanda mencoba sekali lagi. "Maaf, kamu namanya siapa?"
Tapi lagi-lagi perempuan itu bergeming.
Amanda mulai jengkel dengan sikap perempuan itu. Sebagai menejer dia merasa tidak dihargai oleh sikap seperti itu. Amanda berdiri dengan kesal hendak memanggil salah satu karyawan. Dia ingin menanyakan perihal perempuan itu.
Ketika hendak meraih gagang pintu, ternyata pintu sudah dibuka lebih dulu oleh dua orang karyawan lelaki.
"Eh, kak. Sudah selesai makannya?" sapa salah satunya dengan sikap penuh hormat.
"Iya sudah. Oiya kalian kenal dengan dia?" Amanda mengarahkan telunjuk ke arah mejanya tadi, tanpa menoleh dikarenakan masih kesal terhadap orang yang masih ada di sana.
"Ng, siapa kak?" tanya salah satu karyawan tersebut.
Dengan gerakan sedikit kasar dikarenakan kekesalan, Amanda memutar badannya menghadap ke arah meja.
"Itu, di sana!" ujarnya dengan nada ketus.
Akan tetapi, mata Amanda terbelalak karena sudah tidak menemukan siapapun di tempat yang dia maksud.
"Lho, dia sudah pergi? Tanpa pamit?" Amanda semakin kesal.
Kedua laki-laki yang masih berdiri di dekat Amanda saling berpandangan dengan raut muka yang kebingungan.
"Wah, kak. Jangan nakut-nakutin dong," ujar salah satu karyawan itu.
Amanda mengalihkan pandangannya pada kedua laki-laki itu.
"Nakut-nakutin? Engga?" sergah Amanda.
"Tadi aku berdua dengan seorang perempuan di situ." Amanda kembali menunjuk ke arah meja. "Tapi kok dia pergi begitu saja?" Amanda tampak kebingungan.
"Kak, kalau ada yang mau keluar masuk tempat ini, musti lewat pintu ini. Kan kita dari tadi berdiri di sini." Salah seorang karyawan itu kembali menjelaskan.
Kening Amanda mulai berkerut, dia memutar tubuhnya beberapa kali seperti mencari sesuatu.
"Tapi bener, aku tadi duduk berdua di situ." Amanda berusaha meyakinkan keduanya. "Itu lihat, piringnya! Masih di situ kan?" Amanda sekarang merasa menang karena dia punya barang bukti.
Kedua karyawan itu mulai ketakutan, wajahnya tampak tegang.
"Kak, kami makan di halaman belakang saja, ya." Keduanya berpamitan pada Amanda dan bergegas pergi.
"Lho kok?" seru Amanda.
Amanda pun mulai bergidik, ingin ikut keluar bersama kedua karyawan itu, tetapi teringat pada piringnya yang masih ada di meja.
Dengan jantung berdebar, Amanda memaksakan langkah menuju meja.
Tangannya buru-buru meraih piring, dan ketika membalikkan badan Amanda terlonjak kaget, karena perempuan itu telah berdiri tepat di hadapannya.
Amanda ingin menjerit, tapi mulutnya terkunci. Tubuhnya menggigil ketakutan. Matanya dapat melihat dengan jelas perempuan yang memakai seragam lengkap karyawan, namun wajahnya tertutup rambut yang terurai ke depan. Wajah itu masih menunduk seperti tadi.
"Tolong aku," rintih perempuan itu setengah berbisik.
Tiba-tiba pintu terbuka dan beberapa orang karyawan masuk bersama dengan dua orang karyawan laki-laki yang tadi meninggalkan Amanda.
Seketika tubuh Amanda merasa lunglai, piring di tangannya terlepas bersamaan dengan ambruknya tubuh Amanda di lantai.
☕☕☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ
baru mulai kerja sdh ada permintaan tolong dari hantu
2025-03-28
0
Dewi Andarini
cerita dimulai
2025-01-28
0
Dewi Murnisembiring
mgkn soalnya dia mengunakan penglaris lewat jalur tumbal , kalo penglaris lewat online itu nami next Carlos
2024-05-01
1